
Kemudian Bu Mayapun menghampiri Dokter Arman yang masih dalam keadaan pingsan.
Dia mencoba menggerakkan tubuh dokter Arman, berupaya untuk membangunkan dokter Arman dari pingsannya.
Namun rupanya upaya Bu Maya tidak membuahkan hasil, Dokter Arman tetap tidak sadarkan diri.
Sementara itu dialam bawah sadar Dokter Arman, dokter Arman berada disuatu tempat yang mengingatkannya akan masa lalunya.
Dokter Arman sedang berada disebuah tempat yang sering dia gunakan untuk saling berbagi informasi bersama dengan adik kandungnya.
["Mas, Kita harus segera pergi dari sini! Mereka sudah tahu kalau kita adalah mata-mata!"]
Dokter Arman mendengar suara yang tidak asing ditelinganya, dia melangkah mendekati sumber suara itu.
["Tidak mungkin, Roman! Bagaimana bisa penyamaran kita terbongkar? Bukankah kita sudah sangat rapih menutupi identitas kita!"]
Kembali Dokter Arman mendengar suara yang sangat familiar, suara itu adalah suara dirinya sendiri disaat masih muda dahulu.
["Brakk.. brakk.. brakk!"]
Terdengar suara pintu yang sedang di dobrak oleh suatu kelompok, Dokter Arman mulai mengingat peristiwa itu.
["Arman, Roman, buka pintunya!"]
["Ya, bukalah pintunya Arman! Kami ingin mengajak kalian bersenang-senang!"]
Terdengar suara dua orang dari luar pintu, kemudia sosok Dokter Arman muda dan adiknya yang bernama Roman membukakan pintu rumahnya, ternyata ada sembilan orang disana.
Kesembilan orang itu memakai pakaian serba hitam, berkacamata hitam dan juga membawa payung berwarna hitam.
Gaya bahasa tubuhnya sangat misterius, ekspresi wajah mereka sangat datar.
["Ada perlu apa kalian menghampiri kami? Bukankah upacara persembahannya masih satu hari lagi?]
Sosok dokter Arman muda mencoba bertanya kepada salah satu dari mereka, rupanya mereka adalah kelompok Illuminati.
["Komandan Lucy dari sekte utara memberitahukan kepada kami kalau ada penyusup yang sedang memata-matai Illuminati, kami kesini ingin mengajak kalian untuk bersama-sama kami menghabisi mata-mata itu!"]
Salah seorang menjawab pertanyaan dokter Arman muda, secara tiba-tiba muncul sinar kilat yang disertai dengan datangnya suara guntur yang membuat suasana menjadi sangat menegangkan.
Dokter Arman muda menelan ludahnya, dia mulai merasakan firasat yang tidak enak dalam hatinya.
["Apakah kalian sudah mendapatkan informasi yang valid tentang identitas si mata-mata itu?"]
Dokter Arman muda mencoba bertanya dan membuat dirinya setenang mungkin.
["Kami sudah sangat yakin kalau orang itu adalah mata-matanya!"]
"Duaaarrrr.."
__ADS_1
Kembali suara guntur menambah suasana tegang, akhirnya Dokter Arman muda dan adiknya ikut bersama rombongan Illuminati menuju suatu tempat.
Tiba-tiba area sekitar Dokter Arman asli yang sedang dalam alam bawah sadarnya berputar perlahan dan berubah tempat, kini dia sedang berada di sebuah Hotel bintang lima yang ternyata dijadikan sarang Illuminati.
"Tempat ini, aku sudah melupakan tempat ini?"
Dokter Arman asli menyentuh dinding ruagan hotel itu, dia berusaha mengingat kembali sesuatu yang telah dia lupakan.
["Arman, Roman! Kami sangat tidak menyangka kalau kalian berdua adalah penyusup!"]
Dokter Arman asli mendengar suara dari ruangan sebelah, diapun melangkah keluar dan segera menuju ke ruangan sumber suara tersebut.
["Kami sudah mempercayakan semua kepada kalian, semua rahasia Illuminati sudah kalian ketahui! Tetapi ternyata kalian adalah penyusup!-]
["Aku tidak menyangka kalau ternyata kalian bisa menipu kami!"!]
Dokter Arman yang asli kini sedang melihat kejadian dimana dirinya yang muda sedang dalam pembunuhan berencana para anggota sekte Illuminati.
"Pendeta Robert, saya rasa ini hanyalah kesalahpahaman! Ijinkan kami berdua memberi penjelasan!"]
Dokter Arman muda mencoba meminta kesempatan untuk menjelaskan kepada seorang pedeta Illuminati, tetapi ternyata dia tidak mendapatkan kesempatan.
"Dorr..!"
Salah satu pria berpakaian serba hitam menembak kaki dokter Arman muda hingga dokter Arman muda mengerang kesakitan sambil memegangi kakinya yang tertembak.
["Roman, larilah! Selamatkanlah jiwamu, biarkan aku yang mati lebih dulu!"]
Roman justru berguling ke arah si penembak, lalu dia berhasil merebut pistol yang ada dalam genggaman si penembak itu.
Dengan gagahnya Roman mengacungkan pistol itu ke arah pendeta Sekte Illuminati yang bernama Robert.
["Pendeta Robert, jika anda membunuh kakak saya, maka saya tidak akan segan menembakkan peluru ini tepat di kepala anda!"]
Roman memberi ancaman kepada pendeta Robert, pendeta Robertpun mencoba menenangkan suasana.
["Tenanglah Roman, anda jangan terbawa emosi dulu! Kita bisa bicarakan baik-baik!"]
Pendeta Robert meminta agar Roman menurunkan pistolnya dan membicarakan ini secara baik-baik.
Namun Roman bukanlah orang bodoh, dia dan Dokter Arman muda tahu betul konsekuensi jika sekte mengetahui penyamaran mereka adalah kematian.
Roman mengajak dokter Arman muda untuk keluar melalui pintu, dia juga menyandera pendeta Robert agar diberikan jalan untuk keluar hotel.
Dokter Arman muda mengambil sebuah sepeda motor Harley Davidson milik anggota Illuminati, dia menyuruh pendeta Robert untuk memerintahkan si pemilik motor Harley itu memberikan kunci motornya kepada Dokter Arman muda.
Setelah itu, Roman lalu melepas pendeta Robert dan pergi melarikan diri bersama kakaknya yaitu Dokter Arman muda.
Dokter Arman muda dan adiknya bernama Roman merasa lega dan senang karena telah berhasil selamat dari maut, akan tetapi sesuatu yang tak terdugapun terjadi.
__ADS_1
"Beep.. beep.. beep.."
Tiba-tiba Dokter Arman muda mendengar suara beep dari bawah tangki motor itu, merasa penasaran dia pun melongok ke bawah tangki tepatnya di atas mesin.
Mata Dokter Arman muda membulat karena syok dan panik, ternyata di motor itu sudah terpasang sebuah bom waktu dan kini waktunya menunjukkan tinggal 5 detik lagi menuju peledakan.
"Lima.. Empat.. Tiga.. Dua.. Satu..!"
"Duuaaaaarrrrrr!"
Bom waktupun meledak dan membuat motor itu terbakar, tubuh Dokter Arman muda dan adiknya terpental jauh hingga bermeter-meter.
Beruntung saja Dokter Arman muda masih bisa sadarkan diri, dia mencoba mendekati adiknya yang terpental ke jalan aspal.
Dengan tertatih-tatih dia melangkah menghampiri adiknya yang tergeletak di jalan aspal.
["Roman, bertahanlah! Mas akan membawamu ke rumah sakit terdekat!"]
Dokter Arman muda mengambil tangan Roman dan berniat ingin membopong tubuhnya, namun tiba-tiba dari kejauhan dia melihat konvoi mobil para anggota sekte Illuminati sedang menuju ke tempat mereka.
["Mas, tinggalkanlah saya! Biarkan saya mati disini! Saya akan katakan kalau Mas Arman terpental dan tewas!"]
Rupanya Roman berniat ingin mengorbankan dirinya, karena memang luka yang dia alami sangatlah kritis.
Tangan dan kakinya patah semua, wajah dan tubuhnya penuh dengan luka bakar serta punggungnya yang terluka akibat bergesekan dengan jalan aspal.
["Tidak Roman, tidak mungkin Mas tega meninggalkan kamu disini!"]
Dokter Arman muda menangis, namun Roman meminta agar Arman berhenti menangis dan dia juga meminta agar Arman mau berjanji satu hal kepadanya.
["Mas Arman, biarkan saya berkorban sekarang! Tapi berjanjilah kalau Mas akan terus melanjutkan misi ini dan segera secepat mungkin menumpas sekte Illuminati!-]
["Jangan biarkan mereka menguasai negara dan pemerintahan kita, jika sudah begitu, maka akan semakin banyak rakyat yang sesat dan kehilangan moralnya! Berjanjilah pada saya, Mas!"]
Roman menegaskan kata-katanya kepada Arman muda, Arman mudapun mengangguk pertanda kalau dia bersumpah akan menepati janjinya untuk menumpas Illuminati.
["Selamat tinggal adikku, Roman! Tunggu Mas di surgaNya!"]
Arman muda lalu pergi meninggalkan Roman, dia berlari secepat mungkin agar bisa jauh dan tidak ditemukan oleh orang-orang Illuminati.
["Dor.. dor.. dor..!"]
Arman muda mendengar tiga kali suara tembakan, diapun meneteskan air matanya lalu kembali berlari sejauh mungkin.
["Dokter.. Dokter.. Dok, bangun!"]
Terdengar suara seorang perempuan memanggil Dokter Arman yang asli, lalu tidak lama kemudia dokter Arman yang aslipun terjatuh kesebuah jurang hingga dia berteriak karena ketakutan.
"Aarrrgghhhhhh!"
__ADS_1
Dokter Arman asli kini sudah bangun dari pingsannya sambil berteriak, Bu Maya terkejut melihat Dokter Arman bangun seperti itu.
"Apakah anda baik-baik saja, Dok?" tanya Bu Maya.