
Kim Hyuk keluar dari kamarnya dengan wajah santai tanpa beban. Ia kembali mengenakan jaketnya yang ia lepas sebelum masuk ke dalam kamar bersama Sun Youra. Kim Hyuk berjalan menuju gudang di mana ketujuh anak buahnya sedang duduk berkumpul. Min mengerutkan keningnya.
"Kenapa cepat sekali kembali?" tanya Min heran.
"Dasar gadis kecil, sebelum aku melakukan apapun padanya, dia sudah pingsan duluan" kata Kim Hyuk tersenyum tipis.
"Wah.. aku rasa dia masih belum bekas Bos. Dia sangat ketakutan sampai akhirnya dia pingsan" kata Roy sambil mengambil rokok yang ada di atas kursi.
"Itu juga yang aku pikirkan ketika dia pingsan tadi" kata Kim Hyuk.
"Tapi aku penasaran siapa pria yang bersamanya malam itu?" kata Kim Hyuk menatap orang yang ada di dalam gudang itu secara bergiliran.
"Sepertinya pria itu orang yang sangat kaya Bos. Mobil yang dia pakai itu sangat mahal" kata Gil.
"Tapi bukankah malam kita membegal dia bersama-sama, dia berjalan kaki sendirian?" kata Kim Hyuk meragukan ucapan Gil.
Samar-samar mereka mendengar seorang wanita berteriak. Kim Hyuk yakin suara itu adalah teriakan dari Sun Youra yang masih terkunci di kamarnya. Kim Hyuk memberikan kode agar yang lain tetap duduk di tempatnya.
Semakin dekat dengan kamar, suara itu semakin jelas terdengar. Sun Youra sudah berteriak sampai suaranya menjadi serak. Kim Hyuk membuka kunci pintu lalu masuk ke dalam. Dilihatnya Sun Youra sedang menangis sambil memeluk diri. Kim Hyuk tersenyum sinis ketika melihat ketakutan di dalam diri Sun Youra.
"Sudah bangun?" sapa Kim Hyuk yang membuat Sun Youra menatapnya dengan tajam.
"Kau! Pria apa kau ini! Dasar baj*ng*n! Jangan tunjukkan wajahmu di hadapanku" Sun Youra berteriak histeris. Ia berpikir jika masa depannya sudah hilang.
Kim Hyuk sempat berpikir untuk mengatakan yang apa terjadi sebenarnya, tapi ia mengurungkan niatnya itu karena ia merasa terhibur dengan ekspresi ketakutan Sun Youra. Entah mengapa makian yang dikeluarkan oleh mulut Sun Youra sama sekali tidak membuatnya marah.
"Lalu kau mau apa?" kata Kim Hyuk penuh kemenangan.
Sun Youra melihat ke sekeliling kamar. Ia tidak melihat ada jendela atau apapun untuk kabur kecuali pintu keluar yang ada di belakang Kim Hyuk.
Kim Hyuk berjalan mendekati Sun Youra yang masih duduk di tepi ranjang. Ketika ia akan ikut duduk di samping Sun Youra, Sun Youra dengan cepat memukul alat vital Kim Hyuk yang membuat Kim Hyuk langsung mengerang kesakitan. Wajah Kim Hyuk merah padam menahan rasa sakit. Sun Youra bangkit dari tepi ranjang dan langsung berlari secepat mungkin dari kamar.
"Sialan! Hei Kau jangan kabur! Semuanya kejar gadis itu!".
Teriakan Kim Hyuk yang sangat kuat dan menggelar itu terdengar sampai ke gudang belakang. Anak buahnya dengan cepat berlari ke rumah.
"Kejar gadis itu. Cepat!!" teriak Kim Hyuk yang masih berguling-guling kesakitan di atas ranjang.
* * * *
__ADS_1
Sun Youra berlari sekencang yang ia bisa. Kaki Sun Youra yang sudah tidak memakai alas kaki itu berulang kali menginjak batu kerikil dan ranting sampai kakinya terluka. Ia berlari semakin jauh dari rumah kosong yang berada di pinggir hutan. Tanpa mempedulikan rasa sakit di kakinya, Sun Youra terus berlari. Jika ia sampai tertangkap oleh Kim Hyuk lagi, maka pria itu tidak akan mengampuninya setelah apa yang ia lakukan tadi.
Sun Youra meringis kesakitan setelah mulai merasakan sakit di telapak kaki. Ia melihat sebuah semak-semak yang rimbun, dengan cepat ia bersembunyi di sana. Nafasnya terengah-engah dan seluruh tubuhnya terasa dingin karena ketakutan.
Suara motor menderung dari arah rumah kosong yang menjadi markas geng motor. Tujuh motor itu melewati tempat persembunyian Sun Youra tanpa mengetahui keberadaan gadis itu. Setelah tujuh motor itu pergi, Sun Youra menarik nafas lega. Akhirnya usaha melarikan diri tidak sia-sia. Sekarang ia memikirkan ke mana ia harus pergi agar bisa keluar dari tempat sepi itu. Tempat itu sangat terpencil, entah bagaimana para penjahat itu bisa menemukan tempat itu.
* * * *
"Kalian tidak menemukan gadis itu? Dasar bodoh! Cari dia sampai ketemu" teriak Kim Hyuk yang sudah sangat kesal setengah mati.
Bagaimana tidak kesal dan marah, Sun Youra dengan beraninya memukul sumber masa depan miliknya satu-satunya.
"Dasar gadis sialan, dia pikir ini ada suku cadangannya?" kata Kim Hyuk kesal.
Kini kondisinya sudah mulai membaik. Ia berbaring di ranjang sambil menatap langit-langit kamar. Matanya menatap kosong, tak lama kemudian wajah kejamnya kembali menjelma.
"Wanita semua sama saja".
Kata-kata itu yang mengalir dari mulut Kim Hyuk saat dirinya sedang marah besar.
Suara dering ponsel menyadarkan Kim Hyuk dari lamunannya. Ia merogoh saku celana lalu menjawab panggilan.
"Hyuk ini aku. Kenapa kau marah-marah? Apakah ada masalah?" Suara lembut wanita terdengar.
"Ada apa kau menelepon ku? Aku banyak masalah" kata Kim Hyuk dengan dingin.
"Aku hanya memberi laporan bahwa tuan Min Dong sudah mentransfer uang pembayaran atas gadis kemarin" kata Chung Jo masih lembut.
"Kirimkan data dan buktinya. Jika tidak, aku akan menganggap mu telah korupsi" kata Kim Hyuk langsung mematikan teleponnya.
"Dasar Kim Hyuk. Masih saja dia jual mahal dan dingin seperti itu" gerutu Chung Jo dari sebuah club.
* * * *
Hari sudah mulai gelap sempurna. Seorang sopir taksi sedang bersenandung kecil selama perjalanan pulang untuk menghilangkan keheningan di jalan sepi dan gelap. Walaupun jalan itu terlihat menyeramkan, namun bagi sang sopir itu adalah hal biasa, setiap hari ia melewati jalan itu, ia tidak pernah pernah mengalami kejadian apapun.
Ia berbelok ke kanan saat sudah berada di perempatan jalan. Alangkah terkejutnya ia melihat seorang gadis tengah terduduk di aspal sambil melambai-lambaikan tangan ke arah taksinya. Dengan cepat ia melajukan taksi mendekati gadis itu. Setelah berhenti tepat di depan gadis itu, sang sopir langsung turun dari mobil.
"Ya tuhan, Nona kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?" tanya sopir taksi itu.
__ADS_1
"Cepat telepon polisi. Saya sedang dikejar oleh seorang penculik" kata Sun Youra dengan nafas yang terengah-engah. Sedari siang ia berlari tak tentu arah.
"Apakah Anda bernama Sun Youra?" tanya sopir taksi itu.
"Kau mengenalku?" tanya Sun Youra heran.
"Saya...".
Belum sempat sopir itu berbicara, suara motor terdengar dari ke jauhan. Tak lama kemudian, cahaya lampu motor menerangi mereka berdua yang sedang duduk di aspal.
"Nona, maafkan saya, tapi saya harus melakukan ini".
Sopir taksi berlari ke dalam taksinya dan meninggalkan Sun Youra begitu saja.
"Hei!! Tolong aku! Jangan pergi!" teriak Sun Youra tidak percaya sang sopir taksi itu pergi begitu saja membiarkan pria bermotor ninja dan harley menghampirinya.
Tujuh motor berhenti mengelilingi Sun Youra. Air mata Sun Youra sudah tidak bisa di bendung lagi. Kali ini ia benar-benar tidak bisa lari. Mereka semua pasti tidak akan mengampuninya.
"Kau telah membuat kami susah" kata Min sambil mengeluarkan sebuah ikatan rantai.
Sun Youra tidak memiliki kekuatan untuk melawan saat tangannya diikat oleh Min. Karena sangat ketakutan, Sun Youra pun tiba-tiba pingsan.
"Dia pingsan lagi. Cepat bawa dia ke atas motorku, dan ikat dia pada tubuhku" kata Min memberi instruksi pada enam temannya.
Setelah selesai menaikkan Sun Youra ke atas motor Min, mereka langsung pergi menuju tempat yang sudah di beritahukan oleh Kim Hyuk sebelumnya. Tanpa mereka ketahui, ada mobil taksi yang bersembunyi di pepohonan yang rindang. Sang pengemudi taksi itu terus memperhatikan ketujuh pria yang membawa Sun Youra.
"Hallo, saya melihat nona yang kalian cari" kata sopir itu.
* * * *
Di rumah yang besar dan mewah berlantai tiga, tujuh motor parkir dengan rapi di tempat parkir. Mereka membawa seorang gadis yang tak sadarkan diri.
"Cepat buka pintu rumah" perintah Min yang menggendong Sun Youra.
Gil dengan cepat membuka pintu rumah yang besar itu. Lalu mereka semua masuk ke dalam rumah dan menutup pintu dengan rapat.
Dari luar pagar rumah mewah itu, mobil taksi berhenti di seberang jalan.
"Saya telah mengikutinya. Saya akan segera saya kirim alamatnya" kata sopir taksi yang sedari tadi melihat Sun Youra dibawa ke dalam rumah besar itu.
__ADS_1