
Tiga hari kemudian, Nim Joon sudah bisa dikunjungi. Nim Joon terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Wajahnya penuh oleh perban yang membungkus layaknya mumi. Di samping ranjangnya ada Sun Youra yang sudah tiga hari menunggu Nim Joon di rumah sakit.
Dua hari yang lalu Sun Youra ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Ia mengatakan bahwa pembegal itu sama sekali tidak mengambil barang berharga dan tidak menyakiti dirinya sedikitpun. Ia juga mengatakan apa yang dikatakan oleh salah satu pria itu.
Dari apa yang dikatakan oleh Sun Youra, pihak polisi dapat menyimpulkan bahwa mereka hanya ingin menculik Sun Youra. Geng motor itu sepertinya tidak membutuhkan uang atau apapun selain Sun Youra.
Nim Joon membuka matanya dan tersenyum kecil ketika melihat orang yang pertama ia lihat adalah Sun Youra. Nim Joon tidak bisa tersenyum lebar karena sudut bibirnya dipenuhi memar dan luka. Kembali lagi air mata jatuh di kedua pipi putih Sun Youra. Hatinya terasa teriris melihat kondisi Nim Joon yang sekarang berbaring lemah tak berdaya.
"Sudah berapa lama kau menungguku?" tanya Nim Joon membuka suara dengan suara yang kecil dan serak.
"Oppa jangan banyak pikiran ya. Kau harus fokus untuk sembuh" kata Sun Youra.
Ia tidak ingin mengatakan bahwa sudah tiga hari ia tidak pulang ke rumah demi menunggu Nim Joon di rumah sakit. Ia yakin Nim Joon akan sangat khawatir atas kesehatan dirinya.
"Aku sudah menelepon orang tuamu. Karena kemarin mereka tidak bisa membatalkan janji kliennya, maka hari ini mereka akan datang" kata Sun Youra dengan senyumnya.
"Kemarin? Memangnya sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?"
Sun Youra tidak menyadari bahwa ucapannya tadi telah mengundang pertanyaan yang ingin ia hindari. Terpaksa Sun Youra mengatakan dengan jujur.
"Sudah tiga hari kau tidak sadarkan diri" jawab Sun Youra.
"Jadi kau tidak pulang selama tiga hari?" kata Nim Joon menatap dalam ke mata Sun Youra.
"Tidak Oppa, aku sempat pulang dan beristirahat" jawab Sun Youra berbohong.
"Bohong, aku tahu kau sedang berbohong" kata Nim Joon masih menatap pada bola mata Sun Youra.
Sun Youra menelan ludah. Apakah ia begitu tidak bisa berbohong hingga dengan menatap bola matanya saja, Nim Joon sudah mengetahui bahwa ia sedang berbohong.
"Oppa, aku mohon jangan khawatirkan aku. Aku baik-baik saja dan sehat. Kau harus cepat sembuh" kata Sun Youra.
Sun Youra memeluk Nim Joon yang berbaring di ranjang dengan sangat hati-hati. Ia tidak ingin membuat Nim Joon kesakitan.
__ADS_1
"Aku mencintaimu. Cepatlah sembuh" kata Sun Youra.
"Cium aku" pinta Nim Joon.
"Seluruh bagian wajahmu memar. Aku tidak ingin menyakiti mu" kata Sun Youra sambil tersenyum.
Sun Youra melepaskan pelukan dari tubuh Nim Joon. Ia kembali duduk di kursinya. Beberapa menit kemudian ponselnya berdering. Sun Youra melihat pemanggilnya adalah ibu dari Nim Joon.
"Hallo Eomma, selamat siang" sapa Sun Youra lembut. (Eomma/엄마 \= Ibu/ mamah).
"Hallo Youra. Aku sudah berada di depan rumah sakit, di kamar nomor berapa Nim Joon dirawat?" kata Ibunya Nim Joon.
Sun Youra mengatakan nomor kamar rawat Nim Joon. Setelah itu telepon ditutup. Sun Youra tersenyum lembut pada Nim Joon.
"Eomma akan segera datang" kata Sun Youra.
Beberapa saat kemudian, pintu kamar rawat diketuk dan masuklah seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik bersama seorang pria yang sudah tua juga. Mereka adalah orang tua Nim Joon yang baru datang dari Jepang.
"Youra sayang, tolong ceritakan kronologi kejadiannya" kata Ibunya Nim Joon pada Sun Youra.
Sun Youra menceritakan kejadian tiga hari yang lalu dengan sangat detail. Di mulai para geng motor itu muncul hingga polisi membawa mereka ke rumah sakit.
"Masih beruntung kau tidak apa-apa sayang" kata ibunya Nim Joon lalu memeluk Sun Youra.
Sun Youra sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri. Ia juga meminta Sun Youra untuk memanggilnya 'Eomma' seperti Nim Joon memanggilnya.
Kedua orang tua Nim Joon meminta Sun Youra untuk pulang dan beristirahat. Merekalah yang akan menjaga Nim Joon sampai anak mereka sembuh. Sun Youra menyetujuinya karena ia juga harus kembali bertugas sebagai suster di rumah sakit lain. Sun Youra pulang menggunakan taksi menuju apartemen kecilnya.
* * * *
Siang itu, tujuh anggota geng motor sedang menikmati minuman mereka. Mereka meneguk wine dari botolnya langsung. Di jalan yang sunyi itu mereka aman dari warga dan polisi. Mereka juga sedang mencari mangsa terakhir. Kemarin mereka sudah berhasil menculik gadis SMA yang baru pulang dari rumah kekasihnya, dan hari ini mereka ingin mencari satu gadis lagi. Walau mereka tertawa ria, tapi mata mereka tetap fokus mencari mangsa yang cocok.
Sebenarnya sudah banyak gadis yang melewati jalan itu, tetapi wajah mereka berada di bawah rata-rata dari kata cantik.
__ADS_1
Satu taksi akan melewati jalan itu, tapi taksi itu tiba-tiba saja berhenti secara mendadak. Dari kejauhan tujuh pria itu memperhatikan taksi yang tiba-tiba berhenti.
"Kalian lihat taksi itu? Sepertinya ia menyadari keberadaan kita" kata Min sambil membuang botol wine yang masih berisi.
"Aku yakin dia membawa seseorang, maka dari itu dia tidak berani lewat" tambah Roy yang terus memperhatikan mobil taksi itu.
Mobil taksi itu dengan perlahan berjalan mundur. Mata sang sopir terus mengawasi ketujuh pria yang tidak terlalu jauh dari mobilnya. Para pria berjaket dan memakai penutup wajah itu sedang duduk di atas motor sambil terus menatap tajam pada taksinya.
"Ada apa Pak?" tanya Sun Youra yang merasa aneh ketika taksinya berhenti dan berjalan mundur.
"Nona, sebaiknya kita putar arah. Karena saya rasa gerombolan pria itu adalah geng motor yang terkenal" kata sopir taksi itu dengan was-was.
Sun Youra melihat ke depan dan terkejut ketika mengingat motor dan penutup wajah para pria itu.
"Cepat putar balik Pak, mereka sangat berbahaya".
Kali ini mobil taksi itu tidak lagi berjalan mundur, tetapi maju untuk berputar arah. Karena sang sopir sudah sangat lihai, mobil taksi itu berputar arah dengan sangat cepat hingga mengeluarkan siara berdecit keras dari ban mobil.
"Wah, dia kabur. Cepat kejar!" teriak Min langsung memakai helm.
* * * *
Taksi hitam terus di kejar-kejar oleh empat motor ninja dan harley. Tapi kejadian itu tidak bertahan lama sampai tiba-tiba tiga motor menghadang taksi itu di perempatan jalan. Ternyata tiga pengendara motor lain sudah mengetahui jalan potongan agar bisa mencegat taksi itu.
Taksi itu mengerem secara mendadak. Ketujuh pria itu langsung turun dan memecahkan kaca mobil dengan cepat. Empat dari mereka menangani sang sopir sedangkan tiga lainnya mengeluarkan gadis yang terus memberontak. Setelah berhasil dikeluarkan, mereka tersenyum ketika melihat gadis ini ternyata gadis yang sama dengan gadis tiga hari yang lalu.
"Wow..ternyata gadis ini, kebetulan sekali. Cepat cari ponselnya dan hancurkan" kata Min yang memegangi Sun Youra dengan sangat erat.
Seberapa kuat pun Sun Youra memberontak, kekuatannya tidak akan bisa melawan tiga pria yang memeganginya. Ia hanya bisa berteriak minta tolong walaupun ia tahu itu hanyalah sia-sia.
Dua menit kemudian, sang sopir taksi sudah babak belur dan terbaring lemah di pinggir jalan. Sedangkan Sun Youra sudah tak sadarkan diri karena diberi biusan. Mereka membawa Sun Youra dengan motor mereka. Sedangkan sang sopir taksi dan taksinya dibiarkan begitu saja. Sopir itu masih bisa membuka matanya walau pandangannya sudah mulai kabur. Telinganya mendengar suara derap langkah kaki yang berlari mendekat.
"Pak, bertahanlah".
__ADS_1