
Kim Hyuk mengemasi aset-aset penting ke dalam koper. Tidak lupa pakaian dan barang berharga lainnya. Ia masuk ke dalam kamar dan melepaskan rantai yang mengikat Sun Youra.
Sekilas ia memperhatikan wajah Sun Youra yang sekarang sudah mulai sangat pucat. Kim Hyuk masih mengabaikan pucatnya wajah Sun Youra. Ia mengambil barang-barang berharga dari dalam laci nakas.
Min masuk ke dalam kamar Kim Hyuk, ia melihat bosnya itu sedang mengemasi barang-barang. Min tidak mengerti kenapa Kim Hyuk mengemasi barang berharga ke dalam koper.
"Hyuk, apa yang kau lakukan?" tanya Min bingung.
"Kau pikir aku bisa mempercayai pria itu? Aku tidak menjamin dia tidak melaporkan kita ke polisi. Sekarang juga kita harus pindah dari sini. Besok urus penjualan rumah, dan untuk sementara aku akan tinggal di rumah kesayanganku" kata Kim Hyuk dengan maksud rumah kesayangan adalah rumah yang kecil, kumuh dan menyeramkan itu.
"Lalu gadis ini?" tanya Min.
"Tentu saja aku akan membawanya ke rumahku" jawab Kim Hyuk.
"Mengapa kau tidak langsung menyerahkan gadis ini pada Min Dong seperti gadis yang kemarin?" tanya Min.
"Tidak, aku hanya menjual satu wanita saja" jawab Kim Hyuk tanpa menoleh pada Min.
"Apakah gadis ini spesial?" tanya Min penasaran. Baru kali ini Kim Hyuk mempertahankan gadis di rumahnya.
"Kau jangan banyak bertanya? Kau anak buahku walaupun aku mengizinkan kau memanggil namaku. Dan soal gadis ini, aku masih ingin bermain-main dengannya dan aku ingin melihat penderitaan pria yang mengaku sebagai tunangannya itu" jawab Kim Hyuk masih tidak menoleh.
"Baiklah terserah kau saja" kata Min.
Min hanya menggelengkan kepalanya. Kim Hyuk memang sulit di tebak. Hanya orang yang beruntunglah yang dapat selamat dari Kim Hyuk. Min berpikir bahwa gadis yang sekarang mereka culik akan menderita lebih lama dalam genggaman Kim Hyuk.
Min tidak sengaja melihat wajah Sun Youra yang semakin pucat. Bukankah gadis itu sudah lama sekali tidak sadarkan diri? Apakah itu wajar?
__ADS_1
"Hyuk, wajah gadis itu sangat pucat. Coba kau periksa suhu tubuhnya" kata Min sambil mendekati ranjang Kim Hyuk.
Kim Hyuk menoleh pada Sun Youra ketika Min mengatakan hal yang membuatnya tersadar akan sesuatu. Memang benar wajah Sun Youra tadi sudah sangat pucat. Kim Hyuk memegang kening Sun Youra, hasilnya dingin, tapi terlalu dingin. Kim Hyuk kembali memeriksa telapak tangan dan hasilnya juga sangat dingin. Kim Hyuk memeriksa kaki Sun Youra dan hasilnya sama.
"Seluruh tubuhnya dingin sekali. Apakah dia baik-baik saja?" wajah Kim Hyuk berubah sedikit panik.
"Coba kau cek denyut nadinya" perintah Min.
Kali ini Kim Hyuk tidak marah bahkan tidak sadar ketika Min memerintah. Biasanya jika ia menemukan kata dan nada perintah dari anak buahnya, Kim Hyuk akan menatap dingin ataupun tajam pada orang itu pertanda ia sedang sangat marah.
"Denyut nadinya juga lemah" kata Kim Hyuk.
"Kalau begitu, kita harus membawanya ke rumah sakit" kata Min.
"Kau perintahkan Gel, Ray dan Kel untuk memindahkan barang-barang ke rumahku dan kau segera perintahkan Gil, Roy dan Kal untuk menyiapkan mobil, kita akan ke rumah sakit sekarang" Kim Hyuk memerintahkan dengan tegas.
Karena kamarnya berada di lantai tiga, maka Kim Hyuk harus membopong tubuh Sun Youra menuruni banyak anak tangga. Tubuh Kim Hyuk mengeluarkan keringat karena cukup lelah membawa berat badan Sun Youra di keduan tangannya.
"Kau ini merepotkan saja. Kau sudah banyak merepotkan ku dan kau harus membayar itu semua" gerutu Kim Hyuk pada Sun Youra walaupun ia tahu Sun Youra tidak mungkin mendengar.
"Apa yang kau makan hingga tubuhmu berat sekali. Kelihatan kecil tapi sebenarnya tubuhmu seberat **** hutan".
Kim Hyuk terus mengomel. Tak lama kemudian ia sudah berada di lantai dasar. Dengan langkah lebar dan cepat, Kim Hyuk berjalan keluar rumah menemui Min dan tiga anak buahnya yang telah menunggu di dalam mobil.
"Cepat jalan" perintah Kim Hyuk setelah ia sudah berada di dalam mobil.
Mobil putih melesat cepat meninggalkan rumah besar dan mewah yang berlanti tiga.
__ADS_1
* * * *
"Jadi ketua geng motor itu adalah orang kaya. Lalu apa gunanya dia membegal dan merampas uang?" polisi berkulit hitam tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Nim Joon.
"Saya sudah datang ke sana bersama dua puluh bodyguard. Mereka dapat mengalahkan bodyguard dengan mudah. Saya rasa mereka sangat jago dalam bertarung" kata Nim Joon yang sedang terbaring di ranjang rumah sakit.
Polisi yang berdiri di samping polisi berkulit hitam itu terus mencatat sambil merekam semua pernyataan dari Nim Joon.
"Dia telah menculik tunangan saya yang merupakan seorang suster. Dia mengatakan bahwa dia hanya melakukan apa yang dia inginkan. Saya sendiri tidak tahu apa maksud dari ucapannya. Apakah mungkin menjadi begal, geng motor, menculik gadis-gadis itu adalah sebuah hobinya? Jika benar, hobi seperti apa itu? Mustahil" kata Nim Joon berkata panjang lebar.
"Baiklah, besok kami akan datang kembali ke sini. Sekarang beristirahatlah karena kondisi Anda masih kurang baik. Dan hari pun sudah sangat larut" kata polisi berkulit hitam itu.
Para oknum polisi meninggalkan ruang rawat Nim Joon. Sekarang mereka lebih waspada dengan geng motor yang selalu mereka panggil dengan sebutan tikus kecil. Semakin hari geng motor itu semakin ganas.
Kasus pertama yang melaporkan geng motor itu hanya melaporkan tentang kasus balapan liar, kemudain bertambah penjambretan, bertambah lagi pengeroyokan, bertambah lagi penculikan gadis, dan yang terakhir adalah pembegalan menggunakan senjata tajam dan penculikan gadis pada siang hari. Yang membuat mereka terkejut dan tidak percaya adalah pengakuan dari Nim Joon bahwa ketua geng motor itu sebenarnya orang yang kaya.
"Aku rasa kita harus benar-benar menangani geng motor ini dengan serius. Tikus kecil kita sudah berubah menjadi singa yang kelaparan" kata salah satu polisi.
"Ya kau benar, semakin hari mereka semakin membuat resah dan menakutkan. Yang membuat aku sangat terkejut adalah kemampuan mereka mengalahkan dua puluh bodyguard. Apa mungkin mereka pernah mengenyam pendidikan bela diri?" kata polisi lain menimpali.
"Aku juga bingung. Tapi yang paling ingin aku ketahui adalah bagaimana wajah ketua geng mereka itu? Apakah wajah pemabuk? Atau seperti buronan polisi yang tak terawat?" kata polisi berkulit hitam.
"Ya kau benar, jangankan ketua mereka, wajah anggotanya saja kita tidak tahu".
"Mungkinkan pria yang kita kejar dan kita bawa motornya adalah ketua mereka? Karena dia lah yang pulang sendirian. Jikapun benar, sayang sekali kita tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas karena gang waktu itu sangat gelap" kata polisi lainnya.
Keempat polisi itu berjalan di koridor rumah sakit sambil membicarakan soal ketua geng motor. Mereka melihat seorang pasien yang di bawa oleh para perawat ke ruang UGD di ikuti oleh lima pria yang memakai topi. Tanpa peduli, mereka melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar.
__ADS_1