LEMBU

LEMBU
Chapter 38


__ADS_3

Pak Rahman menyingkap jubah yang ia kenakan sebagai kostum penyamarannya. Ia mendekati Ayah dan yang lainnya sambil merogoh kantung yang berada di balik jubah hitamnya.


"Currr.."


Pak Rahman menyiramkan air berbau amis dari dalam kendi ukuran kecil ke tubuh Ayah dan yang lainnya. Sontak Ayah kelabakan dikarenakan matanya terkena air tersebut.


"Kurang ajar! Cairan apa lagi yang anda siramkan kepada kami?" Ayah marah akibat ulah Pak Rahman.


Pak Rahman menyeringai melihat reaksi dari Ayah. Lalu ia masukkan kembali kendi kecil itu kedalam kantung dibalik jubah hitamnya.


"Cairan itu adalah untuk menutupi bau manusia yang dihasilkan oleh tubuh kalian agar tidak ada lagi makhluk halus yang mendekati kalian!" ucap Pak Rahman lalu membalikkan badannya, "Sebentar lagi, kalian akan kupersembahkan kepada Tuan Azajel!"


Ayah semakin terbakar emosinya, namun ia masih mencoba menahan emosinya dan ia mencoba mengorek informasi dari Pak Rahman.


"Azajel! Makhluk apa lagi itu?" tanya Ayah.


Pak Rahman pun menjelaskan siapakah Azajel itu.


"Azajel adalah salah satu raja iblis terkuat bagi sekte penyembah iblis Illuminati! Azajel akan memberikan kekuatan maha dahsyat bagi pengikut setianya!" tutur Pak Rahman.


"Kemarin anda bilang nama hantu itu adalah Lembu! Lalu sekarang anda sebut dia Azajel! Berhentilah mengolok-olok kami, kami sudah tidak percaya lagi kepadamu!" pekik Ayah.


"Hantu Lembu itu memang benar ada, saya yang mengutusnya untuk menculik putri anda! Namun, saya tidak tahu kenapa tiba-tiba putrimu itu bisa lepas dari hantu Lembi dan berkeliaran di alam gaib!" ucap Pak Rahman, lalu ia kembali mendekati Ayah.


Pak Rahman mengambil sesuatu yang tersimpan di dalam kantung celana Ayah. Rupanya Pak Rahman mengambil keris yang dulu ia berikan kepada Ayah saat hendak mencuri telur mustika ular.


"Sret"


Pak Rahman menggunakan keris itu untuk menggores luka di tangan Ayah, lalu darah yang keluar dari goresan itu ia masukkan kedalam kendi kecil tadi.


"Awww"

__ADS_1


Ayah mengerang kesakitan setelah menerima perlakuan sadis dari Pak Rahman. Tidak hanya kepada Ayah saja ia melakukan hal tersebut, akan tetapi ia juga melakukan hal yang sama kepada Mamah dan Nana.


"Darah kalian ini akan aku pergunakan untuk memanggil Azajel! Setelah tuan Azajel memberikan kekuatan yang maha dahsyat, maka ia akan menghisap seluruh darah kalian sampai habis. Setelah itu, aku akan kembali ke dunia dan menjadi paranormal paling sakti. Hahahaha!" Pak Rahman tertawa lantang dan merasa sangat girang.


"Pak Rahman! Tidakkah anda sadar kalau anda sekarang telah dibodohi oleh iblis, bertaubatlah, Pak Rahman! Selagi ajal masih belum menjemput anda!" Ayah mencoba menasihati Pak Rahman agar sadar dan kembali ke jalan yang benar.


"Hahaha! Bertaubat? Apakah dengan bertaubat bisa membuat saya menjadi kaya raya dan bergelimangan harta, Pak Andi?-


"Dulu saya adalah pribadi yang sangat religius, saya tidak pernah meninggalkan ibadah. Tetapi hidup saya selalu dirundung kesusahan dan kemiskinan!-


"Sampai akhirnya saya mengenal perkumpulan pemuja iblis, mereka semua terlihat sangat solidaritas, mereka juga kaya raya dan bergelimangan harta, bahkan mereka sangat hobi berbagi dengan sesama! Sangat berbanding terbalik dengan orang-orang yang mengaku religius, tetapi sombong dan enggan berbagi kepada yang susah!" Pak Rahman berceloteh panjang.


"Tidak semua orang religius seperti yang anda katakan, Pak Rahman!" Ayah mengelak ucapan Pak Rahman.


Pak Rahman mendekati Ayah, "Memang tidak semua seperti itu, tetapi hanya satu banding seribu, mungkin satu juta!" Pak Rahman menaikkan tensi suaranya.


"Berbeda dengan orang-orang pemuja iblis, mereka semuanya seratus persen selalu berbagi kepada orang yang kesusahan, bahkan mereka juga menyumbangi anak yatim!" Pak Rahman terus meninggikan suaranya, terlihat aura kekesalan di wajahnya yang sudah keriput.


"Apakah anda mempunyai dendam kepada seorang pemuka agama, Pak Rahman?" Ayah kembali bertanya kepada Pak Rahman, kali ini dengan nada suara yang pelan.


"Saya ini sudah merasakan semua agama, tidak ada satupun yang saya pilih, sampai saya bertemu Illuminati!-


"Pak Andi, kalau anda bersedia bergabung dengan saya, maka saya akan melepaskan anda! Biarkan istri dan anak anda yang kita jadikan persembahan kepada Raja Iblis!" ucap Pak Rahman mengajak Ayah untuk menjadi penyembah iblis sama seperti dirinya.


Ayah tidak menjawab apapun, Pak Rahman mendekati Ayah kembali, "Anda akan hidup kaya raya, anda bisa mendapatkan istri yang jauh lebih muda dari Bu Maryam. Hahaha!" Pak Rahman berkata sambil menyeringai jahat.


"Cuihh"


Bukannya menjawab bujukan dari Pak Rahman, Ayah justru malah meludahi Pak Rahman.


"Sampai mati sekalipun, saya tidak akan pernah mau bergabung dengan anda!" pekik Ayah dengan sorotan mata penuh emosi terhadap Pak Rahmam.

__ADS_1


Akibat ulahnya tersebut, Ayah harus menerima pukulan tinju dari Pak Rahman tepat di pipi sebelah kirinya. Tak hanya itu saja, Pak Rahman juga menendang bagian atas pinggangnya sampai Ayah mengerang kesakitan.


"Aught.."


Ayah merasakan sakit yang teramat dibagian pinggang sebelah kirinya akibat tendangan dari Pak Rahman. Ingin rasanya ia melawan Pak Rahman, namun apalah daya dirinya masih terbelenggu oleh rantai besi yang sangat kuat.


"Bugh.. Bugh.."


Pak Rahman terus menyiksa Ayah dengan menendangi bagian kaki kirinya Ayah secara bertubi-tubi. Ia sama sekali tidak menghiraukan Ayah yang selalu mengerang kesakitan tiap kali kakinya meluncurkan tendangan.


"Dasar manusia tolol! Coba buktikan, apakah Tuhan anda bisa menyelamatkan anda yang sekarang sedang saya siksa! Hahaha" Pak Rahman terlihat sangat menikmatinya.


"Ayah! Hentikan, aku mohon hentikan itu!" Mamah berteriak dan memohon agar Pak Rahman menghentikan perbuatannya.


"Ayah! Paman, tolong jangan siksa Ayah aku!" ucap Nana merengek.


"Bugh.. bugh.."


"Lihatlah, suamimu ini sudah tidak punya daya dan upaya! Kalau kau mau suamimu selamat, bilang kepadanya untuk meminta maaf dan menjilat ludahnya sendiri!" ucap Pak Rahman kepada Mamah.


Mamah hanya bisa diam melihat suaminya sedang mendapatkan penyiksaan yang dilakukan oleh Pak Rahman, Mamah hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dan meneteskan air mata yang tiada henti.


Ayah menatap mata Mamah dalam-dalam, kemudian Ayah memberikan senyuman kepada Mamah seperti seolah dirinya sama sekali tidak merasakan sakit sedikitpun.


Karena Ayah yang terus bersikeras untuk tidak meminta maaf kepada Pak Rahman, akhirnya Pak Rahman semakin naik pitam. Ia layangkan tendangannya yang keras meluncur tepat ke bagian dadanya sampai Ayah batuk darah.


"Croot"


"Uhuk.. uhuk.."


Akibat itu, Ayah merasakan kalau matanya berkunang-kunang dan seolah-olah seluruh area tempat itu berputar-putar. Setelah beberapa detik kemudian, Ayahpun pingsan dalam keadaan duduk bersandar pada tiang kayu karena dirinya masih terbelenggu pada tiang kayu. Pak Rahmanpun menghentikan serangannya, kini ia beralih kepada Bu Maryam.

__ADS_1


__ADS_2