LOTTO (Dalam Tahap Perbaikan)

LOTTO (Dalam Tahap Perbaikan)
Club malam milik Chanyeol


__ADS_3

Di ruangan besar yang dipenuhi cahaya lampu berkerlap-kerlip, meja yang penuh bir dan kartu remi. Banyak pria yang mabuk, dari pria muda sampai yang sudah berumur, pria yang berjas sampai yang berpakaian preman, semua berkumpul di ruangan itu.


Seorang pria berjalan menghampiri pria yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu.


"Hai, selamat datang! Akhirnya kau datang juga. Sudah lama aku menunggu mu," kata pria yang kira-kira berusia 40 tahun-an.


"Aku hanya ingin mengecek," jawab Chanyeol dengan santai.


Chanyeol berjalan masuk dengan kaki yang terpincang-pincang. Melihat itu, Darwin Lee tertawa mengejek.


"Kakimu kenapa Chan?"


"Jatuh," jawab Chanyeol dengan ketus.


"Seorang Park Chanyeol jatuh?" tanya Darwin Lee masih mengejek.


"Ini semua gara-gara polisi," jawab Chanyeol tanpa menjawab dengan serius.


"Biasanya kau selalu lolos tanpa cidera, lalu ini kenapa?" Darwin Lee masih menyudutkan.


"Karena aku mengendarai motor sambil mabuk. Sudahlah jangan banyak bicara, sekarang aku ingin memeriksa kemajuan club ini," kata Chanyeol dengan ketus.


Sungguh ia tidak suka seseorang mengusik dan mengejeknya walaupun itu hanya bercanda. Darwin Lee tidak berani lagi mengejek dan menyudutkan Chanyeol karena ia tahu bahwa Chanyeol adalah orang yang dingin dan mudah marah. Chanyeol juga tidak pernah berpikir panjang tentang nasib orang lain ketika ia sedang berlaku kejam.


Chanyeol diajak oleh Darwin Lee keruangan yang lebih damai dibandingkan ruangan utama yang dipenuhi musik, wanita penghibur dan juga pemabuk. Club itu adalah tempat yang dibuka untuk para pengusaha mafia yang ingin bersenang-senang. Di club itu juga sering digunakan sebagai tempat berjudi. Ada sebagian pengusaha kaya yang mentaruhkan sahamnya sebagai taruhan.


Pemilik dari club itu sendiri adalah Chanyeol. Chanyeol sudah lima tahun mendirikan club itu. Ia menyerahkan tugas CEO pada Darwin Lee karena hanya pria itulah yang dapat dipercaya sepenuhnya.


"Bagus, inilah yang ku inginkan."


Chanyeol senang ketika mendengar penjelasan dari Darwin Lee bahwa keuangan clubnya mengalami peningkatan yang signifikan.


"Oh ya Chan, aku dengar di tempat Min Dong, minggu depan akan mengadakan taruhan lagi," kata Darwin memberikan informasi.


"Aku tidak selera dengan wanita-wanita mereka. Mereka tidak terlalu menarik untuk dijadikan taruhan," kata Chanyeol sambil merebahkan diri ke sofa.

__ADS_1


"Bukan itu maksudku. Aku tahu kau sudah tidak lagi ikut berjudi di sana," kata Darwin Lee.


Darwin Lee sangat ingat bagaimana semua para penjudi mengundurkan diri ketika tahu Chanyeol sebagai lawannya. Chanyeol sangat terkenal akan keberuntungan yang selalu berada dalam tangannya. Setiap berjudi maka Chanyeol lah yang akan menang.


"Kau sudah lama tidak menjual wanita ke sana. Ini kesempatan emasmu karena yang akan ikut taruhan adalah pengusaha mafia yang kaya-raya," kata Darwin Lee.


"Benarkah? Baiklah, itu akan menjadi tugas yang paling menyenangkan untuk anak buahku," kata Chanyeol sambil tersenyum.


"Aku akan mengambil beberapa bir untuk kita," kata Darwin Lee lalu pergi keluar ruangan.


* * * *


Hari sudah gelap, jam sudah menunjukkan pukul 8.00 malam. Para perawat di rumah sakit berganti shift. Seorang suster yang sudah berganti pakaian keluar dari ruangannya. Sekarang ia sudah mengenakan gaun indah selutut dan high heels yang menyempurnakan penampilan cantiknya.


Seorang pria tampan sedang bersandar di mobil warna hitam. Sepertinya pria itu sedang menunggu seseorang. Tak lama kemudian gadis cantik yang mengenakan gaun itu keluar dari gedung rumah sakit. Ia berjalan dengan sangat anggun menghampiri pria yang sudah menunggunya.


"Oppa sudah baikan?" tanya gadis itu. (Oppa/오빠\= Panggilan perempuan pada laki-laki yang lebih tua) .


"Hanya tinggal memarnya saja," jawab Seok Joon.


"Ayo kita makan malam," ajaknya.


Sun Youra tersenyum. Malam ini Seok Joon mengajaknya berkencan dengan makan malam yang romantis.


Yang membuat Sun Youra mencintai Seok Joon adalah karena sifat pria itu lembut, penyabar, dan tidak pernah hura-hura di club malam seperti kebiasaan remaja kaya kebanyakan. Usia Sun Youra dan Seok Joon hanya terpaut tiga tahun. Seok Joon 27 tahun dan Sun Youra 24 tahun. Mereka sudah saling mengenal ketika Sun Youra berkuliah. Seok Joon datang ke universitasnya menjemput adiknya yang merupakan teman dekat Sun Youra. Sejak itulah mereka menjadi dekat dan mulai menjalin hubungan sampai sekarang.


"Baiklah Oppa."


Mereka masuk ke dalam mobil Seok Joon. Dengan santai mobil hitam itu melaju meninggalkan rumah sakit.


Di perjalanan ke tempat yang Seok Joon tuju, Sun Youra terus memandangi wajah Seok Joon dengan bola matanya yang hitam bening. Ia sangat tidak tega melihat wajah Seok Joon yang memar kebiruan, ada perban yang membalut keningnya. Dalam hati Sun Youra mengutuk pembegal yang membuat tunangannya sampai babak belur seperti itu.


Tangan kanan Sun Youra mengusap pipi kanan Seok Joon dengan lembut dengan harapan itu bisa mengurangi rasa sakit yang dirasakan oleh Seok Joon.


Belaian tangan Sun Youra membuat Seok Joon memejamkan mata sebentar. Ia dapat merasakan ketulusan hati Sun Youra dari belaian tangan yang lembut pada pipinya. Inilah yang sangat disukai oleh Seok Joon, Sun Youra yang lembut dan penuh kasih sayang. Semakin hari Seok Joon semakin ingin segera menjadikan Sun Youra miliknya.

__ADS_1


"Terima kasih," kata Seok Joon setelah membuka matanya dan menatap manik-manik mata Sun Youra yang indah.


"Aku harap itu tidak begitu sakit," kata Sun Youra.


"Tidak, setelah kau sentuh pipiku, rasa sakitnya langsung menghilang. Tapi sekarang sang pipi ingin dicium," kata Seok Joon sambil tersenyum manis.


Seok Joon menepikan mobilnya ke pinggir jalan. Setelah mobil berhenti, Seok Joon menghadap lurus pada Sun Youra. Mata keduanya bertemu dan mereka terdiam cukup lama. Lama-kelamaan pipi Sun Youra memerah seperti kepiting rebus.


Sun Youra mendekatkan wajahnya ke wajah Seok Joon. Seok Joon sudah memejamkan mata untuk menerima apa yang akan terjadi. Matanya tiba-tiba terbuka lebar ketika Sun Youra hanya mencium pipinya sekilas. Sun Youra tertawa melihat ekspresi tunangannya itu.


"Itu tidak adil," kata Seok Joon bersungut-sungut.


"Sudahlah, aku sudah lapar, Oppa," kata Sun Youra.


Seok Joon tersenyum ketika menyadari niat utama mereka adalah untuk makan malam. Tangan Seok Joon menarik tuas di samping kanan, kakinya menginjak pedal gas dan tangannya menyetir mengatur arah mobil yang akan kembali memasuki jalan raya.


* * * *


"Siap Bos, itu tugas yang mudah," kata Sehun berbicara pada orang yang berada di seberang telepon.


Telepon ditutup dan Sehun memasang wajah yang penuh gembira. Ia tertawa diatas teman-temannya yang tidak paham dengan tawanya.


"Apa kata bos?" tanya Kyungsoo pada Sehun yang masih tertawa.


Sehun menghentikan tawanya lalu ia merangkul bahu Roy dan Xiumin. "Bos menyuruh kita menculik gadis-gadis lagi," jawab Sehun.


Kai yang sedang duduk di kursi yang biasa diduduki oleh Chanyeol langsung meloncat berdiri. Matanya memandangi seluruh keenam temannya.


"Berapa yang diminta?" tanya Kai pada Sehun.


"Yang bos butuhkan hanya dua, tapi jika kita mendapatkan lebih dari itu, maka sisanya hadiah untuk kita," jawab Sehun.


Kai mengambil jaket yang ada di atas sandaran kursi, dengan cepat ia mengenakan jaket itu lalu merogoh saku celana levisnya untuk mengambil kunci motor.


"Ayo beraksi!" teriak Kai dengan semangat.

__ADS_1


Tak lama kemudian suara derung motor menghiasi sunyi di gang sempit dan gelap.


__ADS_2