LEMBU

LEMBU
Chapter 64 - Ending


__ADS_3

"Kakak, Kakak mau kemana? Kakak jujur aku sangat merasa sedih kehilangan Ayah dan Mamah! Semua ini adalah salahku!"


Nana kembali bisa mengontrol kesadarannya, akan tetapi dia sangat merasa sedih karena telah kehilangan Ayah dan Mamahnya.


Lalu Tirtapun berontak daru Dokter Arman untuk melepaskan diri dari genggaman erat Dokter Arman, lalu dia menghampiri Nana yang sedang menangis.


"Sudah, Nana, kamu jangan menangis! Ini semua bukan kesalahanmu, ini adalah kesalahan kakak yang tidak becus menjagamu!" ucap Tirta.


Keduanya lalu saling berpelukan dan menangis bersama, lalu Tirta meminta maaf kepada Nana.


"Nana, maafkan ucapan kakak sewaktu memancing di danau!-


"Kakak tidak serius mengucapkan itu, kakak berjanji akan selalu mengajak Nana bermain dan menjaga Nana agar selalu selamat!" tutur Tirta.


Mendengar ucapan dari Tirta, Nanapun melemparkan senyum lalu kemudian dia kembali bersedih.


Perlahan-lahan segel kontrak wadah iblis di bahu Nana memudar, Dokter Arman kembali mendekati Nana.


"Lihatlah, Om Dokter! Cinta aku yang begitu besar kepada adikku telah mengalahkan kekuatan iblis jahat! Ayo kita ajak Nana pulang juga!" pinta Tirta.


Akan tetapi Dokter Arman masih merasakan curiga atas apa yang telah terjadi dengan Nana.


Namun Tirta tidak mau menunggu persetujuan dari Dokter Arman, dia langsung mengangkat Nana dan menggemblok Nana.


Lalu Tirta melangkah membawa Nana menuju portal keluar dimensi alam gaib.


Dokter Arman mengikuti Tirta dari belakang, dia terus memperhatikan Nana.


["Rasanya tidak mungkin kalau segel kontrak itu bisa dengan mudah dipatahkan hanya dengan perasaan cinta seorang kakak kepada adiknya!"]


Dokter Arman mengeluarkan senjata parang nerakanya untuk mengetes apakah Nana benar sudah tidak dalam pengaruh iblis atau justru sudah di kuasai oleh iblis.


"Katon parang neraka!"


Dokter Arman melemparkan senjatanya itu ke arah Nana.


"Duuaaarrrr!"


Serangan itu tepat mengenai Nana sehingga menghasilkan ledakan dahsyat, lalu Dokter Arman menangkap tubuh Tirta yang terpental sambil masih menggemblok Bu Maya.


"Bugh!"


Tubuh Dokter Arman tersungkur ke tanah, kekuatannya sudah habis, kini dia sudah sangat lemah.


Sementara itu dari kepulan asap hasil ledakan karena serangan Dokter Arman, tiba-tiba muncul tangan anak kecil yang memegang senjata milik Dokter Arman tadi.


"Om Dokter, apa maksud Om menyerang Nana, Om mau membunuh...!"


Ucapan Tirta terhenti lantaran dia melihat kalau senjata milik Dokter Arman rupanya berhasil di tangkap oleh Nana dengan hanya menggunakan satu tangannya saja.


"Hmmm.. rupanya kau mempunyai insting yang kuat juga ya! Kau patut di acungi jempol!"


Tiba-tiba suara Nana berubah menjadi sangat menyeramkan dan mata Nana juga berubah menjadi hitam pekat dengan pupil matanya berwarna merah api.


"Kalian tidak akan ku biarkan pergi dari sini! Kalian harus menjadi makananku!"


Tiba-tiba Nana melompat ke atas dan mengeluarkan sebuah senjata yang keluar dari telapak tangannya.


"Matilah kalian ditanganku, hahaha!"


Tirta dan Dokter Arman sudah sangat lelah dan tidak berdaya, mereka berdua sudah memasrahkan diri jika memang harus mati.


Namun tiba-tiba sesuatu yang mengejutkan terjadi.


"Srakkk!"


Tiba-tiba ada sebuah benda panjang mirip akar pohon yang berwarna hitam pekat melilit pada tubuh Nana yang masih melayang di udara.

__ADS_1


Dokter Arman dan Tirta terkejut melihat kejadian itu.


"Siapakah yang sudah menolong kita!" ucap Dokter Arman.


Tiba-tiba muncullah Tuyul Dino, rupanya Tuyul Dino lah yang telah mengikat tubuh Nana dengan kemampuan baru tuyul Dino.


"Kalian segera pergi dari sini, biarkan aku yang menahan Nana disini!" perintah Tuyul Dino.


Lalu Tuyul Dino juga mentransfer sebagian energi miliknya kepada Dokter Arman dan Tirta agar mereka berdua bisa segera pergi menyelamatkan diri.


Tiba-tiba tanah kembali bergetar, sepertinya pintu portal penghubung alam manusia dan alam gaib akan segera tertutup.


Buru-buru Dokter Arman menggemblok Bu Maya dan berlari menuju pintu Portal.


Sementara Tirta masih menatap Nana yang telah dikendalikan oleh Iblis dan sedang bertarung dengan Tuyul Dino.


"Tirta, apa lagi yang kau tunggu? Cepatlah lari, portalnya sebentar lagi akan tertutup!" perintah Dokter Arman.


Tirta masih menatap Nana, dia sungguh berat untuk meninggalkan adik kesayangannya itu di dimensi alam gaib.


["Nana, aku akan selalu mengajakmu bermain dan menjaga dirimu agar selalu aman dan selamat!"]


Tirta teringat dengan janjinya yang dia ucapkan pada Nana, matanya berkaca-kaca dan tidak lama kemudian air mata menetes dari matanya dan jatuh ke tanah.


Dengan sekuat hati Tirta menggerakkan kakinya dan memalingkan wajahnya lalu berlari menuju portal penghubung 2 dunia.


Sambil menangis Tirta terus berlari tanpa menoleh ke belakang.


Begitupun juga dengan Dokter Arman yang juga berlari menuju portal penghubung.


"Bbzzztt... bzzztt..!"


Muncul aliran listrik pada sekeliling portal penghubung 2 dunia, sepertinya portal itu akan tertutup dalam waktu beberapa menit lagi.


Dokter Arman dan Tirta berlari sekuat tenaga, Sementara pintu portal semakin lama semakin mengecil.


Sesampainya di luar portal penghubung 2 dunia, tertutupnya portal itu menghasilkan gelombang kejut yang cukup besar yang mampu mendorong perahu rakit dimana Dokter Arman dan Tirta terjatuh dari portal.


Akibat gelombang kejut yang besar itu, perahu rakitpun terpental sampai ke tepi danau.


Tirtapun pingsan akibat gelombang kejut itu, namun tidak dengan Dokter Arman.


Dokter Arman membawa tubuh Tirta dan Bu Maya ke tepi danau dan beristirahat sejenak sampai akhirnya dia tidak sengaja tertidur di bawah pohon yang besar di tepi danau.


Esok pagi harinya Mereka semua terbangun dan menemukan mayat Ayah dan Mamah mengambang di danau setu cikaret, juga ditemukan mayat Pak Rahman.


"Wiw.. wiw.. wiw..!"


Tidak lama kemudian terdengar suara sirine ambulance dan tim SAR.


Rupanya mayat Ayah, Mamah dan Pak Rahman sebelumnya sudah terlebih dahulu ditemukan oleh warga yang sedang memancing di tepi danau.


Warga itulah yang menghubungi kepolisian dan ambulance.


Akan tetapi tidak ditemukan adanya mayat Nana, Tirta menangis sejadi-jadinya karena telah kehilangan keluarganya.


Sementara Bu Maya juga ikut menangis saat melihat mayat Suaminya yaitu Pak Rahman yang tewas dalam keadaan mata melotot dan mulut terbuka.


Mayat Ayah, Mamah dan Pak Rahman dimasukkan ke dalam kantong jenazah dan dimasukkan ke dalam mobil ambulance.


Lalu Dokter Arman mengajak Bu Maya dan Tirta untuk tinggal di rumahnya agar menjalani masa pemulihan.


# # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # #


Beberapa bulan kemudian, Bu Maya menjalani perawatan di rumah sakit dengan dibiayai oleh Dokter Arman.


Sementara Tirta, dia masih depresi dan terkubur oleh kesedihan sampai dia kehilangan semangat untuk sekolah dan bergaul dengan anak-anak sebayanya.

__ADS_1


Akhirnya dikarenakan Dokter Arman tidak tega melihat Tirta yang terus terpuruk dalam kesedihan, Dokter Arman memutuskan untuk membawa Tirta ke sahabatnya yang merupakan seorang ahli Hipnoterapi yang bernama Dokter Amir.


Dokter Arman meminta kepada Dokter Amir untuk membuat Tirta melupakan kenangan pahit dimasa lalunya dan juga membuat Tirta lupa dengan kedua orang tua dan juga adik perempuannya.


Dokter Amirpun melakukan permintaan Dokter Arman, dia melakukan Hipnoterapi kepada Tirta.


"Arman, aku sudah mengubur semua kenangan masa lalu anak ini sedalam-dalamnya di alam bawah sadarnya!-


"Akan tetapi jika ada suatu hal yang membuat ingatan masa lalunya itu terpancing keluar, maka dia akan kembali mengingat masa lalunya!"


Dokter Amir menghela nafasnya panjang dan kembali melanjutkan kata-katanya.


"Sebab kenangan masa lalu tidak akan bisa dihapus dari memorinya melainkan hanya bisa kita sembunyikan saja!" ucap Dokter Amir.


Menanggapi hal itu, Dokter Armanpu tidak mengkhawatirkannya, yang terpenting Tirta bisa kembali hidup normal seperti anak-anak yang lain.


Lalu Tirtapun selesai menjalani Hipnoterapi, wajahnya kembali ceria dan dia menatap ke arah Dokter Arman.


"Om siapa? Aku seperti pernah mengenal Om?" tanya Tirta setelah menatap Dokter Arman.


Dokter Armanpun berimprovisasi dan memberi jawaban kepada Tirta.


"Om adalah Orang yang akan mengangkatmu menjadi anak, mulai saat ini kamu panggil Om dengan sebutan Ayah! Oke!" ucap Dokter Arman.


Tirtapun mengangguk dan memanggil Dokter Arman dengan panggilan Ayah.


Kini hidup Tirta kembali normal, Dokter Arman memindahkan Tirta ke sekolah dasar kelas Internasional di Ibukota agar Tirta tida bertemu dengan orang-orang yang dapat membuat kenangan masa lakunya teringat kembali.


Bahkan saat Tirta sedang tidur di kamar, diam-diam Dokter Arman memasang segel pengunci alam bawah sadar menggunakan kekuatan mantera miliknya agar ingatan masa lalu Tirta semakin sulit untuk kembali muncul.


Akan tetapi Dokter Arman tetap mengajak Tirta setiap kali dia menjenguk Bu Maya yang sedang dirawat di rumah sakit.


Kondisi Bu Maya semakin hari semakin memburuk, Bu Maya masih belum sadar dari komanya.


["Maya, pasti karena sebagian jiwamu sudah dihisap oleh Roman, makanya kau terus menerus dalam keadaan koma! Aku tidak punya cara lain untuk mengobatimu, maafkan aku, aku akan mengikhlaskanmu jika memang takdir berkehendak lain!"]


Dokter Arman mengikhlaskan Bu Maya jika memang takdirnya adalah Bu Maya harus pulang menghadap Tuhan.


Sekarang fokus tujuan hidupnya adalah membahagiakan Tirta dan menjamin masa depannya agar cerah.


Meskipun hidup Tirta sudah normal, akan tetapi pengaruh magis efek dari dimensi alam gaib masih membekas pada dirinya.


Efek tersebut membuat Tirta menjadi anak indigo dan bisa berinteraksi dengan makhluk tak kasat mata.


Dokter Arman menyadari akan hal itu, lalu dia mengajarkan tekhnik mantera kepada Tirta sampai akhirnya Tirta berhasil menguasainya.


# # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # #


Sementara itu pihak rumah sakit tempat Bu Maya dirawat memberikan kabar kepada Dokter Arman kalau Bu Maya telah meinggal dunia.


"Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun!"


Dokter Arman mengajak Tirta untuk ke rumah sakit dan membawa jenazah Bu Maya untuk segera menjalani proses pemakaman secara muslim.


Proses pemakamanpun berjalan dengan lancar, kini hanya Tirta saja satu-satunya yang tersisi yang menemani hidup Dokter Arman.


Dokter Arman berniat akan menjual rumah dan seluruh harta bendanya untuk membiayai pendidikan Tirta hingga mencapai perguruan tinggi.


Lalu Dokter Arman mengajukan pensiun dini sebagai dokter Rumah sakit jiwa, lalu dia menjual rumah dan seluruh harta bendanya.


Semua pasien eksklusifnya juga telah dia pulangkan dan telah kembali hidup normal dan sembuh dari gangguan kejiwaan.


Lalu Dokter Arman membeli rumah yang jauh lebih sederhani tapi masih memiliki halaman yang cukup luas yang bisa dia gunakan untuk menanam tanaman yang memang adalah hobinya.


Dokter Arman dan Tirta akhirnya hidup bahagia setelah mengalami perjalanan hidup yang menyeramkan.


Tirta berhasil menempuh pendidikan sampai ke bangku Sekolah Menengah Atas dan sukses mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah.

__ADS_1


Kini kehidupan Dokter Arman dan Tirta berubah 360 derajat menjadi lebih bahagia dan tenang.


__ADS_2