LOTTO (Dalam Tahap Perbaikan)

LOTTO (Dalam Tahap Perbaikan)
Club malam Min Dong


__ADS_3

Sepuluh mobil polisi sudah mengepung rumah mewah tiga lantai. Terlihat pintu rumah sudah rusak akibat didobrak. Para polisi sedang berkumpul di depan teras rumah tersebut.


"Rumah ini masih lengkap perabotannya, tapi sama sekali tidak berpenghuni" kata polisi yang berbadan tinggi.


"Apakah pria itu tidak salah alamat? Aku tidak percaya rumah semewah ini adalah rumah komplotan geng motor itu. Untuk apa mereka membegal, menculik gadis jika rumahnya saja semewah ini" kata polisi berkulit hitam.


Mobil hitam memasuki halaman rumah mewah itu. Para polisi yang berada di teras rumah memusatkan perhatian pada mobil hitam itu. Sang pengemudi mobil hitam keluar dari mobilnya. Wajahnya masih ada bekas luka dan beberapa bekas lebam.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Nim Joon dengan tergesa-gesa menghampiri para polisi.


"Tempat ini kosong" jawab polisi berkulit hitam.


"Apa? Kurang ajar, pasti mereka sudah mengosongkan tempat ini. Tapi tadi malam mereka masih ada di sini" Nim Joon mengatupkan rahangnya dengan keras.


Seorang polisi keluar membawa sebuah rantai di tangannya. Polisi itu berlari tergesa-gesa menghampiri rekan yang lain.


"Aku menemukan ini di kamar yang paling besar di lantai tiga. Itu artinya memang benar rumah ini bekas rumah ketua geng motor itu dan ia pernah membawa gadis itu ke sini." kata polisi itu.


Tangan Nim Joon menyerobot rantai tersebut dengan cepat. Setelah melihat rantai itu dengan dalam, tangannya menggenggam erat rantai itu sampai terdengar suara gemercing.


"Sun Youra, begitu sakit tanganmu diikat dengan rantai ini".


Suara Nim Joon serak karena menahan tangis. Ia membayangkan perlakuan apa saja yang sudah dilakukan oleh Kim Hyuk pada Sun Youra.


"Aku ingin pria itu mati oleh tanganku sendiri" kata Nim Joon dengan mata yang berapi-api karena marah.


* * * *


Suara dentuman musik memekakan telinga. Seorang gadis yang berpakaian minim membuka matanya dengan perlahan. Ia merasakan sakit di pergelangan tangan dan di pergelangan kakinya. Terlihat jejak bekas rantai di kulit putih dan mulusnya.


Sun Youra melihat ke sekeliling tempat ia terbaring sekarang. Tempat yang sangat asing baginya. Ada lemari pakaian, sofa, meja yang dipenuhi berbagai jenis bir, dan juga ranjang yang sekarang ia tiduri.


Sun Youra duduk di atas ranjang, seluruh tubuhnya terasa sangat lemas. Dari luar ia dapat mendengar orang bersorak ramai dan suara musik yang berdentum keras. Dari situlah ia menyadari bahwa sekarang ia sedang berada di kamar suatu club.


Tubuhnya menggigil karena takut, seluruh darah yang ada di atas kepalanya seolah turun ke kaki. Sun Youra bangkit dan berlari menuju pintu. Ia menangis sambil berteriak minta tolong.


"Tolong! Siapapun tolong aku! Aku bukan wanita bayaran!".


Sun Youra terus berteriak minta tolong sampai-sampai suaranya menjadi serak. Tidak satupun orang yang mendengar teriakannya, jika pun ada, pasti orang itu akan mengabaikan teriakan itu.


Sun Youra putus asa, ia tidak bisa keluar dari kamar itu. Ia juga tidak dapat kabur dari jalan lain karena kamar itu tidak memiliki jendela satu pun. Sun Youra membelakangi pintu lalu merosot ke bawah. Ia hanya bisa menangis tersedu-sedu. Apakah hidupnya akan hancur seperti ini.


Sun Youra mengingat siapa pria yang telah membuatnya berada di sini. Ia yakin pria itu adalah ketua geng motor yang kemarin menculiknya.


"Aku tidak akan pernah memaafkan mu!" teriak Sun Youra putus asa.


Ia semakin sedih ketika melihat pakaiannya sudah berganti dengan pakaian yang sangat minim. Sekarang ia benar-benar sudah terlihat seperti wanita malam.

__ADS_1


"Selamat kau telah menang lotre, kau beruntung sekali. Kau bisa bersenang-senang dengan gadis yang ada di dalam. Gadis ini masih bersegel, jadi mungkin dia akan mengamuk ketika kau menyentuhnya" suara pria terdengar dari balik pintu.


"Aku suka yang menantang dan lincah" sahut pria lain yang sepertinya pria itu sudah tua.


Sun Youra langsung kalang kabut mendengar pria yang sedang berbicara di luar. Ia yakin mereka pasti sedang berbicara tentangnya. Sun Youra mencari sesuatu yang sekiranya bisa ia gunakan untuk menyelamatkan diri. Namun di sana tidak ada apa-apa selain vas bunga yang terbuat dari keramik.


"Baiklah, aku akan pergi, selamat bersenang-senang" kata seorang pria dari balik pintu.


Terdengar suara besi beradu di tempat pembuka kunci. Setelah suara itu berhenti, perlahan pintu terbuka, dan terlihat pria berambut putih masuk ke dalam kamar. Sepertinya ia mencari sesuatu.


"Gadis cantik di mana..."


'Buuukk, Prang',


Vas bunga pecah ke lantai diikuti dengan ambruknya pria tadi.


Sun Youra langsung berlari dari balik pintu menuju keluar.


"Hei! Sialan! Jangan lari" teriak pria itu memegangi kepalanya yang berdarah.


Mata Sun Youra sedikit pusing karena lampu yang berkerlap-kerlip dari lantai bawah. Tanpa banyak berpikir ia terus berlari, matanya mencari pintu keluar. Setelah menemukan, Sun Youra berlari menuruni anak tangga.


"Hei, kejar gadis itu!" teriak pria tadi yang berdiri di pagar balkon lantai dua.


Mata para staf keamanan club mencari sosok gadis yang dimaksud, tapi mereka sulit menemukannya karena tidak tahu wajah gadis itu dan di sana banyak sekali gadis yang sedang menari.


"Hei, kejar!" Teriak ketua staf.


* * * *


Suara dering telepon mengganggu Kim Hyuk yang sedang berbaring di atas sofa sambil menikmati champanye. Ketujuh anak buahnya yang sedang ikut minum dan duduk di lantai memandang Kim Hyuk yang terlihat kesulitan membaca nama pemanggil.


"Hallo, ini siapa?" akhirnya Kim Hyuk menjawab panggilan tanpa melihat siapa orang yang memanggilnya.


"Gadis yang kau jual pagi tadi sudah kabur" kata Min Dong kesal.


"Apa?" .


Kim Hyuk bangkit dari tidurnya. Ia membulatkan matanya, tidak percaya Sun Youra masih bisa melarikan diri dari club Min Dong yang terkenal dengan keamanannya.


"Aku akan mencari dia sekarang" kata Kim Hyuk langsung menutup telepon.


"Ada apa bos?" tanya Kel.


"Gadis itu kabur dari club Min Dong" jawab Kim Hyuk yang kini sudah memakai jaketnya.


"Apa? Apakah gadis itu memiliki jurus menghilang?" kata Roy tidak percaya.

__ADS_1


"Kalian tetap di sini" perintah Kim Hyuk dengan tegas.


"Tapi Bos, apakah mungkin kau bisa mencarinya seorang diri?" tanya Gel.


"Kau meremehkan ku?" Kim Hyuk menatap tajam dan dingin pada Gel.


Gel terdiam, ia menunduk ketika menyadari ia telah salah bicara. Jika saja Kim Hyuk tidak sedang buru-buru, mungkin malam ini wajahnya sudah berwarna unggu dan biru.


Tanpa berkata lagi, Kim Hyuk langsung bergegas pergi dengan cepat.


* * * *


Sun Youra berhasil lari menjauh dari gedung club besar. Ia membuang high heels yang ia kenakan ke sembarang arah. Kini ia bisa berlari lebih cepat lagi. Ia sama sekali tidak peduli kemana ia lari, yang terpenting adalah melarikan diri sejauh-jauhnya. Ia tidak berlari ke arah keramaian, ia yakin pasti orang yang mengejarnya akan mencarinya di tempat ramai karena berpikir ia mencari perlindungan di sana.


Semakin lama Sun Youra semakin jauh dari jalan besar. Sekarang ia berada di jalan setapak yang gelap. Sebentar ia mengambil nafas. Sebenarnya ia takut dengan yang namanya tempat seram dan hantu. Tapi karena ketakutannya kepada manusia itu lebih besar membuat Sun Youra tidak peduli terhadap hantu.


Ia berjalan mencari tempat bersembunyi tapi yang ia temui adalah jalan buntu. Ternyata tempat itu menuju tebing tinggi yang di bawahnya mengalir sungai deras dan penuh bebatuan. Siapapun yang meloncat ke bawah pasti tidak akan selamat. Sun Youra berhenti di sana dengan harapan tidak ada lagi yang mengejarnya. Sembari menarik nafas, Sun Youra merasa sedikit lega karena tidak ada tanda-tanda orang itu mengejarnya.


Beberapa menit kemudian, terdengar suara motor yang mengisi kesunyian tempat itu. Sun Youra langsung waspada. Apakah orang itu dengan mudah menemukannya? Sungguh sia-sia ia berlari sejauh ini jika akhirnya tertangkap juga.


Begitu melihat motor ninja hitam dengan pria berjaket terlihat dari kejauhan, rasa putus asa menyelimuti diri Sun Youra. Cahaya lampu motor ninja menerangi sekitar tebing.


"Kau pikir kau bisa lari dari tanganku?" tanya Kim Hyuk penuh kemenangan.


Kali ini Kim Hyuk sendirian, tidak bersama ketujuh anak buahnya. Kim Hyuk turun dari motor tanpa mematikan mesinnya agar tempat itu tetap terang.


"Aku sudah memasang alat pelacak di tali bra belakangmu" kata Kim Hyuk lagi.


"Kenapa kau selalu mengejar ku? Masih banyak wanita yang mau menjadi wanita malam dan mereka lebih cantik daripada aku" Sun Youra berdiri dengan gemetaran.


"Aku hanya ingin dirimu. Aku selalu mendapatkan apa yang ku inginkan, termasuk kali ini" Kim Hyuk tersenyum bangga.


Walaupun di sana hanya diterangi lampu motor, tapi Sun Youra masih bisa melihat senyum licik Kim Hyuk.


"Tidak, kali ini kau tidak bisa mendapatkan apa yang kau mau" bantah Sun Youra.


"Lalu kau mau apa? Di belakang mu itu adalah sungai yang siap membuat mu mati.".


"Lebih baik aku mati dari pada kembali tertangkap oleh pria brengs*ek seperti mu" kata Sun Youra penuh dengan keberanian.


Mungkin karena terlewat takut dan frustasi, akhirnya ia menjadi sangat berani dan nekat.


"Coba saja, aku tidak yakin kau siap mati" Kim Hyuk berkata dengan dingin.


"Adikku, aku akan segera menemui mu di surga".


"Sial!!"

__ADS_1


Tubuh Sun Youra terjun ke belakang dengan bebas.


__ADS_2