
Setelah hampir 30 menit lamanya, akhirnya Ayah, Mamah dan Tirta kini sudah sampai di depan pintu gerbang rumah Dokter Arman. Rupanya pintu gerbangnya terbuat dari besi Hollo yang di padukan dengan plat besi sebagai penutup pintu gerbang. Terdapat ukiran bentuk mirip bunga yang dibuat dari besi bangunan yang ditekuk menggunakan mesin agar berbentu sepertu bunga Mawar. Ayah pun turun dari motornya, lalu ia memukul pintu gerbang yang terbuat dari besi tersebut. Akan tetapi tidak ada respon dari tuan rumah.
"Sepertinya rumahnya dalam keadaan kosong! Karena dari tadi tidak ada yang menjawab ucapan salam Ayah dan panggilan dari Ayah!" ucap Ayah.
"Entahlah, mungkin jangan-jangan penghuninya memang sedang pergi keluar, atau mungkin kita salah alamat?" tiba-tiba Mamah merasa kalau mereka sepertinya salah alamat.
"Tidak mungkin kita salah alamat, Mah! Sudah jelas kalau tempat tinggal Dokter arman jika berdasarkan peta adalah disini!" ucap Ayah mencoba meyakinkan Mamah dan Tirta.
"Mungkin ada semacam bel atau tuas yang bisa digunakan untuk memberitahu penghuni yang di dalam kalau diluar sedang ada tamu!" ucap Ayah sambil terlihat meneliti pintu gerbang dan sekelilingnya.
Akhirnya Ayah menemukan sesuatu yang mirip seperti saklar lampu berwarna putih, terdapat gambar lonceng di saklar tersebut. Biasanya itu adalah bel untuk tamu yang datang dan memiliki keperluan dengan Dokter Arman.
Setelah Ayah menekan saklar tersebut, rupanya saklar itu menggunakan sistem pegas yang apabila saklar ditekan maka saklar tersebut akan kembali ke posisi semula dengan sendirinya. Tak lama setelah Ayah menekan tombol saklar bel tersebut, lalu terdengar suara dari dalam pintu gerbang.
["Dengan siapa dan ada perlu apa?"]
"Perkenalkan nama saya Achmad Soebandi atau biasa dipanggil dengan nama Pak Andi, saya adalah saudara dari salah satu pasien yang bernama Bu Maya. Saya dan keluarga saya berniat ingin menjenguknya!" ucap Ayah menjelaskan maksud dan tujuannya.
["Tunggu sebentar! Saya akan memberitahu dulu kepada Dokter Arman!]
"Baik, Pak! Saya akan tunggu disini!" jawab Ayah.
Rupanya suara yang bertanya kepada Ayah adalah suara yang berasal dari Security yang bertugas menjaga akses keluar masuk di rumah Dokter Arman. Security itu lalu menelpon telpon rumah yang ada di dalam rumah Dokter Arman. Kebetulan Dokter Arman sudah selesai sarapan, jadi ia bisa langsung mengangkat telepon tersebut. Segera Pak Security memberitahukan Dokter Arman perihal kedatangan tamu yang merupakan saudara dari Bu Maya. Dokter Arman pun memerintahkan kepada Security untuk membuka gerbang dan mengijinkan tamu itu masuk ke dalam.
Setelah selesai menerima telepon dari security, lalu Dokter Arman pun menghampiri Bu Maya.
"Bu Maya, sepertinya anda kedatangan saudara anda!" ucap Dokter Arman.
Mendengar pernyataan dari Dokter Arman, Bu Maya terlihat bingung.
__ADS_1
"Apa? Saudara saya? Memangnya siapa nama mereka?" tanya Bu Maya merasa bingung.
"Security bilang nama mereka adalah Pak Andi dan Ibu Maryam!" jawab Dokter Arman.
Mendengar Dokter Arman menyebut dua nama tersebut, Bu Maya pun tersenyum senang dan mengucapkan kata, "Ya, Dok! Mereka adalah saudara terdekat saya!" Bu Maya merasa ini adalah saat yang tepat untuk memberitahukan kepada keluarga Pak Andi kalau dalang musibah ini semua adalah ulahnya Pak Rahman, suaminya Bu Maya sendiri.
"Anda terlihat sangat senang sekali, Bu Maya! Syukurlah kalau kedatangan saudara anda bisa menyenangkan hati anda, itu berarti anda masih bisa menikmati hidup anda dan sembuh dari depresi" ucap Dokter Arman yang melihat Bu Maya tersenyum setelah mengetahui kalau ada Pak Andi dan keluarganya ingin menjenguk Bu Maya.
Sementara itu diluar rumah Dokter Arman, Pak Security membukakan gerbang untuk Ayah dan keluarganya. Rupanya pintu gerbang tersebut adalah pintu gerbang yang bisa digerakkan dengan sistem otomatis menggunakan tombol. Saat Pak Security menekan tombol berwarna merah, maka pintu gerbang akan terbuka. Jika Pak Security menekan tombol berwarna hitam, maka pintu gerbang akan menutup dengan sendirinya.
Setelah pintu gerbang terbuka, Pak Security pun mempersilahkan Ayah, Mamah dan Tirta untuk masuk ke dalam.
"Silahkan masuk Tuan Andi, Dokter Arman sudah menunggu kalian bersama Bu Maya di dalam rumah!" ucap Pak Security dengan sopan.
"Terima kasih Pak Security!" jawab Ayah.
Lalu Pak Security pun menekan tombol berwarna hijau dan pintu gerbang menutup dengan sendirinya. Kemudian, Pak Security mengantar Ayah, Mamah dan Tirta menuju ke depan pintu rumah Dokter Arman. Dikarenakan Dokter Arman memiliki lahan yang luas, maka jarak dari pintu gerbang menuju pintu depan rumahnya itu cukup jauh sekitar 100 meter. Setelah sampai depan pintu rumah Dokter Arman, Ayah, Mamah dan Tirta disambut oleh Bu Minah. Pak Security pun meninggalkan mereka dan kembali menuju pos security. Ayah, Mamah dan Tirta mengikuti Bu Minah masuk kedalam untuk menemui Bu Maya dan Dokter Arman.
Mamah langsung memeluk Bu Maya, Bu Maya pun membalas pelukan dari Mamah. Air mata Bu Maya menetes dan jatuh ke bahu Mamah. Mamah yang menyadari Bu Maya sedang menangis lalu melepas pelukannya dan menatap Bu Maya.
"Bu Maya, kenapa anda menangis? Pasti anda benar-benar sangat terpukul dikarenakan harus kehilangan suami dan putrimu! Saya turut berduka cita ya, Bu!" ucap Mamah lalu kembali memeluk Bu Maya.
Kini giliran Bu Maya yang melepaskan pelukannya, "Terima kasih atas belasungkawanya Bu Maryam! Tapi bukan itu yang membuat saya menangis!" jawab Bu Maya dan membuat Ayah, Mamah dan Tirta terkejut dengan ucapan Bu Maya.
"Kalau bukan dikarenakan hal itu, lalu apa yang membuat anda begitu terpukul, Bu?" lanjut Mamah bertanya.
Bu Maya pun menjauhi Mamah, lalu ia berjalan mendekati jendela. Ia menatap awan dilangit yang terlihat hampir mendung, mungkin beberapa jam lagi awannya akan benar-benar gelap dan turun hujan.
"Yang membuat saya meras terpukul adalah dikarenakan saya sangat merasa berdosa kepada kalian sekeluarga!" ucap Bu Maya yang masih dengan posisi sedang menatap ke awan melalui kaca jendela ruang tamu.
__ADS_1
Ayah yang tidak mengerti dengan ucapan Bu Maya langsung ikut melayangkan pertanyaan, "Maksud Bu Maya Apa? Bu Maya sama sekali tidak melakukan kesalahan terhadap kami, malahan justru kami yang membuat anda merasa kehilangan!-
"Karena kami lah suami anda jadi mati terbunub oleh Ratu Ular Siluman! Sudah seharusnya kami membalas kebaikan dari Pak Rahman suami anda, Bu Maya!" celoteh Ayah panjang.
Kini Bu Maya membalikkan badannya dan menghadap kepada mereka bertiga dan juga Dokter Arman, "Kalian telah terkena jebakan dari suami saya! Rahman telah menjebak kalian, sebaiknya jangan kalian teruskan misi penyelamatan putri kalian!"
Mendengar perkataan Bu Maya, membuat Ayah menjadi bingung dan tidak mengerti. Ia merasa kalau Bu Maya sepertinya memang benar-benar sudah terganggu jiwanya. Sudah jelas-jelas Ayah melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Pak Rahman rela mengorbankan diri demi membantu dirinya untuk bisa menolong Nana. Akan tetapi, kenapa justru Bu Maya malah mengatakan hal yang sebaliknya.
"Maaf, Bu Maya! Sepertinya anda benar-benar sedang dalam masa depresi tingkat tinggi!-
"Sepertinya anda memang harus menjalani pemulihan dengan orang yang tepat!" ucap Ayah.
Bu Maya terkejut karena ternyata hal ini diluar ekspektasinya. Ia mengira kalau Pak Andi dan keluarganya akan mempercayai ucapannya sehingga mereka bisa selamat dari jebakan Pak Rahman. Akan tetapi, justru kini mereka malah menganggap kalau ucapannya adalah sesuatu halusinasi yang berasal dari jiwanya yang depresi.
"Tidak, Pak Andi! Semua yang saya katakan ini benar adanya! Suami saya adalah orang tidak sebaik yang anda kira, ia bahkan rela mengorbankan anaknya sendiri demi tercapainya tujuan dia!" pekik Bu Maya agar Ayah mempercayainya.
Ayah yang sama sekali tidak percaya dengan ucapan Bu Maya lantas langsung mendekati Mamah dan Tirta.
"Ayo, Mah! Ajak Tirta keluar dari sini! Sepertinya Bu Maya harus menjalani perawatan yang ekstra disini!" ucap Ayah kepada Mamah.
"Dokter Arman, maaf kalau kehadiran kami mengganggu anda. Tetapi, kami memohon kepada anda agar sekiranya anda bisa menyembuhkan Bu Maya, bagaimanapun kami sudah menganggap dia adalah keluarga kami juga!" pinta Ayah kepada Dokter Arman.
Ayah, Mamah dan Tirta pun berpamitan dengan Dokter Arman dan Bu Maya. Mereka bertiga bersalaman dengan Dokter Arman dan Bu Maya. Saat Mamah bersalaman dengan Bu Maya, Mamah menatap mata Bu Maya dalam-dalam. Lalu Bu Maya mengucapkan sebuah perkataan.
"Percayalah kepada saya, Bu Maryam! Suamiku telah menjebak kalian!"
Mendengar ucapan dari Bu Maya, Mamah pun sempat terdiam dan memikirkan ucapan tersebut. Namun Ayah langsung memanggil Mamah dan Mamah pun langsung bergegas mengikuti Ayah berjalan keluar rumah Dokter Arman. Saat mereka sudah sampai diluar rumah Dokter Arman, Dokter Arman pun memanggil mereka. Mereka bertiga lalu berhenti dan Dokter Arman menghampiri Ayah.
"Sebelumnya saya meminta maaf Pak Andi! Bukannya saya ingin ikut campur urusan yang belum saya ketahui, akan tetapi saya hanya ingin memberitahukan kalau dari hasil diagnosa saya menyatakan kalau Bu Maya itu tidak sakit jiwa, Pak!" ucap Dokter Arman, lalu Dokter Arman meninggalkan mereka bertiga dan masuk kembali kedalam rumahnya.
__ADS_1
Ayah terdiam dan merenung, namun entah kenapa terbesit di dalam hatinya kalau ia akan tetap melanjutkan misi penyelamatan Nana ini. Tidak peduli Pak Rahman benar menjebaknya atau tidak, yang terpenting mereka bisa membawa Nana kembali pulang. Biarlah nanti Pak Rahman akan menjadi urusan dirinya bila memang ternyata ia menjebak Ayah dan yang lainnya. Lalu Ayah, Mamah dan Tirta kembali melanjutkan perjalanan menuju ke danau setu cikaret. Mereka bertiga akan menunggu bergantinya siang ke malam di danau tersebut.