
"Bugghhh"
"Roaaaaarrrrrrrrr"
Hantu Genderuwo memukul batu besar yang ia curigai menjadi tempat bersembunyinya Bu Maya dengan Dokter Arman. Sepertinya hantu Genderuwo itu sedang sangat lapar, terlihat dari bagian mulutnya yang meneteskan air liur serta kadang-kadang menjulurkan lidahnya keluar.
"Rrooaaaaaarrr"
Merasa kesal karena gagal mendapatkan mangsanya, hantu Genderuwo pun marah dan memalingkan tubuhnya lalu melangkah menjauhi batu besar itu. Ia melangkah layaknya seorang jawara, langkah kakinya pelan namun begitu keras menghentak tanah. Selang beberapa menit kemudian ia sudah sangat jauh dari batu besar tersebut.
"Brukkk"
Tiba-tiba terdengar suara bebatuan jatuh ke tanah. Rupanya itu adalah ulah Dokter Arman. Tak lama kemudian, Bu Maya juga keluar dari tumpukan bebatuan. Ternyata Dokter Arman berhasil mengelabui hantu genderuwo dengan cara menumpuk bebatuan hingga menutupi tubuhnya dan juga tubuh Bu Maya, sehingga aura dan bau tubuh manusianya tersamarkan oleh bau tanah dan bebatuan yang menutupi mereka.
"Anda memang cerdik sekali, Dokter! Apakah cara tadi juga anda dapatkan dari hasil penelitian?" tanya Bu Maya sambil membersihkan sisa debu bebatuan yang menempel pada tubuh dan pakaiannya.
"Tidak, saya menggunakan cara ini secara mendadak, tiba-tiba saja saya teringat pada adegan film Holywood Predator! Dimana ia menggunakan lumpur untuk menutupi hawa panas tubuhnya agar tidak terdeteksi oleh makhluk buas!" celoteh Dokter Arman panjang.
"Wow, saya tidak menyangka kalau cara itu berhasil juga kepada makhluk gaib! Hehe," ucap Bu Maya sambil tertawa.
"Tentu saja berhasil, karena batu dan tanah yang menutupi tubuh kita ini juga adalah tanah alam gaib!" jawab Dokter Arman.
"Hmmm.. benar juga ya! Baiklah kalau begitu, sekarang kita sudah berkumpul kembali, apakah anda sudah punya petunjuk untuk menemukan mereka?" tanya Bu Maya.
Dokter Arman mengambil dua buah batu di dekatnya, lalu ia mengadu-adu batu tersebut di dekat kayu yang tadi ia jadikan obor. Setelah beberapa saat lalu muncul percikan api dan membakar kayu tersebut, kini Dokter Arman kembali memiliki penerangan obornya.
"Saya tidak begitu yakin, tapi saat saya diluar sana, saya banyak mengalami hal-hal aneh!" ucap Dokter Arman.
__ADS_1
"Saya rasa semua yang kita alami di alam ini memang seluruhnya aneh!" balas Bu Maya.
"Tenanglah, dengarkan saya dulu! Saya tadi diluar bertemu dengan hantu kolong wewe yang sekarat, lalu saya mendengar suara dua orang anak kecil seperti sedang bermain!" tutur Dokter Arman.
Bu Maya mendekatkan dirinya kepada Dokter Arman, "Lalu apa lagi, Dok?" tanya Bu Maya dengan raut wajah penuh keingintahuan.
"Tapi sayangnya saya telah salah memilih jalan, sehingga akhirnya saya bertemu dengan Bu Maya. Namun mungkin ini memang takdir. Jika saya tidak salah memilih jalan, mungkin anda sudah menjadi cemilan Genderuwo tadi!" celoteh Dokter Arman.
"Syukurlah, memang tidak ada suatu kejadian yang kebetulan melainkan itu adalah takdir dari Tuhan!" kata Bu Maya.
Dokter Arman menoleh ke arah Bu Maya, lalu ia tersenyum, "Mungkin Tuhan memang menakdirkan kita untuk menolong mereka, Bu Maya!"
Bu Maya mengangguk dan menegakkan tubuhnya, "Jika memang kita ditakdirkan untuk menolong mereka, maka kita tidak boleh sedikitpun merasa takut dan gentar!"
"Ayo Bu Maya ikuti saya, saya masih hafal dengan jalan yang telah saya lalui! Kita cari sumber suara anak kecil yang saya dengar itu!" ajak Dokter Arman.
# # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # #
Tidak jauh beda dengan Dokter Arman dan Bu Maya. Tirta juga sedang bersiap-siap untuk berpetualang mencari Nana dibantu oleh hantu Tuyul Dino. Namun bedanya, Tirta harus bisa mengelabui hantu Kuntilanak merah agar bisa keluar dari sarang kuntilanak merah tanpa diketahui oleh hantu Kuntilanak merah yang membawanya ke sarangnya.
"Dino, apa kamu punya cara agar kita bisa keluar dari tempat ini tanpa sepengetahuan Tante Kunti?" tanya Tirta kepada Tuyul Dino.
"Aku sedang memikirkan caranya dari tadi, aku rasa kita bisa memanfaatkan waktu saat Tante Kunti ingin pergi mencari makan di alam manusia!" jawab Tuyul Dino.
"Hahhhh!" Tirta terkejut mendengar pernyataan dari tuyul Dino, "Jadi, Tante Kunti kalau mau makan dia akan ke alam manusia?" tanya Tirta histeris.
"Di alam gaib, Hantu Kunti adalah satu-satunya hantu yang paling mengerti manusia, baik dari segi bahasa, budaya dan juga kehidupan manusia. Mereka adalah sosok yang paling tenar di alam manusia ketimbang hantu lainnya!" celoteh hantu Tuyul Dino.
__ADS_1
"Benar juga sih apa kata kamu, seluruh manusia sudah pasti mengetahui hantu Kuntilanak!" ucap Tirta.
"Mereka adalah hantu paling Entertain di kalangan manusia! Mereka lebih sering dijadikan tokoh di film-film dan juga cerita Novel mistis!" Lanjut Tirta.
Lalu Tuyul Dino pun mendekatkan mulutnya ke telinga Tirta. Ia seperti membisikkan sebuah rencana kepada Tirta.
Beberapa detik kemudian, "Oke Dino aku siap! Kali ini aku ikut rencana kamu!" jawab Tirta setelah Tuyul Dino selesai membisikkan rencananya ke telinga Tirta.
Beberapa jam kemudian, kurang lebih itulah yang dirasakan oleh Tirta. Sebenarnya Tirta tidak tahu sudah berapa lama ia berada di alam gaib, sebab ia merasakan kalau waktu berjalan sangat lambat disana. Dan ia juga tidak melihat adanya matahari di alam gaib itu. Ia hanya melihat awan hitam kelam dan sering muncul sinar kilat layaknya pada film-film sihir kegelapan.
"Hihihihihiiiiii"
Tante Kunti terbang melayang mendekati lubang pintu tempat ia keluar masuk sarangnya. Tirta dan Tuyul Dino yang berpura-pura sedang tidur, diam-diam mengintip dari celah-celah matanya. Mereka memastikan terlebih dahulu apakah Tante Kunti sudah benar-benar keluar dari sarangnya.
Kali ini Tante Kunti sudah berada di bibir pintu. Sebelum meneruskan keluar sarang, ia terlebih dahulu menoleh ke arah Tirta dan hantu Tuyul Dino. Ia memastikan kalau keduanya masih tertidur pulas. Setelah sudah memastikan, ia pun melanjutkan terbang keluar sarang dan hendak menuju alam manusia untuk mencari makan dari sesaji yang diberikan oleh orang-orang yang meminta peruntungan kepadanya.
Setelah Tante Kunti sudah benar-benar pergi jauh, Tirta dan Tuyul Dino pun cepat-cepat bangun dari tidurnya yang pura-pura. Tirta sibuk mencari bebatuan, sementara Tuyul Dino sibuk menggaruk-garuk tanah di area tersebut.
"Tirta, nanti kamu susun bebatuan itu tepat di tempat kita tidur tadi ya!" perintah Tuyul Dino.
"Baik, Dino! Aku akan susun persis di tempat kita tadi tidur!" jawab Tirta sambil mengangguk.
Setelah sepuluh menit lamanya, Tirta sudah selesai menyusun bebatuan di tempat tidur mereka masing-masing. Kemudian, giliran Tuyul Dino yang beraksi. Ia mengepalkan tanah dan membasahinya dengan air liurnya yang ia gunakan untuk menjadi lem. Lalu ia gunakan tanah yang tercampur dengan liurnya itu untuk membentuk patung mirip tubuh Tirta dan tubuh dirinya dalam posisi tertidur.
Setelah selesai membuat patung mirip mereka berdua. Dengan sedikit sentuhan sihir dari telapak tangannya Tuyul Dino, tiba-tiba patung itu menjadi sama persis dengan mereka berdua. Mereka gunakan patung itu untuk mengelabui Tante Kunti. Setelah selesai dengan semuanya, mereka berdua pun keluar dari sarang hantu Kuntilanak merah melalui lubang pintu masuk.
"Ayo Dino, kita harus cepat-cepat sebelum Tante Kunti pulang!" pekik Tirta.
__ADS_1
Tuyul Dino pun berlari dan mengikuti Tirta dari belakang. Akankah mereka berdua berhasil menemukan Nana dan menolongnya?