LEMBU

LEMBU
Chapter 59


__ADS_3

"Katon parang neraka!"


Dokter Arman menebas Siluman Lembu itu tepat di kepalanya, kepala Siluman Lembu itu langsung putus dan tubuhnya terjatuh ke bawah.


Lalu Dokter Arman menyelamatkan Bu Maya dan juga Tuyul Dino dari tangan Siliman Lembu.


Bu Maya dan Tuyul Dino masih belum sadarkan diri, Dokter Arman akan meninggalkan mereka setelah sebelumnya memindahkan mereka berdua ke tempat yang aman.


"Kalian berdua istirahatlah, serahkan ini semua kepada saya!"


Dokter Arman lalu meninggalkan mereka dan melesat menuju tempat Pak Rahman.


Sementara itu kini Pak Rahman sedang melakukan ritual pemanggilan raja iblis Azazel yang akan dia berikan persembahan tumbal.


"Dhuh ratu kawula, ratuning pepeteng!"


"Teka lan tampanana pisungsungku!"


"Satemene Ingsun ora bakal nyuwun apa-apa kajaba kalanggengan saka sira!"


Angin berhembus kencang tatkala Pak Rahman membacakan mantera pemanggilan raja iblis, Ayah, Mamah, dan Nana merasakan juga angin kencang itu, sementara Tirta masih belum tersadar dari pingsannya.


"Dhuh gusti kawula Sang Prabu Azazel, mugi karsaa nampik pisungsung kawula!"


Suara angin ribut diiringi juga dengan suara halilintar yang menggelegar, nampaknya Pak Rahman telah selesai membaca manteranya.


Seketika itu juga tiba-tiba muncul portal dan didalam portal menunjukkan sebuah tempat yang dipenuhi dengan lahar panas yang menyala terang, terdengar suara yang menggema dari dalam.


"Selamat datang paduka!"


Pak Rahman menurunkan kepalanya dan bersujud ke arah portal itu, rupanya di dalam portal itu sedang berdiri sosok Iblis yang menyeramkan.


Berbadan besar dan tinggi, kulitnya berwarna merah dan terlihat penuh dengan cairan lengket, kepalanya persis seperti kelelawar dan taringnya terlihat panjang sampai keluar dari mulutnya.


Akan tetapi nampak sosok iblis itu mengenakan jubah berwarna hitam untuk menutupi tubuhnya, hanya tangannya saja yang terlihat.


"Kau anak cucu adam, hadiah apa yang kau bawakan untukku!"


Suara iblis itu sangat berat dan menggema, dia berinteraksi dengan Pak Rahman.


"Aku membawakan tiga manusia keturunan dari musuh-musuhmu, kau akan menyantap mereka dengan sangat lahap, Paduka!"


Pak Rahman berbicara sambil menunduk, sepertinya dia belum berani menatap wajah raja iblis itu.

__ADS_1


"Berikan aku satu untuk sebagai bahan cicipan, bila memang lezat maka akan ku ambil semua dan kau akan dapatkan apapun yang kau mau!"


Iblis itu meminta agar Pak Rahman memberikan satu untuk sebagai bahan percobaan rasa, maka terpilihlah Ayah yang akan pertama kali dijadikan tumbal.


"Srek!"


Pak Rahman membuka pintu penjara besi itu lalu dia menyeret Ayah keluar menuju portal.


"Lihatlah, Pak Andi, apakah keangkuhanmu bisa menolongmu saat berhadapan dengan rajaku! hehehe!"


Pak Rahman menyeret Ayah sampai dekat dengan portal itu, maka saat Ayah melihat sosok raja iblis itu, raja iblis itu membuka mata dan menatap tajam ke arah Ayah.


Ayahpun ketakutan dan menutup matanya, rupanya raja iblis itu ternyata berukuran sangat besar sekali bahkan mungkin bola matanya sebesar gunung, oleh karena itu Ayahpun merasa sangat takut.


Akan tetapi, meskipun Ayah takut, dia tetap beristighfar didalam hatinya dan terus berdzikir.


Melihat Ayah yang terus berdzikir, raja iblispun tertawa bahagia.


"Hahaha! Seperti itulah anak cucu adam, jika sudah dekat dengan ajalnya maka dia akan selalu mengingat Tuhan, kalian pantas berada di neraka bersamaku! Haha!"


Raja Iblis itu pun membuka mulutnya lalu dia menghisap nyawa Ayah dengan sekali hisap tiba-tiba Ayah sudah mati tidak bernyawa.


"Ohh, Lezat sekali! Aku menyukai persembahanmu ini, aku terima persembahanmu hai pengikutku!"


"Baiklah, Paduka Raja Azazel, akan aku serahkan semua persembahan kepadamu!"


Pak Rahman berbalik badan menuju ke penjara besi untuk memberikan Mamah dan Tirta kepada Raja iblis itu.


Mamah menatap pada jasad Ayah yang sudah kering kerontang, dia tidak menyangka kalau suaminya akan meninggalkannya lebih dulu dengan cara seperti ini.


Mata Mamah berkaca-kaca, hatinya hancur sehancur-hancurnya melihat pria yang dia sayangi tewas mengenaskan.


Maryam benar-benar sangat dendam kepada Pak Rahman, rasanya ingin sekali dia membunuh dan mencabik-cabik isi perut Pak Rahman.


"Dasar tua bangka bajingan! Manusia laknat, teganya kau memperlakukan sumamiku seperti itu, dasar manusia berhati iblis!"


Mamah terus mengucap kata-kata kasar dan menghina Pak Rahman, Pak Rahman kini sudah berada tepat di hadapan penjara besi itu.


"Maryam, saya beri anda kesempatan 1 kali, jika ingin selamat maka jadilah pengikut saya!"


Pak Rahman menawarkan kesempatan kepada Bu Maryam untuk menjadi pengikutnya agar dia bisa selamat.


"Sampai matipun saya tidak akan mau menjadi pengikut anda, cuihhh!"

__ADS_1


Mamah menolak mentah-mentah tawaran dari Pak Rahman dan malah meludahi Pak Rahman, akibatnya Pak Rahman sangat emosi kepada Mamah.


Pak Rahman langsung membuka pintu penjara besi itu dan dia menyeret Mamah ke portal dimana raja iblis sedang menunggu makanan persembahan dari Pak Rahman.


"Awww...!"


Mamah berteriak sewaktu Pak Rahman menyeret tubuhnya ke arah portal raja iblis itu, Pak Rahman menyeretnya dengan menarik rambut Mamah yang panjang, sungguh kejam sekali.


"Lihatlah, Maryam! Kesombonganmu itu akan runtuh saat kau dekat dengan ajalmu!"


Pak Rahman mengangkat tubuh Mamah dan mendirikannya tepat dihadapan portal iblis itu, Mamahpun telah melihat wujud asli raja iblis itu yang sangat mengerikan.


Ukurannya sangat besar dan bola matanyapun sangat besar melebihi dari ukuran gunung salak, Mamah yakin benar kalau nyawanya tidak akan lama lagi.


["Raja iblis seperti inikah bentuknya, besar sekali! Bahkan matanya saja lebih besar daripada gunung! Tetapi aku yakin pasti lebih besar kekuatan Tuhan!"]


Mamah berkata didalam hatinya, imannya tetap kuat meskipun kini dihadapannya sedang ada penampakan raja iblis yang sangat besar.


"Ucapkanlah ampun padanya dan jadilah pengikutnya, maka anda akan mendapatkan ampunan, Maryam!"


Pak Rahman meneriaki Mamah dan mengajaknya untuk menjadi pengikut raja iblis Azazel agar dia tidak dijadikan makanan, akan tetapi Mamah tetap bersikeras menolak ajakan Pak Rahman itu.


"Hey, Iblis laknatulloh! Aku tidak takut kepadamu, aku hanya takut kepada Alloh Tuhan Yang Maha Esa! Meskipun harus mati sekalipun aku tidak akan menjadi pengikutmu, cuihhh!"


Lagi-lagi Mamah melakukan hal yang sama dengan yang dia lakukan kepada Pak Rahman tadi, Mamah meludahi iblis itu dan menghina raja iblis itu.


"Hahahaha! Sungguh persembahanmu ini luar biasa, aku sangat senang bisa memakan orang-orang yang beriman kepada Tuhan!"


Iblis itupun langsung membuka mulutnya yang sangat besar sebesar lautan dan menghisap jiwa Mamah dari dalam tubuhnya.


Mamah merasakan adanya tarikan kuat dari mulut iblis itu, ternyata benar saja, jiwa Mamah sedang dihisap oleh raja iblis itu.


Disaat terakhirnya, Mamah menoleh ke arah Tirta dan Nana lalu berdoa dalam hati kepada Tuhan, memohon agar Tuhan menyelamatkan mereka berdua.


Nana dari kejauhan melihat adegan itu, dia berteriak memanggil Mamahnya, matanya sudah penuh dengan air mata.


Akhirnya seluruh jiwa Mamah telah dihisap oleh Raja Iblis tersebut, Nanapun tidak mampu menahan air matanya yang mengalir deras hingga membasahi pipi dan menetes ke tanah.


Tirta juga mulai siuman dari pingsannya, dalam pandangan yang masih sayup-sayup dia berusaha mengamati tempat dia berada saat ini.


Saat dia menoleh ke sebelah kanannya, dia melihat ada sosok Nana dan segera dia memanggil nama adiknya itu.


"Nana, benarkah itu kamu, adikku!"

__ADS_1


Tirta memanggil Nana dengan suara lirih dan lemah.


__ADS_2