LEMBU

LEMBU
Chapter 39


__ADS_3

Sebelumnya:


Karena Ayah yang terus bersikeras untuk tidak meminta maaf kepada Pak Rahman, akhirnya Pak Rahman semakin naik pitam. Ia layangkan tendangannya yang keras meluncur tepat ke bagian dadanya sampai Ayah batuk darah.


"Croot"


"Uhuk.. uhuk.."


Akibat itu, Ayah merasakan kalau matanya berkunang-kunang dan seolah-olah seluruh area tempat itu berputar-putar. Setelah beberapa detik kemudian, Ayahpun pingsan dalam keadaan duduk bersandar pada tiang kayu karena dirinya masih terbelenggu pada tiang kayu. Pak Rahmanpun menghentikan serangannya, kini ia beralih kepada Bu Maryam.


Pak Rahman menghampiri Mamah, ia mengambil posisi jongkok di hadapan Mamah.


"Bu Maryam, apakah anda takut setelah melihat semua yang menimpa keluarga anda?"


Pak Rahman melayangkan pertanyaan dengan sorot mata yang tajam, ia menatap mata Mamah dengan tajam.


Akibat tak kuat beradu pandang dengan Pak Rahman, Mamahpun membuang wajah ke arah kiri, lalu ia menjawab pertanyaan Pak Rahman.


"Apa urusan anda jika saya takut ataupun jika saya tidak takut, anda akan tetap menumbalkan kami bukan!"


Mamah menjawab dengan ketus, ia tahu benar kalau dia dan keluarganya akan menjadi tumbal bagi Pak Rahman, Mamah sudah mempunyai firasat buruk akan hal itu.


"Hahahaha! Itu tidak akan terjadi kalau anda ingin bergabung dengan saya dan menjadi penyembah iblis! Saya akan jamin hidup anda akan bahagia!"


Pak Rahman mencoba membujuk Mamah agar Mamah mau menjadi pengikutnya dan menjadi penyembah iblis.


Pak Rahman menyentuh pipi Mamah dengan lembut.


"Bu Maryam, anda masih terlihat cantik dan awet muda! Kalau anda menjadi penyembah iblis maka saya akan menikahi anda dan akan saya jamin seluruh kebutuhan hidup anda. Hahahaha!"


Pak Rahman semakin menggila, kata-kata yang keluar dari mulutnya bagaikan sampah busuk yang mengeluarkan bau menyengat.


Jelas sekali perbedaan Pak Rahman yang sebelumnya mereka kenal, kenapa Pak Rahman bisa setega itu berbuat kejam kepada mereka.


Mamah yang tidak kuat menahan emosi lalu lantas menghadapkan wajahnya ke arah Pak Rahman, lalu ia gigit jari tangan pria tua itu yang tidak sopan mengelus pipi Mamah.


"Aarrrrgggghhhhhh"


Pak Rahman berteriak keras saat jarinya digigit oleh Mamah, darah segar mengucur dari jari tangan kanannya.


Masih dalam keadaan berhadapan wajah, Mamahpun meludahi wajah Pak Rahman. Sontak Pak Rahmanpun mundur menjauhi Mamah.


"Dasar wanita ******! Kurang ajar sekali anda melakukan itu kepada saya!"


Pak Rahman merasa marah akibat ulah Mamah, ia terus memegang tangan kanannya yang masih berlumuran darah segar dari jari tangannya.


Sementara itu, Mamah tersenyum bahagia karena berhasil membuat Pak Rahman terluka.


"Hahahaha! Dasar orang tua bodoh! Untuk apa anda sibuk mengobati luka itu! Pintalah kepada raja iblismu untuk menyembuhkannya!"


Mamah mengeluarkan kata-kata untuk menghina Pak Rahman dan juga iblis yang dituhankan oleh Pak Rahman.


Namun Pak Rahman tidak menggubris ucapan Mamah, ia masih sibuk melilitkan kain perban yang ia bawa di dalam jubahnya untuk mengobati luka akibat gigitan Mamah pada jari telunjuknya.

__ADS_1


"Anda bisa berkata seperti itu karena anda belum melihat wujud dan kehebatan raja iblis!"


"Setelah anda melihatnya, maka anda pasti akan berpaling. Hahaha!" celoteh Pak Rahman panjang.


Kali ini Pak Rahman menoleh ke arah Nana yang hanya terdiam karena takut.


Pak Rahman melangkah menghampiri Nana.


"Prok.. prok.. prok.."


"Nana, kenapa kau pejamkan matamu, Nak? Janganlah takut!"


Pak Rahman mengusap rambut Nana yang panjang.


"Hentikan itu, Rahman! Nana hanyalah anak kecil, jangan anda lakukan hal yang tidak-tidak kepadanya!"


Mamah merasa sangat murka ketika Pak Rahman menyentuh rambut Nana, wajah Mamah terlihat sangat emosi sekali, mata Mamah melotot.


"Tenang, Maryam! saya tidak akan berbuat kasar kepadanya, saya hanya ingin bermain dengan anak anda!"


Pak Rahman mengambil posisi duduk disamping Nana, ia mengajak Nana berbicara dan meminta agar Nana membuka kedua matanya.


"Bukalah matamu, Nak! Kamu akan melihat sesuatu yang indah ada di hadapanmu!"


Pak Rahman terus membujuk Nana agar membuka kedua matanya.


"raja setan raja jin. nuduhake swarga"


Pak Rahman mengucapkan mantera singkat sesaat sebelum Nana membuka kedua matanya.


"Apakah itu nyata, Om Jubah?"


Sebagai seorang anak kecil, Nana mudah sekali tertipu oleh sihir yang dikeluarkan oleh Pak Rahman.


"Apak kamu senang melihat pemandangan itu, Nana? Kalau kamu senang, Om bisa membawa kamu masuk kesana!"


Pak Rahman kembali mengelus kepala Nana layaknya seorang paman kepada keponakannya, ia terlihat begitu baik dan lembut kepada Nana.


"Aku mau Om! Apakah Mamah dan yang lain juga ikut?"


Dengan polosnya Nana bertanya kepada Pak Rahman, Pak Rahmanpun menyeringai ketika mendengar ucapan Nana.


"Mamah dan Ayahmu tidak mau ikut, mereka ternyata tidak benar-benar menyayangi kamu, Nana!"


Pak Rahman justru menghasut Nana agar membenci kedua orang tuanya, dengan liciknya Pak Rahman berkata kalau Ayah dan Mamah tidak menyayangi dirinya.


"Kalau memang mereka menyayangimu, sudah pasti Ayah dan Mamahmu akan membawamu ke tempat itu!"


Pak Rahman berkata sambil menunjuk ke arah tempat arena bermain yang disukai oleh anak-anak, Pak Rahman sukses menipu Nana dengan sihir ilusi yang ia keluarkan.


"Masa sih, Om? Ayah dan Mamahku itu sangat sayang sama aku, enggak mungkin mereka jahat sama aku, Om!"


Nana mengelak ucapan Pak Rahman, seketika juga Nana kembali teringat kepada kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Mamah, Ayah! Bukannya tadi Mamah dan Ayah ada dibelakang kita, Om? Kemana Ayah dan Mamah, Om!"


Nana berteriak memanggil Ayah dan Mamah, ia sadar kalau ternyata dirinya sedang berada dibawah pengaruh Pak Rahman.


"Ayaaah.. Mamaaah!"


Nana terus berteriak memanggil kedua orang tuanya, Pak Rahman kembali mencoba membujuk Nana agar menuruti kemauannya.


"Nana, tenanglah! Orang tua kamu tidak ada disini! Mereka sudah pergi meninggalkanmu!"


Pak Rahman membujuk Nana sambil terus mengelus kepala Nana, akan tetapi Nana tidak terpengaruh, ia tetap terus memanggil kedua orang tuanya.


"Enggak, Om! Om pasti bohong sama aku!"


"Aku masih inget kalau tadi Ayah dan Mamah ada dibelakang aku terbelenggu sama seperti aku!"


Nana mengelak ucapan Pak Rahman, hampir saja Pak Rahman tidak bisa mengontrol emosinya.


"Ayaaaahhh... Mamaaaahhhh.. Nana takut disini! Tolong Nana!"


Nana terus berteriak memanggil Ayah dan Mamah, ia telah benar-benar membuat Pak Rahman terbakar emosi.


Sementara itu, Mamah yang berada dibelakang Nana mencoba memanggil nama Nana sekeras mungkin agar Nana tersadar dari pengaruh Pak Rahman.


"Nana, bangunlah, Nak! Jangan kau dengarkan bujuk rayu pak tua itu!"


Mamah meneriaki Nana, ia melihat Nana terdiam dan terpaku bagaikan patung, matanya terbuka lebar, namun ia tidak menjawab panggilan dari Mamah.


Mamah sangat yakin kalau Nana sedang berada dalam pengaruh sihir ilusi yang dilakukan oleh Pak Rahman, ia terus memanggil nama putrinya itu berharap putrinya bisa mendengar suaranya dan sadar.


Sementara itu, Nana yang masih berada dalam pengaruh sihir ilusi dari Pak Rahman.


Ia memejamkan kedua matanya agar tidak bisa mendengar ucapan Pak Rahman, namun upaya itu tidak berhasil.


Nana tetap berada dalam pengaruh Pak Rahman, kembali Pak Rahman membujuk Nana agar mau ikut dengannya.


"Lihatlah, mereka sama sekali tidak mendengar panggilan kamu! Mereka sudah meninggalkan kamu, Nana!-


"Ikutlah dengan Om! Om akan membuat hidup kamu jauh lebih bahagia ketimbang saat bersama orang tuamu!"


Rayuan demi rayuan terus dilontarkan oleh Pak Rahman, namun tidak ada satupun yang diterima oleh Nana.


Bahkan Pak Rahman telah memperlihatkan keindahan tempat yang dipenuhi istana es ala film kartun Barbie, namun Nana tetap ingin bersama dengan kedua orang tuanya.


"Tidak, Om! Aku cuma mau sama-sama dengan Ayah, Mamah dan Kak Tirta!-


"Ayaaaahhh.. Mamaaaah.. Tolong aku! Nana yakin kalau kalian sayang sama Nana!"


Suara teriakan Nana membuat Pak Rahman naik pitam, ia merubah ilusi keindahan itu menjadi sebuah ilusi neraka.


Ia menunjukkan tempat yang begitu panas dan terbakar, terlihat banyak makhluk menyeramkan sedang menatap Nana.


"Lihatlah! Kalau kamu tidak mau ikut Om, kamu akan habis dimakan oleh mereka!"

__ADS_1


Pak Rahman mengancam Nana secara halus, ia berpikir kalau cara ini akan berhasil membuat anak kecil itu menjadi pengikutnya.


__ADS_2