LEMBU

LEMBU
Chapter 40


__ADS_3

"Lihatlah! Kalau kamu tidak mau ikut Om, kamu akan habis dimakan oleh mereka!"


Pak Rahman mengancam Nana secara halus, ia berpikir kalau cara ini akan berhasil membuat anak kecil itu menjadi pengikutnya.


Nana yang melihat penampakan yang mengerikan dihadapannya sontak berteriak dan menangis keras.


Pak Rahman tertawa senang melihat Nana menangis, dia memanfaatkan momen itu untuk mengambil hati Nana.


Pak Rahman menghampiri Nana dan menyodorkan tangannya ke arah Nana.


"Ayo, Nana! Om akan menyelamatkanmu dari sini sekarang juga!"


Pak Rahman menyeringai melihat Nana yang sempat menutup mata kini kembali membuka kedua matanya dan terlihat akan menerima pertolongan Nana namun masih ragu.


"Ayo cepatlah, Nana! Mereka sudah hampir dekat dengan kita!"


Hantu-hantu yang menyeramkan itu terlihat semakin mendekat, Nana yang tidak punya pilihan akhirnya menerima pertolongan Pak Rahman.


Pak Rahmanpun menggenggam tangan Nana, beberapa detik kemudian terdengar suara seperti suara Mamah yang berteriak memanggil Nana.


"Nana! Sadarlah, Nak! Banguuun!"


"Mamah ada disini! Bangunlah, Nak! Ucap istighfar!"


Tiba-tiba Nana telah sadar kembali, Nana merasa kebingungan saat ia melihat Mamah masih ada dibelakangnya dalam keadaan terbelenggu.


Begitupun juga Nana, dia masih dalam keadaan terbelenggu.


"Syukurlah, Nak! Akhirnya kau berhasil selamat!"


Mamah berpikir kalau Nana berhasil selamat dari tipu muslihat Pak Rahman.


Nana hanya terdiam ketika mendengar Mamah mengucapkan kata-kata seperti itu.


Sementara Pak Rahman justru tersenyum jahat ketika mendengar ucapan Mamah, Pak Rahman memang licik sekali.


Pak Rahman bangkit dari duduknya, ia meninggalkan Nana dalam keadaan bingung dan tidak tahu apakah yang dia lakukan saat di alam bawah sadarnya itu akan berdampak buruk pada dirinya dan kedua orang tuanya?


"Bu Maryam, Pak Andi! Saya harus meninggalkan kalian dulu sebentar, saya harus menyiapkan tempat yang tepat untuk upacara penyerahan kalian kepada Raja Iblis!"


Pak Rahman kembali mengeluarkan kendi ukuran kecil yang berisi cairan, ia gunakan untuk membasahi sekeliling area tempat itu.


Setelah itu Pak Rahman kembali menghampiri Nana, ia melepaskan belenggu rantai yang mengikat tangan Nana.

__ADS_1


Mamah merasa heran ketika melihat Pak Rahman melepaskan rantai belenggu yang mengikat Nana, sementara dirinya masih tetap terikat.


Setelah melepaskan rantai belenggu pada tangan Nana, Pak Rahmanpu meninggalkan tempat itu tanpa mengucapkan sepatah kata.


"Tukk.. tukk.. tukk.."


Suara langkah kaki Pak Rahman terdengar semakin lama semakin menghilang, pertanda jika Pak Rahman sudah sangat jauh.


# # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # #


Sementara itu ditempat lain, Bu Maya dan Dokter Arman masih dalam perjalanan mencari keluarga Pak Andi.


Dokter Arman merasakan kalau mereka sedang terkena tipu daya makhluk halus.


Sudah berulangkali mereka melewati jalan yang sama, namun mereka tak kunjung jua keluar dari tempat itu.


"Bu Maya, berhentilah!"


Dokter Arman mengamati sekeliling tempat itu.


"Ada apa, Dok? Apakah ada yang aneh?"


Bu Maya belum menyadari ada seseuatu yang aneh terjadi pada mereka.


"Lihatlah!" Dokter Arman mengamati sekelilingnya, "kita sudah sepuluh kali melewati tempat yang sama, sepertinya ada makhluk halus yang menjahili kita!"


"Astaga! Saya benar-benar tidak menyadarinya, Dok! Apakah ini ulah setan Keder?"


Bu Maya berasumsi kalau ilusi yang mereka rasakan saat ini adalah ulah dari hantu setan Keder yang sering menyesatkan manusia di bumi.


"Bagaimana cara kita untuk keluar dari ilusi ini, Dok? Apakah anda punya ide?"


Bu Maya mulai merasa panik, dia tidak mau terus-terusan berada dalam pengaruh ilusi hantu setan keder.


Dokter Arman masih mengamati sekeliling sambil menyentuh dagunya dia memikirkan cara untuk keluar dari ilusi ini.


"Kita hadapi saja setan keder ini, Bu Maya! Tidak ada cara lain!"


Dengan suara lirih khas pria payuh baya, Dokter Arman mengajak Bu Maya untuk bersama-sama menghadapi hantu setan keder dan keluar dari ilusi ini.


Bu Maya terkejut dengan ucapan Dokter Arman, dia takut kalau dirinya tidak bisa menang melawan setan keder.


"Maaf, Dok! Saya tidak yakin kalau kita bisa menghadapi setan keder, bagaimana kalau justru kita yang kalah darinya?"

__ADS_1


Bu Maya merasa pesimis dengan ide dari dokter Arman.


Dokter Armanpun menyeringai mendengar ucapan Bu Maya yang pesimis.


"Haha! Bu Maya, pilihan kita hanya dua, melawannya sampai mati atau tetap diam disini sampai mati!" Dokter Arman membelakangi Bu Maya, "Kalau saya jelas lebih memilih melawannya sampai mati!"


"Deg.. deg.. deg.. deg.."


Jantung Bu Maya berdetak kencang sampai terdengar oleh telinganya sendiri.


Bulu kuduk Bu Maya berdiri karena ketakutan, dia sama sekali tak habis pikir kenapa harus berurusan dengan banyak hantu.


Dia masih teringat dengan kejadian sebelumnya dimana dia dikejar oleh hantu Genderuwo yang menyamar, beruntung Dokter Arman datang menolongnya.


Akan tetapi, kali ini dia harus berurusan kembali dengan makhluk halus, rasanya dia ingin kembali ke bumi dan kembali menjalani hidup yang normal.


Akan tetapi, dia teringat dengan tujuan utamanya saat hendak memasuki alam gaib ini.


Dia ingin menyelamatkan keluarga Pak Andi sekaligus menghentikan sepak terjang dari suaminya yang bernama Rahman.


Tiba-tiba Bu Maya teringat dengan putrinya yang bernama Linda, air matanya menetes dari pipinya ke tanah.


Namun Bu Maya tidak akan lama terlarut dalam kesedihan, dengan cepat dia menyeka air matanya yang masih membasahi tepi matanya dengan menggunakan jari tangannya.


"Bagaimana, Bu Maya! Apakah anda akan ikut dengan saya atau anda ingin tetap disini?"


Dokter Arman kembali meminta Bu Maya untuk membuat keputusan apakah dirinya ingin mengikuti rencana Dokter Arman atau justru hanya diam saja tanpa melakukan perlawanan.


Bu Maya membalikkan tubuhnya menghadap ke arah dokter Arman.


"Baiklah, Dok! saya akan ikut rencanamu, lagipula bukankah saya sudah tidak punya orang yang menanti kehadiran saya dirumah! Jadi jika saya mati disinipun tidak jadi masalah!"


Ucapan Bu Maya sungguh menyentuh hati dokter Arman, dokter Arman menghampiri Bu Maya dan menatap matanya dalam-dalam.


Bu Maya membalikkan badannya membelakangi Dokter Arman.


Dokter Arman memegang bahu kiri Bu Maya dengan lembut.


"Sabarlah, Bu Maya! Saya mengerti bagaimana perasaan Bu Maya saat ini, tetapi akan saya pastikan kalau saya akan melindungi anda selagi saya masih bisa bernafas!"


Dokter Arman mulai merasakan adanya chemistri antara dirinya dengan Bu Maya, kendati demikian dokter Arman tetap tidak memanfaatkan situasi untuk mendapatkan perhatian dari Bu maya.


Untuk saat ini sebenarnya dokter Arman masih tetap fokus dalam mencari kebenaran sekte penyembah iblis karena dia ingin mengetahui fakta adiknya yang hilang hingga dianggap sudah mati karena ketahuan menjadi penyusup di sekte penyembah iblis.

__ADS_1


Bu Maya tersenyum tipis mendengar Dokter Arman mengucapkan kata-kata yang membuat dirinya merasa sedikit aman, Bu Maya membalikkan badannya ke arah dokter Arman dan mengucapkan.


"Terima kasih, Dokter Arman! Anda sangat baik sekali kepada saya!"


__ADS_2