
Nim Joon memandang wajah Sun Youra yang masih menyantap makanan penutup. Wajah Sun Youra sangat cantik. Hidungnya tidak terlalu mancung dan tidak juga pesek, matanya bulat seperti bulan purnama di hiasi bola mata hitam bening. Ia memiliki lipatan kelopak mata ganda yang alami, sungguh sesuatu yang jarang dimiliki oleh orang Korea pada umumnya. Bibir Sun Youra juga kecil dan imut dengan warna ping alami, rambutnya hitam panjang di bawah bahu dan bergelombang alami. Mata Min Joon tidak pernah jemu memandang wajah kekasihnya itu.
"Aku sudah selesai makan, aku sangat menikmati makanannya" kata Sun Youra sambil tersenyum pada Nim Joon yang tidak melepaskan pandangan dari wajahnya.
"Oppa, apa yang kau pikirkan?" tanya Sun Youra.
Nim Joon tersadar dari lamunannya, ia tertunduk malu karena tertangkap sedang melamun sambil memandangi wajah Sun Youra. Walaupun mereka sudah bertunangan, tapi Nim Joon masih malu ketika ketahuan memandangi wajah Sun Youra secara diam-diam.
"Tidak ada apa-apa. Setelah ini kita akan ke mana lagi?" tanya Nim Joon.
"Karena sudah malam, lebih baik kita pulang saja Oppa. Aku sudah sangat lelah" jawab Sun Youra.
Tidak seperti pasangan kekasih lainnya yang setelah makan malam akan menghabiskan waktu berdua dengan sangat romantis, Sun Youra dan Nim Joon akan langsung pulang. Nim Joon sangat menghormati kehormatan Sun Youra. Ia juga sudah bersumpah pada dirinya sendiri akan menjaga Sun Youra dengan jiwa dan raganya.
"Baiklah, kita akan pulang".
Nim Joon memanggil bill. Setelah membayar semua makanan, Sun Youra dan Nim Joon meninggalkan restoran romantis itu.
* * * *
Mobil hitam melaju di jalan yang sepi dan sunyi. Malam itu di jalanan tidak ada yang lewat selain mobil hitam yang sekarang sedang melaju santai. Beberapa lampu dari belakang mobil hitam itu menyilaukan mata yang mengemudikannya. Dari kaca spion dapat terlihat tujuh motor sudah semakin mendekati mobil itu. Mereka memakai jaket dan celana yang di penuhi dengan sobekan dan rantai kecil yang menggantung di celana mereka. Sudah di pastikan itu geng motor yang selalu membuat onar.
Mobil hitam yang tadinya melaju santai kini melaju dengan sangat cepat. Walaupun mobil hitam sudah melaju dengan kecepatan tinggi, tapi ketujuh motor itu tetap bisa mengejarnya. Mereka mengepung mobil hitam itu, dua di samping kanan, dua di samping kiri, satu di belakang dan dua di depan. Dua motor yang berada di depan menoleh pada pengemudi, mereka mengeluarkan sesuatu dari jaketnya. Ternyata itu adalah sebuah pisau yang masih berkilau ketika tersorot lampu mobil.
Dua motor di depan mobil hitam itu mengatur kelajuan mereka yang kini semakin pelan. Tak lama kemudian ketujuh motor itu berhenti dan akhirnya mobil hitam itu terpaksa mengerem secara mendadak. Dua orang yang mengendarai motor di depan dengan cepat turun dari motornya.
"Keluar!!" teriak salah satu dari mereka.
"Keluar atau akan ku bunuh kalian!" teriak yang lainnya dari kaca mobil sebelah kanan.
__ADS_1
Karena tidak mendapat respon dari sang pengemudi mobil, salah satu dari mereka menonjok kaca mobil hingga pecah. Mereka menodongkan senjata tajam pada leher pria yang mengemudi mobil lalu dengan paksa ia manarik pria itu keluar dari mobil.
"Oppa!" teriak wanita yang masih duduk di kursinya.
Dari pintu sebelah kiri, salah satu dari pembegal membuka pintu dan memaksa gadis itu untuk turun. Gadis itu memberontak tapi sayangnya perlawanannya hanya sia-sia.
"Sun Youra!" teriak pria yang sedang ditodong oleh pisau.
"Jangan berani sentuh dia!! Aku akan membunuh kalian semua!" teriaknya dengan wajah yang memerah karena marah.
Tanpa bisa diduga Nim Joon menendang salah satu pembegal yang ada disebelah kanannya, lalu dengan cepat ia meraih pisau yang tadi ditodongkan padanya. Pergulatan tidak bisa dihindari. Nim Joon mendapatkan beberapa pukulan di perutnya walaupun ia dapat melawan.
"Hentikan! Aku mohon! Jangan sakiti dia!" teriak Sun Youra dengan suara serak karena sekarang ia sudah menangis.
Sun Youra tidak sanggup melihat Nim Joon dipukuli habis-habisan.
"Diam! Kau tenang saja karena kami akan membawa mu untuk bersenang-senang" kata pria yang membekuk Sun Youra.
Sontak saja ketiga pria yang sedang menahannya itu tertawa terbahak-bahak.
"Kau pikir polisi bisa mendengar teriakanmu, hah!" kata pria itu.
"Polisi kami di jalan di dekat hotel di ujung kota Seoul!" teriak Sun Youra lagi.
Nim Joon tidak sanggup lagi melawan empat pria yang sudah mahir bergulat. Terakhir kali ia hanya mampu memberi pukulan pada wajah pria yang memakai penutup wajah warna coklat hingga orang itu tersungkur ke aspal.
"Sialan!".
Pria yang jatuh tadi mengambil sesuatu dari saku celananya. Dengan cepat ia bangun dan melayangkan satu pukulan ke wajah Nim Joon. Sesuatu yang membuat Nim Joon langsung terdiam sambil membelalakan matanya. Darah segar mengalir dari perut Nim Joon hingga menembus kemeja putih dan jas yang ia kenakan.
__ADS_1
"Tidak!!" teriak Sun Youra.
Pada saat itu juga suara sirine mobil polisi terdengar. Cahaya lampu tiga mobil polisi menerangi tempat kejadian. Salah satu polisi membuka kaca mobil dan menodongkan pistol ke arah mereka.
"Sialan! Ternyata gadis ini sudah menelepon nomor darurat" kata pria yang menegang kedua tangan Sun Youra.
"Ayo pergi!" teriak pria yang sudah menusukkan pisau pada Nim Joon.
Sun Youra didoring begitu saja oleh para pembegal itu. Mereka berlari ke motor masing-masing. Mereka memakai helm lalu melesat dengan sangat cepat. Dua mobil polisi mengejar mereka sedangkan satu lainnya berhenti di samping mobil Nim Joon. Tiga polisi keluar dari mobil dan berlari menghampiri Sun Youra yang sedang menangis sambil memeluk Nim Joon yang sudah terkulai lemah di pangkuannya.
"Nona, baik-baik saja?" tanya salah satu polisi.
"Aku baik-baik saja, tapi cepat tolong dia. Dia mengeluarkan banyak darah" jawab Sun Youra yang masih terus menangis.
"Ternyata geng mereka sudah nekat menggunakan senjata tajam" kata salah satu polisi lain.
"Cepat kita bawa dia ke rumah sakit" kata polisi yang tadi bertanya pada Sun Youra.
Nim Joon dan Sun Youra dibawa menggunakan mobil polisi sedangkan mobil Nim Joon dibawa oleh salah satu personil polisi. Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Sun Youra terus menangis sambil memeluk kepala Nim Joon yang kini sudah tidak sadarkan diri. Mereka di bawa ke rumah sakit terdekat.
* * * *
Dua mobil polisi berhenti di pinggir jalan. personil polisi berjejer di depan mobil sambil berkacak pinggang. Mereka sedang sangat kesal.
"Tikus kecil itu berhasil kabur lagi" kata salah satu dari mereka.
"Tapi kali ini mereka hanya bertujuh, aku rasa pria yang kita kejar kemarin tidak bergabung dengan mereka" kata temannya menimpali.
"Benar juga. Walaupun kita tidak berhasil menangkap para tikus kecil itu. Setidaknya kita berhasil membawa motor salah satu dari komplotan mereka" kata yang lain.
__ADS_1
"Kita harus membuat regu polisi khusus untuk memburon mereka" kata polisi yang pertama berbicara.
Mereka memutuskan untuk kembali dan melihat kondisi korban yang dikabarkan sudah dibawa ke rumah sakit.