LEMBU

LEMBU
Chapter 30


__ADS_3

"Prokk... prokk.. prokk.."


Langkah kaki Bu Maya dan Dokter Arman begitu terdengar menggema di dalam lorong. Sementara itu sosok hantu berbulu hitam juga masih mengejar mereka berdua.


"Bu Maya! Kita bersembunyi disana!"


Dokter Arman mengajak Bu Maya untuk bersembunyi di balik batu yang besar. Bu Maya tidak menyangka kalau sosok perempuan berambut panjang yang ia ajak berbicara tadi adalah sosok hantu Genderuwo yang menyamar.


"Untung saja saya bisa tepat waktu menolong anda, kalau tidak mungkin anda sudah jadi makanan hantu genderuwo tadi!" ucap Dokter Arman kepada Bu Maya.


"Maafkan saya, Dok! Saya tadi sempat ragu apakah anda benar-benar Dokter Arman yang saya kenal atau hanya tipuan makhluk halus!" jawab Bu Maya.


"Terima kasih telah menolong saya, Dok!" ucap Bu Maya.


"Rroooooaaaarrr"


Hantu Genderuwo mengaum, ia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari mangsanya yang tadi lari. Mangsa yang ia cari tentunya adalah Bu Maya.


Dokter Arman dan Bu Maya bernafas dengan perlahan-lahan agar tidak di dengar oleh hantu Genderuwo. Tak lupa Dokter Arman juga memadamkan api obor miliknya.


"Bu Maya, Setelah hantu Genderuwo itu menjauhi kita, segera anda mengikuti saya! Saya tahu jalan keluar kesini!" perintah Dokter Arman kepada Bu Maya.


"Baik, Dok!"


Bu Maya menjawab perintah Dokter Arman sambil mengangguk.


Hantu Genderuwo melangkah perlahan mendekati batu yang dijadikan tempat bersembunyi oleh Dokter Arman dan Bu Maya. Matanya berwarna merah dan dari mulutnya terlihat gigi taring yang tajam dan penuh darah. Hantu Genderuwo itu kembali mengaum. Suara auman dari hantu Genderuwo memekik di telingga hingga membuat jantung Bu Maya dan Dokter Arman berdebar kencang.


"Rroooooaaaaarrrr"


Semakin lama, suara auman hantu Genderuwo semakin terasa dekat. Hal tersebut membuat mereka berdua menjadi panik.


"Dok, bagaimana kalau hantu Genderuwo itu menemukan kita bersembunyi disini?" tanya Bu Maya dalam ketakutan, nada bicaranya terbata-bata.


"Jangan takut, Bu Maya! Berdoalah kepada Tuhan Yang Maha Esa, mintalah perlindungan kepada-Nya!" Dokter Arman mencoba menenangkan hati Bu Maya yang dilanda rasa panik.


"Rroooooaaaaaaaar!"

__ADS_1


Suara auman Hantu Genderuwo terasa semakin dekat dengan mereka. Bu Maya melayangkan doa dan pasrah kepada Tuhan.


"Ya Tuhan, bila memang takdirku untuk mati disini, maka aku pasrah akan takdirmu! Akan tetapi jika aku masih diberi kesempatan hidup, maka ijinkan aku untuk menyelamatkan mereka!" Bu Maya memejamkan matanya dan melayangkan doa di dalam hatinya.


Langkah kaki hantu Genderuwo pun tidak terdengar lagi, mungkin ia berhenti melangkah. Dokter Arman yang penasaran mencoba mengintip hantu Genderuwo. Rupanya hantu Genderuwo memang telah berhenti melangkah, akan tetapi belum pergi meninggalkan tempat itu. Saat Dokter Arman masih mengintip, tiba-tiba hantu Genderuwo pun menoleh ke arah Dokter Arman. Cepat-cepat Dokter Arman kembali ke posisinya bersembunyi dan berharap semoga hantu Genderuwo tidak melihat dirinya saat tadi mengintip.


"Proookk.. prookkk.."


Hantu Genderuwo kembali melangkahkan kakinya mendekati batu besar dimana Bu Maya dan Dokter Arman bersembunyi. Sepertinya Hantu Genderuwo melihat Dokter Arman yang tadi sempat mengintip.


Hantu Genderuwo semakin mendekati batu tersebut. Akhirnya, Hantu Genderuwo pun kini sudah tepat di dekat batu dimana Bu Maya dan Dokter Arman bersembunyi. Dan saat hantu Genderuwo sudah tepat berada di belakang batu tersebut, Dokter Arman dan Bu Maya sudah tidak ada disana. Entah kabur kemanakah Dokter Arman dan Bu Maya.


# # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # #


Sementara itu ditempat lain di dalam sebuah lorong yang gelap. Ayah masih berjalan menelusuri lorong yang gelap dengan bermodalkan lampu senter di kepalanya, berharap bisa secepatnya menemukan keluarganya. Ia tidak pernah merasa lelah dalam melangkah. Sesekali ia berlari agar lebih cepat, namun ia belum juga bisa menemukan seseorangpun disini.


"Tirta, Nana, Maryam! Dimanakah kalian berada? Berikanlah aku petunjuk ya Tuhanku!" Ayah mulai merasa kebingungan dan hilang arah tujuan, ia belum bisa menemukan keluarganya.


Ayah melangkah mendekati dinding lorong, lalu ia bersandar kepada dinding lorong itu. Ia merogoh ke saku celana sebelah kanannya, lalu ia keluarkan dompet dari saku celananya.


Flashback On:


"Krrriiiiiiiing"


Ponsel ayah berdering menunjukkan adanya notifikasi panggilan dari sang istri tercinta. Saat itu Ayah masih menjalankan Dinas sebagai petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Saat itu ayah bertugas sebagai Damkar sedang mendapatkan tugas untuk memadamkan si jago merah yang sedang melahap rumah di perkampungan.


"Astaghfirulloh, Maryam! Kenapa kau terus menelpon aku, tidak tahukah kamu kalau aku sedang sibuk!" ucap Ayah di dalam batin setelah kembali mendengar ponselnya berdering.


Dikarenakan sudah ke sepuluh kalinya istrinya menelpon, akhirnya ayahpun mengangkat telpon itu.


"Halo, Assalamu'alaikum Maryam! Ada apa kamu nelpon aku terus, aku sedang sibuk! Kalau kamu lagi ngidam kamu boleh telpon aku lagi satu jam kemudian!" ucap Ayah.


"Perut aku sakit, Mas Andi! Aku kayaknya mau kontraksi dan lahiran, Mas! Aaawww!" Mamah memekikkan suaranya karena ia mulai merasakan guncangan di bagian perutnya.


"Astahgfirulloh, kamu serius Maryam! Kalau begitu aku sampaikan ijin dulu sama yang lainnya! Kamau tahan dulu sebentar, akan aku telpon Kak Risma agar segera datang kesana!" ucap Ayah dengan nada suara yang panik.


Segera Ayah bergegas menghampiri rekan tim sesama Tim Damkar, lalu ia mengutarakan keadaan istrinya dirumah yang sedang mengalami kontraksi. Akhirnya Ayahpun mendapatkan ijin untuk pulang untuk menemani Mamah dan menyaksikan kelahiran anaknya. Sebelumnya memang sudah beberapa kali menjalani pemeriksaan dan dari tim ahli kebidanan pun sudah mengatakan bahwa Ibu Maryam mengandung bayi kembar. Akan tetapi, hari perkiraan lahir dari Bidan masih sekitar satu minggu lagi. Jadi kalau memang sekarang istrinya akan melahirkan, berarti kelahirannya satu minggu lebih awal dari prediksi tim Bidan.

__ADS_1


"Kriiiiiiiing"


Ponsel ayahpun kembali berdering, kali ini adalah telpon dari Kak Risma kakak kandungnya Pak Andi.


"Halo, Assalamualaikum Andi! Kamu nanti langsung ke Rumah Bersalin saja ya, kakak sudah membawa istrimu ke rumah bersalin, kalau kamu pengen menyaksikan kelahiran anak kembarmu maka jangan sampai terlambat datang kesini!" ucap Kak Risma.


"Baik, Kak! Aku pasti sampai kesana tepat waktu, terima kasih sudah membantu kami, Kak! Maaf jadi merepotkan!" kata Pak Andi.


"Jangan terlalu berlebihan, Andi! Orang tua kita dulu mendidik kita untuk selalu saling membantu kepada saudara, bagaimanapun Maryam juga kan adikku dan anak yang dilahirkannya adalah keponakanku!" jawab Kak Risma.


Tak mau banyak bicara, Kak Rismapun langsung memotong pembicaraan, "Sudah cepat kamu harus sampai kesini dalam waktu 10 menit!" teleponpun selesai.


Ayahpun langsung bergegas memacu kuda besi beroda dua miliknya. Ia memacu kudanya dengan kecepatan tinggi, sehingga dalam waktu hanya lima belas menit ayahpun sudah sampai di rumah bersalin. Cepat-cepat Ayah masuk ke dalam ruang bersalin. Ia memandang wajah istrinya yang terlihat sayu. Istrinya pun melemparkan simpul senyum ketika melihat suaminya telah datang untuk menemaninya melewati masa-masa melahirkan. Ayahpun mendekati Mamah tepat di samping ranjang. Mamahpun memegang tangan Ayah, mereka berdua saling bertatapan penuh kasih.


"Aaaaaarrrrrrrghhhh"


Mamah merasakan adanya dorongan yang sangat kuat dari organ persalinannya. Karena tak kuat menahan rasa sakit, tanpa sadar tangan Mamah menjambak rambut Ayah yang saat itu sedang membungkuk untuk menyemangati istrinya. Dengan sekuat tenaga Mamah mengejan dan sekuat tenaga juga tangan Mamah menarik rambut Ayah. Meskipun Ayah merasakan sakit, akan tetapi ia tidak mengeluh dan justru ia tersenyum sambil sesekali meringis kesakitan saat rambutnya ditarik sekuat tenaga oleh istrinya.


"Ooooaaaaaaaaaa!"


Suara tangis bayi pun memekik dan memecah keheningan, Ayah dan Mamah pun merasakan kebahagiaan yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Bayi laki-laki yang terlihat begitu lucu dan tampan telah hadir di dunia untuk mewarnai kehidupan rumah tangga mereka. Tangan Mamah kini sudah tidak menjambak rambut ayah lagi. Akan tetapi, selang 2 menit kemudian, Mamah kembali merasakan sensasi dorongan dari dalam organ persalinannya.


"Aaarrrrrrgggghhhh, Mas! Perutku kontraksi lagi!" Ucap Mamah ketika merasakan adanya dorongan yang kuat dari organ persalinannya untuk yang kedua kalinya.


Kembali Ayah menggenggam tangan istrinya dan memberikan kata-kata penyemangat. Kali ini Ayah tidak membungkuk, mungkin takut di jambak lagi oleh Mamah.


"Sepertinya ini saatnya bayi kedua lahir!" ucap Bu Bidan kepada dua orang asistennya yang membantu ia dalam mengawasi proses persalinan Ibu Maryam.


"Aaarrrrrrggghhhhhhhh"


Mamah kembali berteriak, kali ini giliran tangan Mamah menarik kerah baju Ayah hingga membuat ayah sulit bernafas seperti tercekik. Ayah mencoba untuk tidak menghiraukannya dan membiarkan Mamah terus menarik kerah bajunya sekuat tenaga.


"Oooaaaaaaaak"


Kembali suara tangis bayi terdengar memekik seluruh ruangan bersalin. Kali ini adalah bayi berjenis perempuan yang hadir mewarnai rumah tangga Ayah dan Mamah.


Setelah proses persalinan selesai, kedua pasangan suami istri yang selalu mesra itupun sepakat untuk memberikan kedua anak kembar mereka dengan nama Tirta dan Nana. Mereka berharap, kelak kedua anak kembar mereka bisa menjadi orang yang sukses dan dermawan di masa depan.

__ADS_1


__ADS_2