
"Ayaaaaah, Mamaaaaah, tolong aku!"
Tirta terus berteriak memanggil Ayah dan Mamahnya, berharap agar kedua orang tuanya bisa menyelamatkan dirinya dari cengkeraman hantu kuntilanak merah.
"Hihihihihihiiiiiiii"
"Roooaaaaaaaaaar"
Kuntilanak merah sangat begitu menyeramkan. Wajahnya hancur dan penuh dengan sayatan benda tajam. Tubuhnya mengeluarkan bau amis yang menyengat hidung, membuat Tirta merasa mual dan hampir saja ia ingin muntah. Di kejauhan, Tirta bisa melihat Ayah yang masih berlari mengejar Tirta yang dalam cengkeraman hantu kuntilanak merah.
"Bertahanlah sayang! Ayah pasti akan menyelamatkanmu!"
Ayah terus berlari dan berlari sekuat tenaga, berharap agar hantu kuntilanak merah yang menculik Tirta berhenti dimanapun. Meskipun Ayah sudah merasakan lelah dan kakinya mulai melemah, ia tetap terus berlari mengejar hantu kuntilanak merah tersebut.
"Sialan! Mau dibawa kemana anakku?" ucap Ayah di dalam hati.
Setelah sudah jauh mengejar, akhirnya hantu kuntilanak merah tiba-tiba menukik kebawah dan memasuki sebuah gua kecil yang diperkirakan adalah sebuah lorong yang akan masuk ke ruang bawah tanah.
"Ahh, akhirnya hantu itu turun juga! Pasti itu adalah sarang tempat tinggal hantu kuntilanak merah!" ucap Ayah dalam hati.
Hantu Kuntilanak Merah itu memasuki lubang gua bawah tanah layaknya seekor Musang yang turun dari atas pohon, merayap dalam keadaan kepala di bawah dan kakinya berada di atas. Tangan kiri mencengkeram kuat tubuh Tirta, Sementara tangan kanannya ia gunakan untuk merayap masuk ke dalam lubang gua. Tirta yang menyadari kalau Ayahnya masih mengikuti, mencoba untuk tenang agar hantu Kuntilanak merah tidak mengetahui kalau Ayah masih mengikutinya.
"Hihihihihiiii"
__ADS_1
Hantu Kuntilanak merah terus mengeluarkan suara yang menjadi ciri khasnya yaitu tertawa cekikikan.
Ayah yang sudah melihat hantu kuntilanak merah masuk ke dalam lubang, perlahan-lahan melangkah mendekati lubang gua tersebut. Tercium bau amis yang sangat menyengat dari dalam gua.
"Sepertinya memang benar lubang ini adalah sarang hantu itu! Bau amisnya sangat menyengat disini!" ucap Ayah.
Tiba-tiba Ayah teringat dengan keadaan istrinya, segera ia menoleh ke belakang dan memanggil-manggil nama istrinya.
"Maryam, Maryam! Kamu sedang dimana? Maryam!" Ayah terus memanggil Mamah yang sudah tidak ada di belakangnya.
"Kemanakah Maryam? Apakah dia tertinggal di belakangku?" gumam ayah dalam hati.
Tiba-tiba Ayah teringat akan suara yang memanggilnya dan meminta tolong saat ia sedang sibuk mengejar hantu kuntilanak merah yang menculik Tirta, "Ahh sial, apakah suara yang meminta tolong tadi itu adalah suara Maryam?" Ayah mengacak-acak rambut kepalanya, "Sialan! Kenapa aku bisa tidak menyadarinya!" Ayah merasa kesal dengan dirinya sendiri.
Tidak ingin larut dalam penyesalan, Ayah memutuskan untuk segera masuk ke dalam lubang dimana hantu kuntilanak merah membawa Tirta. Ia tidak ingin sampai menyesal kedua kalinya.
Ayah pun kembali mendekati lubang gua tersebut, tidak lupa ia mengambil masker penutup hidung dan mulut yang ada di kantung celananya. Ayah memang selalu membawa masker penutup hidung dan mulut di kantong celananya. Ayah sering bepergian menggunakan sepeda motor, jadi ia selalu membawa masker itu sebagai bentuk persiapan jika ia ingin pergi keluar.
"Haaaaaap"
Ayah sedikit melompat untuk bisa meraih bibir lubang gua tersebut, lalu ia memasukkan kepalanya perlahan-lahan sambil melihat kontur gua itu. Kondisi di dalam terlihat sangat gelap, hingga akhirnya ayah mencoba membuka tasnya dan mengambil lampu senter yang bisa di ikatkan di kepalanya. Ia pun menggunakan lampu senter ikat kepala tersebut untuk menerangi jalannya. Ayah melanjutkan untuk masuk ke dalam lubang gua tersebut.
Rupanya di dalam lubang gua itu terhubung dengan terowongan bawah tanah yang gelap gulita dan semakin lama semakin sempit, beruntung Ayah sudah menggunakan lampu senter di kepalanya. Terowongan tersebut hanya berukuran pas dengan tubuh Ayah, Ayah merayap perlahan agar tubuhnya tidak terluka karena gesekan dari kontur terowongan tersebut.
__ADS_1
"Terowongan ini sangat sempit bagiku, akan tetapi kenapa hantu itu bisa masuk kesini dengan cepat?" Ayah merasa kesal dengan terowongan yang sempit.
"Ahh tentu saja hantu itu bisa dengan mudahnya masuk ke terowongan ini, mereka itu diberi kemampuan sihir oleh Tuhan, tapi aku tidak akan menyerah! Aku akan menyelamatkan anakku!" batin Ayah.
"Tirta! Tirta! Tunggu Ayah, Nak! Ayah pasti akan menolongmu!" Ayah berteriak memanggil Tirta, terdengar suara Ayah menggema di dalam terowongan.
Setelah lama menyusuri terowongan itu, akhirnya Ayah berhasil keluar dari terowongan itu dan menemukan sebuah tempat yang cukup luas. Tempat itu bagaikan istana ruang bawah tanah dengan penuh stalagnit di langit-langitnya. Tetesan air terdengar begitu jelas, ada juga sebuah batu bercahaya hijau bagaikan kristal. Akan tetapi, ayah tidak menemukan sosok hantu kuntilanak merah yang membawa Tirta.
Ayah mencoba menyusuri tempat tersebut secara perlahan. Tujuan Ayah hanya satu, menemukan Tirta dan merebutnya kembali dari hantu Kuntilanak merah. Sudah hampir seluruh area di telusuri oleh Ayah, akan tetapi Ayah tidak kunjung menemukan Tirta ataupun hantu Kuntilanak merah.
"Sialan! Apakah aku sudah terlambat menyelamatkan anakku? Tidak, tidak mungkin! Tirta pasti masih hidup!" Ayah mencoba mengulang kembali menelusuri isi area tempat tersebut, kali ini langkah kakinya lebih cepat dari sebelumnya.
Tempat itu memang sangat aneh. Selain adanya stalagnit dan tetasan air dan ada juga batu kristal bercahaya hijau, akan tetapi tempat itu juga dapat berubah-ubah keadaan dan posisi. Setidaknya itulah yang disadari oleh Ayah. Ayah dibuat frustasi oleh tempat itu yang selalu berubah-ubah posisi dan keadaannya.
Saat sudah merasa tidak mampu melawan frustasinya, ayah pun berlutut menangis dan berdoa kepada Tuhan. Ia meminta bantuan kepada Tuhan, ia berharap sekiranya Tuhan masih sudi membantunya yang sedang dalam ketidakpastian. Setelah lama berdoa lalu Ayah pun bersujud sambil membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan penuh khusyu dan berserah diri.
Beberapa lama kemudian, secara tiba-tiba area tempat itu bergetar seperti sedang gempa bumi. Ayah masih terus khusyu membaca ayat-ayat suci dalam sujudnya. Kemudian dalam keadaan tanah yang masih bergetar, tiba-tiba terbukalah sebuah pintu dari dinding area tersebut. Dari pintu itu keluar cahaya berwarna hijau terang, sesaat kemudian cahaya hijau terang itu pun semakin lama mulai meredup dan akhirnya padam.
"Ayaaaaahhhhh, Tolooooong!"
Ayah yang masih terus bersujud sambil membaca ayat-ayat suci dengan khusyuk dan penuh pasrah kemudian di bangunkan dengan suara teriakkan dari dalam pintu tersebut.
"Alhamdulillahirobbil'aalamiiin!"
__ADS_1
Ayah mengucap syukur lantaran Tuhan telah membantunya keluar dari tempat yang membingungkan tersebut.
"Tirta, Ayah akan menolongmu, Nak!" Ayah bergegas memasuki pintu tersebut sambil mengucap, "Bismillah!"