
Sorot cahaya matahari menerobos masuk melewati gorden kamar kecil. Silau cahaya mentari pagi yang mulai meninggi membuat gadis yang sedang terbaring di atas ranjang terbangun. Sun Youra memperhatikan sekeliling kamar itu. Tempat yang baru pertama kali ia lihat. Sun Youra yakin kamar itu bukanlah kamar di club seperti tadi malam. Sun Youra juga berpikir Kim Hyuk sudah membawanya ke tempat lain.
Kim Hyuk tiba-tiba membuka pintu. Dengan cepat Sun Youra pura-pura tidur, ia memejamkan mata layaknya orang yang sedang tidur sungguhan. Terdengar suatu suara seperti piring dan sendok di letakan di atas meja. Kim Hyuk berdiri tanpa Sun Youra tahu apa yang dilakukan oleh Kim Hyuk dengan berdiri lama seperti itu.
"Hei, tidak perlu kau pura-pura tidur seperti itu. Cepat makan ini, jika tidak, aku yang akan memakan mu".
Kim Hyuk langsung pergi meninggalkan kamar. Sun Youra membelalakkan matanya. Dari mana pria itu tahu ia sedang berpura-pura tidur? Dan apa maksud dari perkataannya bahwa pria itu akan memakannya.
Sun Youra meraih piring yang berisi bubur. Entah kenapa Kim Hyuk memberikan makanan bubur. Karena perut Sun Youra sudah sangat lapar, dengan lahap ia menyuapkan bubur sesuap demi sesuap.
Setelah selesai makan, Sun Youra merasa haus. Karena Kim Hyuk tidak memberikan minum, Sun Youra memberanikan diri keluar kamar dan berniat untuk meminta air.
Sun Youra melihat delapan pria sedang berkumpul di ruang tamu. Dengan keberanian yang sudah ia kumpulkan, Sun Youra berjalan menghampiri delapan pria itu, lebih tepatnya menghampiri Kim Hyuk. Semua mata menatap Sun Youra karena gadis itu sangat cantik. Baru kali ini mereka melihat wajah Sun Youra yang tanpa ketakutan dan tangisan. Tapi mata mereka tidak hanya sampai pada wajah Sun Youra saja, mereka memandangi Sun Youra yang mengenakan pakaian minim dan ketat.
Kim Hyuk menyadari bahwa anak buahnya sedang memandangi cara berpakaian Sun Youra. Ia kembali menatap wajah Sun Youra.
"Ada apa?" tanya Kim Hyuk tanpa ada kelembutan sedikitpun.
"Aku haus, apakah ada air minum?" suara Sun Youra sedikit tercekat karena menahan rasa takut yang ia sembunyikan.
"Ambil di dapur, cepat" perintah Kim Hyuk.
Setelah Sun Youra pergi, Kim Hyuk menatap tajam pada ketujuh anak buahnya yang masih memandangi Sun Youra.
"Apa yang kaliah lihat? Mau ku cungkil mata kalian?" Kim Hyuk berkata dengan sangat dingin, seperti ingin membunuh.
* * * *
Setelah minum Sun Youra kembali ke kamar. Ia menghela nafas lega setelah tahu Kim Hyuk tidak berlaku kejam tadi. Saat sedang melamun, Kim Hyuk masuk ke dalam kamar secara tiba-tiba. Yang lebih mengejutkan lagi, Kim Hyuk langsung melepas jaketnya dan menarik bajunya ke atas untuk membuka pakaian. Sun Youra langsung menutup mata.
"Kenapa? Kau pikir aku akan berbuat macam-macam? Dasar bodoh, aku hanya menggertak."
"Pakai ini, aku tidak ingin melihat mu berpakaian seperti itu."
Kim Hyuk tiba-tiba melempar baju bersih miliknya dari dalam lemari. Sun Youra membuka matanya dan dilihat Kim Hyuk memang tidak membuka pakaiannya. Kim Hyuk tersenyum senang karena sudah membuat Sun Youra sempat panik. Kim Hyuk kembali meninggalkan kamarnya, memberikan ruang untuk Sun Youra mengganti pakaian.
__ADS_1
Sun Youra sangat bersyukur Kim Hyuk memberikan pakaian yang lebih layak pakai dibandingkan dengan baju yang saat ini ia kenakan. Walaupun itu baju pria, setidaknya baju itu bisa menutupi tubuhnya lebih layak. Sun Youra juga sedikit lega, ternyata Kim Hyuk tidak selamanya bersikap kejam. Buktinya sekarang ia memberikan pakaian yang tertutup. Tanpa banyak berpikir lagi, Sun Youra segera mengganti pakaiannya.
* * * *
"Kau merasa bos aneh tidak?" tanya Kel pada Ray ketika mereka berdua sudah berada di pusat pembelanjaan.
"Ya, aku rasa juga begitu. Bos menyandra gadis di rumahnya yang ini. Biasanya bos selalu menyandra gadis di rumah kosong itu." kata Ray menanggapi.
"Bukan hanya itu, ketika gadis itu dibawa ke rumah sakit, bos juga sangat khawatir. Dan sekarang, bos memerintahkan kita untuk membelikan baju yang tertutup untuk gadis itu" kata Kel lagi.
"Sudahlah, jangan dibahas terus, nanti ada orang yang mendengar. Lagi pula bos sudah bilang dia hanya ingin bermain-main. Selama ini bos memang selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Bos juga memang susah ditebak" kata Ray.
Mereka berdua berjalan memasuki gedung pusat pembelanjaan. Tanpa di sadari oleh mereka, seorang pria berbadan tinggi besar sudah menguping pembicaraan mereka dari tempat duduk di taman.
"Tidak perlu dicari, aku rasa mereka orangnya" suara itu sangat berat dan besar.
* * * *
Kel dan Ray sudah sampai di rumah kecil Kim Hyuk. Mereka membawa dua kantung besar berisi pakaian lengkap untuk Sun Youra termasuk pakaian dalam. Walaupun mereka tidak tahu ukuran pakaian dan pakaian dalam Sun Youra, mereka hanya membeli sesuai penglihatan sekilas saja.
"Bagus, kalian semua boleh pergi untuk beraksi lagi. Ingat, jangan pernah bertingkah bodoh" kata Kim Hyuk mengancam.
Tentu saja perintah beraksi dari Kim Hyuk adalah perintah yang paling menyenangkan. Mereka akan membegal lagi dan kali ini pada siang hari, sungguh sangat menantang dan menyenangkan.
Setelah ketujuh anak buahnya pergi menggunakan motor masing-masing, Kim Hyuk berjalan menuju kamarnya. Kim Hyuk melihat Sun Youra sedang menatap keluar jendela tanpa menyadari kehadirannya di kamar itu.
"Cepat coba semua ini. Jika ada yang tidak pas, kau bisa membuangnya" kata Kim Hyuk sambil melemparkan dua kantung besar ke atas ranjang.
Kim Hyuk kembali keluar kamar. Sun Youra menoleh ke belakang, pada dua kantung besar yang berisi pakaian.
"Kenapa dia membeli pakaian sebanyak ini? Apakah ini uang hasil rampasan mereka selama sebulan?".
Sun Youra memang tidak mengetahui rumah mewah Kim Hyuk. Saat Kim Hyuk membawanya ke rumah besar itu, Sun Youra sedang tidak sadarkan diri. Jadi wajar saja jika Sun Youra berpikir demikian.
* * * *
__ADS_1
Pintu rumah Kim Hyuk diketuk oleh seseorang. Kim Hyuk berpikir bahwa mungkin itu adalah Min. mengapa Min kembali cepat sekali? Begitu pikirnya dalam hati. Dengan santai ia membuka pintu.
"Selamat siang" suara pria itu sangat besar dan menyeramkan.
Seorang pria tinggi besar tengah berdiri di depan pintu. Pria itu memiliki tinggi yang sama dengan Kim Hyuk. Di pipi sebelah kirinya terlihat bekas luka permanen, luka itu mencerminkan kejadian tragis pernah menimpah pria itu.
"Kau" Kim Hyuk terkejut melihat siapa yang sedang berdiri di depan rumahnya.
"Owh, ternyata ketua geng yang dua anak buahmu maksud adalah kau. Di mall tadi mereka bergosip tentang mu" kata pria itu tersenyum tanpa rasa takut.
"Apa maumu, Choi Jo?" tanya Kim Hyuk dingin.
"Serahkan tunangan Nim Joon" kata pria yang ternyata bernama Choi Jo.
"Kau pikir aku akan menyerahkan dia begitu saja?" kata Kim Hyuk dengan penuh kesombongan.
Dari pintu kamar, Sun Youra mendengarkan seluruh perkataan dua pria yang sepertinya sudah lama saling kenal dan mereka memiliki permusuhan yang kuat. Sun Youra sangat bahagia mendengar kata Nim Joon. Ia yakin pria yang bernama Choi Jo adalah utusan Nim Joon.
"Jangan kau jadikan gadis itu sebagai wanita malam seperti ibumu Hyuk".
"Tutup mulutmu atau hari ini aku akan membunuh mu" suara Kim Hyuk sangat dalam, ia menyimpan api amarah yang sangat besar.
"Kenapa? Apa aku salah? Kau pemabuk seperti ayahmu, kau suka wanita malam yang seperti ibumu. Dan hari ini, aku akan membuatmu menemui adik kesayanganmu di alam baka"
'Bukk!!'.
Pukulan yang sangat keras menghantam wajah Choi Jo.
"Tutup mulut sialanmu itu! Akan ku bunuh kau!"
Kim Hyuk memukul lagi wajah Choi Jo, tapi kali ini Choi Jo membalas. Tak disangka Choi Jo mengeluarkan pisau dan melawan Kim Hyuk dengan pisau itu. Kim Hyuk tidak turun nyali walau lawannya menggunakan senjata tajam. Ia berhasil menghindari pisau itu dan berhasil memberikan pukulan pada Choi Jo.
Sepertinya kali ini Kim Hyuk mendapatkan lawan yang sepadan. Pertarungan mereka lebih sengit dan lebih lama. Sangat tidak beruntung, tangan kiri Kim Hyuk tergores oleh pisau hingga keluar darah segar dari tangannya.
Kim Hyuk akan melayangkan pukulan pada wajah Choi Jo dan Choi Jo mengarahkan pisau pada perut Kim Hyuk, tapi mereka menghentikannya ketika Sun Youra berteriak.
__ADS_1
"Berhenti!".