LEMBU

LEMBU
Chapter 57


__ADS_3

"Crash!"


Terdengar suara reruntuhan tanah disebuah lorong gelap menuju tempat dimana Ayah, Mamah dan Nana berada.


"Suara apa itu, apakah itu gempa?"


Mamah mendengar suara reruntuhan itu, dia bertanya kepada Ayah apakah Ayah juga mendengar suara itu.


"Sepertinya itu hanya reruntuhan kecil, Maryam! Berdoalah agar tidak terjadi yang tidak kita inginkan!"


Ayah berharap agar tidak terjadi apa-apa karena dia tidak ingin keluarganya mati ditempat ini.


Disaat mereka semua sedang panik tiba-tiba Pak Rahman sudah berdiri dihadapan mereka hingga membuat mereka terkejut.


Pak Rahman menyeringai melihat mereka semua terkejut, dia menghampiri mereka bertiga.


"Akhirnya waktu yang saya tunggu sebentar lagi akan tiba! Setelah anak laki-lakimu tiba, maka saya akan melangsungkan upacara persembahan! Hahaha!"


Pak Rahman berkata dengan lantangnya, dia sangat yakin kalau Siluman Lembu pasti berhasil membawa Tirta kepadanya.


"Kurang ajar kau, Rahman!" Ayah berteriak keras, kini dia memanggilnya tanpa kata Pak, " Kalau kau memang pemberani, sekarang juga hadapilah saya secara jantan!"


Ayah sudah berada di puncak emosinya, andai saja yang membelenggunya bukanlah rantai besi, sudah pasti dengan mudah dia melepaskan diri dan menghabisi Pak Rahman.


"Hahaha! Pak Andi, anda bukanlah lawan saya! Meskipun soal fisik anda jauh diatas saya, akan tetapi saya bisa langsung menundukkan anda dengan mantera!-


"Kilat mecah gunung!"


Pak Rahman membaca sebuah mantera lalu menempelkan telapak tangannya pada bahu Ayah.


"Bzzzttt... bzzzttt..!"


Seketika keluar listrik berwarna merah dari tangannya dan mengalir ke tubuh Ayah, sontak ayah menjerit akibat tersetrum aliran listrik dari telapak tangan Pak Rahman.


"Aarrrrggghhhhh!"


Ayah kelabakan menerima mantera dari Pak Rahman, tubuhnya langsung lemas dan tidak berdaya.


Pak Rahman melepaskan telapak tangannya dari bahu Ayah, tubuh Ayah langsung tersandar ke tiang kayu dan matanya melotot.


Jika saja tadi Pak Rahman lebih lama lagi menyentuh bahunya Ayah, mungkin Ayah akan mati kering karena tersetrum.

__ADS_1


Namun Pak Rahman tentu tidak mau membunuhnya karena Pak Rahman akan menjadikan Ayah sebagai orang pertama yang akan dijadikan tumbal.


"Aku tidak akan membunuhmu, karena tuanku sangat menyukai orang-orang yang berjiwa kuat untuk dijadikan santapan! Hahaha!"


Pak Rahman beralih dan mendekati Nana, dia tersenyum kepada Nana.


Mamah merasa bingung ketika melihat Pak Rahman memberikan senyum kepada Nana.


Pak Rahman membungkuk di hadapan Nana, lalu dia berbicara kepada Nana.


"Waktunya tinggal sebentar lagi, kau bersabarlah, Nana!"


Entah apa yang dimaksudkan oleh Pak Rahman dengan meminta Nana untuk bersabar menunggu waktunya tiba karena sebenarnya Nana juga tidak mengerti maksud dari ucapan Pak Rahman.


"Maksud Om apa? Aku tidak mengerti?"


Nana bertanya maksud dari ucapan Pak Rahman, Pak Rahmanpun menyeringai.


"Hahaha! Rupanya kau juga belum menyadarinya ya, mungkin nanti kau akan menyadarinya setelah aku melaksanakan upacara!"


Pak Rahman kembali meninggalkan Nana, akan tetapi kali ini ada sesuatu yang berbeda.


Mamah yang melihat keanehan yang terjadi antara Nana dan Pak Rahman, lalu dia menanyakan rasa penasarannya kepada Nana.


"Nana, ada sesuatu apa yang kamu sembunyikan dengan Pak Rahman?" tanya Mamah serius kepada Nana.


Nana bingung harus berkata apa karena dia juga tidak mengerti dengan maksud kata-kata Pak Rahman tadi.


"Nana juga tidak tahu apa maksud kata-kata dari Om jubah tadi, Nana juga bingung, Mamah!"


Dengan wajah polosnya Nana menjawab pertanyaan Mamah, namun Mamah tidak percaya begitu saja kepada Nana.


"Kamu jangan bohong, Nana! Hati-hatilah kamu, Pak Rahman itu orang yang jahat, jangan pernah kamu mempercayai ucapannya sedikitpun!"


Mamah memekik suaranya, dia memarahi Nana merasa kalau Nana telah berbohong kepadanya.


"Ti.. tidak, Mah! Sumpah Nana tidak berbohong! Hiks.. hiks..!"


Nana menangis karena telah dimarahi oleh Mamah, melihat Nana yang sedih akhirnya Mamahpun percaya dengan ucapan Nana.


"Maafkan, Mamah ya, Nana! Mamah tadi hanya terbawa emosi!"

__ADS_1


Mamah mengucapkan permintaan maaf kepada Nana, Nanapun berhenti menangis.


Akan tetapi tiba-tiba Nana teringat kembali dengan kejadian saat dia berada dalam ilusi buatan Pak Rahman, dia merasa takut kalau hal itu telah secara tidak langsung membuat Nana menyetujui untuk menjadi pengikut Pak Rahman.


["Apakah maksud Om Jubah tadi adalah waktu itu, dimana aku terpaksa menerima pertolongan darinya karena banyak monster yang akan menyerangku?-]


["Tetapi, aku kan tidak menerima untuk ikut dengan Om Jubah, tapi tadi Mamah bilang kalau Om Jubah adalah orang yang licik!"]


Nana berkata didalam hatinya, Nana merasa resah dan bimbang.


Dia sangat takut kalau ternyata yang dia lakukan saat itu adalah kesalahan, namun bagaimana lagi, Nana adalah seorang anak kecil yang pemikirannya belum sampai sejauh itu.


Dalam hati Nana berdoa semoga apa yang dia pikirkan tadi tidak akan terjadi, karena jika itu terjadi maka itu berarti dia akan menjadi ancaman bagi keluarganya.


# # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # #


Sementara itu ditempat lain, Dokter Arman yang sudah sadar dari mati surinya sedang melakukan pemulihan tenaga.


Dia mengeluarkan sebuah buku catatan yang selalu dia bawa untuk menulis setiap kejadian dan penelitian yang dia dapat.


Rupanya buku itu bukan hanya sembarang buku catatan, tetapi itu adalah buku yang luar biasa.


Saat Dokter Arman membuka buku yang terpisah dengan jilid, dibalik jilid itu terdapat satu buku lagi dan buku itu adalah buku mantera putih mata batin.


Buku Mantera Putih mata batin adalah kumpulan mantera yang dibuat oleh leluhur ahli supranatural beraliran putih yang dibuat untuk melawan buku mantera iblis dan juga buku mantera kegelapan.


Dokter Arman mendapatkan buku itu dengan cara dia curi dari markas tersembunyi sekte Illuminati saat bersama dengan adiknya yaitu Roman yang kini berganti nama menjadi Rahman.


Dia membaca setiap lembar buku mantera putih, lalu dia mempraktekannya untuk melatih kemampuannya.


Dia melakukan itu untuk mempersiapkan diri menghadapi Rahman, dia harus memperkuat dirinya agar bisa mengalahkan Pak Rahman dan secepatnya menyelamatkan keluarga Tirta.


Angin berhembus kencang setiap kali Dokter Arman melatih kemampuannya, dalam waktu singkat Dokter Arman sudah menguasai Teknik Mata Batin tingkat ketiga sampai tingkat keenam.


Sebenarnya tingkatan mantera di buku itu ada 7 tingkatan, hanya saja Dokter Arman belum mampu untuk menguasai Mantera Mata Batin tingkat ketujuh karena terbatas oleh usianya yang sudah cukup tua.


Akan tetapi Dokter Arman merasa kalau kemampuannya itu sudah cukup untuk menghadapi Pak Rahman.


Setelah merasa cukup kuat untuk menghadapi Rahman, Dokter Armanpun menggunakan serpihan dari Pak Rahman yang terluka akibat dihajar habis-habisan olehnya.


Dia menggunakan serpihan itu untuk menemukan dimana keberadaan Pak Rahman dengan kemampuan manteranya.

__ADS_1


__ADS_2