LEMBU

LEMBU
Chapter 22


__ADS_3

"Kita sudah sampai, selamat datang di rumah saya!" ucap Dokter Arman, rupanya kini mereka sudah sampai dikediaman Dokter Arman.


Dokter Arman meminta kepada Bu Maya untuk menjulurkan tangannya, lalu kemudian Dokter Arman membuka borgol yang membelenggu tangan Bu Maya. Kini Bu Maya bisa bergerak bebas kembali.


Dokter Arman keluar dari mobil lalu membukakan pintu mobil untuk Bu Maya keluar. Mata Bu Maya memandang sekitar dengan mata yang liar. Ia merasa bahagia karena sudah terbebas dari rumah sakit jiwa yang membuatnya merasa terpenjara.


"Anda pasti sangat senang sekali bukan karena kini anda bisa kembali menghirup udara segar?" ucap Dokter Arman.


Bu Maya hanya memberikan senyum simpul pertanda kalau apa yang dikatakan oleh Dokter Arman adalah benar adanya. Walaupun hanya baru 2 hari mendekam di rumah sakit jiwa, Bu Maya merasa sudah sangat lama berada disana. Kini ia telah merasakan kembali nikmatnya bernafas di alam bebas. Namun, ia tetap tidak lupa kalau ada keluarga yang harus ia selamatkan dari jebakan yang dibuat oleh suaminya. Sepintas ia teringat dengan ucapan arwah putrinya saat masih di rumah sakit jiwa.


"Ayo! Sebaiknya anda masuk ke dalam rumah saya, ada banyak hidangan sehat yang bisa kita makan bersama!" ajak Doktet Arman, Bu Maya pun mengikuti Dokter Arman dari belakang.


Didalam rumah Dokter Arman, ia memanggil Bu Minah yang menjadi asisten rumah tangga di rumah Dokter Arman. Dokter Arman meminta kepada Bu Minah untuk mempersiapkan menu sarapan siang, ia juga memperkenalkan pasien barunya yaitu Bu Maya kepada Bu Minah. Setelah itu Bu Minah pun bergegas menuju dapur untuk mempersiapkan hidangan untuk dibawa ke meja ruang makan.


Dokter Arman mengajak Bu Maya menuju meja makan. Saat sampai di ruang makan, rupanya bukan hanya Bu Maya saja pasien privat yang menjalani perawatan khusus dari Dokter Arman. Akan tetapi, ada 5 orang pasien yang sudah duduk di kursi meja makan. Tiga pasien laki-laki dan 2 pasien perempuan, kelimanya menyambut Bu Maya dengan ramah. Bu Maya memperkenalkan diri kepada kelim pasien yang lainnya. Ketiga pasien laki-laki itu bernama, Pak Yadi, Pak Agus dan Mas Bambang. Kemudian pasien perempuannya ada dua diantaranya bernama, Bu Mirna yang usianya terlihat lebih tua dari Bu Maya dan Mbak Nina adalah pasien yang paling muda, usianya sekitar 30 tahunan.


Dokter Arman dan Bu Maya ikut duduk bersama kelima pasien di kursi meja makan, kemudian Bu Minah mengantarkan hidangan dan menaruhnya di meja makan. Setelah seluruh hidangan siap untuk disantap, lanjut Bu Minah pun ikut makan bersama dengan yang lainnya. Dokter Arman sudah menganggap semua orang yang ada dirumah adalah keluarga, maka dari itu Bu Minah pun harus ikut makan bersama.


Makan bersama dimulai dengan sesi membaca doa bersama. Semuanya berdoa dengan khidmat. Dokter Arman, Bu Maya, Bu Minah, Pak Yadi dan Mas Bambang berdoa sesuai keyakinan mereka yaitu beragama muslim. Sementara yang lainnya berdoa sesuai keyakinan mereka yaitu kristen protestan. Sungguh luar biasa Dokter Arman, ia mampu mengayomi pasien-pasien yang mengalami gangguan jiwa dengan baik dirumahnya.

__ADS_1


#### #### #### #### #### #### ####


Sementara itu di tempat lain, Ayah, Mamah dan Tirta kini melanjutkan perjalanan menuju alamat rumah Dokter Arman yang mereka dapatkan dari suster di rumah sakit jiwa. Seperti biasa, mereka melakukan perjalanan dengan mengendarai sepeda motor Moge milik Ayah. Di zaman yang serba modern ini untuk menemukan alamat rumah seseorang tidaklah begitu sulit, hanya tinggal mencatat alamatnya di aplikasi peta, maka setelah itu kita tinggal mengikuti rute jalan yang di arahkan oleh aplikasi peta tersebut. Ayah menggunakan aplikasi peta itu untuk bisa menemukan lokasi rumah Dokter Arman tanpa perlu repot bertanya-tanya pada orang di jalanan.


Diliriknya sesekali aplikasi maps di ponsel Ayah yang ia taruh di depan menggunakan holder khusus smartphone. Rupanya perjalanan tinggal beberapa menit lagi, mungkin sekutar 1 kilo meter lagi. Mereka sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Bu Maya di kediaman Dokter Arman.


Sementara itu, sesi makan bersama di rumah Dokter Arman masih berlangsung dengan suasana kekeluargaan. Bu Minah mencoba untuk mengajak Bu Maya untuk mengobrol.


"Oh iya, Bu Maya! Kalau Bu Maya ini dulunya tinggal di daerah mana Bu?" tanya Bu Minah asisten rumah tangga.


"Saya tinggal di kampung Cikaret bu!" jawab Bu Maya singkat.


"Kasihan sekali orang tua dari anak tersebut! Semoga kejadian itu bisa menjadi pelajaran juga bagi orang tua masa kini agar bisa lebih hati-hati dan menjaga anak-anaknya!" celoteh Bu Minah panjang.


"Iya saya tahu, Bu! Saya juga kenal dengan orang tua dari anak tersebut, mereka juga meminta bantuan kepada suami saya yang berprofesi sebagai paranormal!" tutur Bu Maya.


Mendengar penuturan Bu Maya kepada Bu Minah, Dokter Arman menguping pembicaraan mereka berdua.


"Kalau begitu berarti suami anda sekarang masih ada, apakah suamimu sudah tahu kalau Bu Maya sekarang ada disini?" tanya Bu Minah.

__ADS_1


Bu Maya terdiam sejenak, lalu ia mengambil gelas yang berisikan air minum. Ia meneguk minum itu seperti orang kehausan. Bu Maya meminum hingga 3 gelas. Sementara Bu Minah dan yang lainnya hanya terdiam melihat Bu Maya yang seperti orang kehauasan itu.


"Jangan minum terlalu banyak dalam waktu yang singkat sementara makanan di hadapan anda belum habis!" ucap Dokter Arman, membuat Bu Maya berhenti minum air putih.


"Aku hanya merasa sesak di dada dan haus, jadi aku banyak minum air putih. Hehehe!" jawab Bu Maya terkekeh.


Dokter Arman sudah menyelesaikan makannya, lalu ia mengambil tisu makan untuk membersihkan mulutnya. Kemudian ia mengambil gelas berisikan air putih, ia meneguk habis air didalam gelas tersebut lalu ia letakkan kembali gelas itu di meja.


"Kalau memang ucapan Bu Minah membuat jantungmu berdebar dan emosi anda membara! Maka itu pertanda kalau ada trauma di dalam dirimu!-


"Sepertinya suami anda bukan orang yang baik ya, Bu Maya?" tanya Dokter Arman, ia mengambil sebuah kotak dari saku celananya yang ternyata itu adalah kotak berisi rokok.


Bu Maya mencoba menghindara ucapan Dokter Arman.


"Hahaha, anda terlalu berspekulasi! Tentu saja suamiku adalah orang yang baik, Dok!" jawab Bu Maya sambil tersenyum.


"Sebaiknya anda habiskan makan anda, sehabis ini anda bisa menceritakan yang sebenarnya kepada saya sambil merokok agar anda lebih rileks!" ucap Dokter Arman, ia mengambil korek api di saku kirinya lalu ia gunakan untuk membakar ujung rokok yang ia hisap.


Mendengar ucapan Dokter Arman, Bu Maya pun kembali melanjutkan sarapannya. Sementara pasien yang lain juga ikut melanjutkan menghabiskan sarapan mereka. Bu Minah menatap ke arah Dokter Arman, Dokter Arman memberikan sebuah kode kepada Bu Minah dengan satu anggukan dari Dokter Arman.

__ADS_1


__ADS_2