LOTTO (Dalam Tahap Perbaikan)

LOTTO (Dalam Tahap Perbaikan)
Jangan sebut nama itu dengan mulut busukmu!


__ADS_3

Kim Hyuk mengangkat tubuh Sun Youra ke lantai pinggir kolam lebih dulu sebelum ia naik ke atas. Bibir mereka sama-sama pucat karena kedinginan. Sun Youra memeluk lututnya sambil menggigil kedinginan.


Kim Hyuk menyapukan rambut ke belakang agar tidak menghalanginya matanya. Pria itu menghembuskan nafas kasar. Ingin sekali ia memarahi Sun Youra habis-habisan, tapi sekarang ia tidak bisa melakukan itu.


"Cepat masuk ke dalam. Aku akan memesan pakaian." hanya itu yang Kim Hyuk ucapkan sebelum berdiri dan meninggalkan Sun Youra di pinggir kolam.


Mata Kim Hyuk menatap Sun Youra dengan marah. Ia sangat kesal, jika saja gadis itu tidak bermain di pinggir kolam, mungkin sekarang mereka tidak akan begitu kedinginan.


Kim Hyuk melepas kemejanya lalu meraih jaket tebal yang tergeletak di tanah. Ia memakai jaket itu lalu menaikan resleting jaket sampai ke leher.


"Mengapa masih diam? Cepat." perintah Kim Hyuk tegas.


Dengan kaki yang masih gemetar, Sun Youra berdiri dan berjalan menuju bangunan yang ada di belakang Kim Hyuk. Ia tidak tahu bagaimana kondisi di dalam sana. Yang ia pikirkan sekarang adalah bagaimana agar tubuhnya terasa sedikit hangat.


Kim Hyuk berjalan menuju mobilnya. Ia mengambil ponsel lalu menghubungi seseorang. Tak lama kemudian Kim Hyuk menutup telepon kembali.


"Gadis itu memang merepotkan saja. Jika bukan karena anakku, mungkin dia sudah ku lempar ke jalanan." kata Kim Hyuk kesal.


Ia kembali berjalan dan duduk di tempat tadi ia berbaring. Semakin lama ia semakin kedinginan. Walau ia sudah memakai jaket yang hangat, tapi celananya basah kuyup. Kim Hyuk duduk dengan gigi yang saling gemeletuk karena kedinginan.


* * * *


Sun Youra duduk di sudut ruangan. Ternyata ruangan itu merupakan sebuah rumah kecil yang mewah. Sun Youra bingung harus duduk di mana karena seluruh tubuhnya basah.


Sudah 10 menit Kim Hyuk tidak memberikan pakaian juga. Akhirnya Sun Youra memilih duduk di lantai sambil memeluk dirinya sendiri.


'Tok tok'


"Buka pintu, ini pakaianmu." suara Kim Hyuk berada di luar pintu.


Sun Youra langsung berdiri dan berjalan untuk membukakan pintu.


"Cepat pakai. Setelah ini kita akan langsung pulang ke rumah. Dokter akan menunggu kita di sana. Tadi aku sudah menghubunginya." kata Kim Hyuk tidak lembut sama sekali.


Sun Youra mengangguk lalu mengambil pakaian yang ada di tangan Kim Hyuk.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan pakaianmu?" tanya Sun Youra yang melihat celana Kim Hyuk masih basah.


"Tidak usah banyak bertanya. Cepat ganti pakaianmu, nanti kau bisa sakit." kata Kim Hyuk ketus.


Tanpa diperintah untuk yang kesekian kalinya, Sun Youra langsung menutup pintu lagi dan berjalan menuju sebuah ruangan yang ia perkirakan sebagai kamar.


* * * *


"Sun Youra baik-baik saja. Ia hanya kedinginan. Setelah ini dudukkan dia di dekat perapian." kata Zhang Fei. Wajahnya masih memar akibat pukulan Kim Hyuk kemarin.


"Baguslah." kata Kim Hyuk lalu duduk di sofa ruang tengah.


Zhang Fei diam seribu bahasa. Ia takut salah berbicara lalu berakhir dengan wajah yang babak belur. Ia memilih meminum teh hangat yang telah dibuatkan oleh pelayan Kim Hyuk.


"Kira-kira kapan dia akan melahirkan?" tanya Kim Hyuk tiba-tiba menyinggung soal kehamilan Sun Youra.


"Perkiraan delapan bulan lagi. Ini baru awal bulan Desember, mungkin bulan Agustus nanti anakmu sudah lahir Tuan." jelas Zhang Fei.


"Apakah kau bisa memprediksi, anakku laki-laki atau perempuan?" tanya Kim Hyuk.


"Tuan, saya permisi pulang." kata Zhang Fei berpamitan.


Setelah Zhang Fei keluar dari rumahnya, Kim Hyuk naik ke lantai dua. Ia membuka pintu kamar Sun Youra lalu masuk ke dalamnya.


Dilihatnya Sun Youra sedang tertidur lelap.


Melihat Sun Youra yang sedang memejamkan mata, Kim Hyuk merasa damai melihat wajah itu. Sun Youra memang sangat cantik. Jika Sun Youra menjadi istrinya, Kim Hyuk yakin semua pria akan iri padanya. Tapi Kim Hyuk tidak pernah berpikir ke arah sana. Untuk sekarang ia hanya berpikir soal anaknya saja.


"Anak kita akan lahir di bulan penghujung musim panas. Aku akan memikirkan nama yang cocok untuknya." kata Kim Hyuk tanpa sadar mengusap kepala Sun Youra.


Kim Hyuk yang sudah merasa lelahpun berbaring di samping Sun Youra dan memejamkan matanya.


* * * *


Hari sudah sore, tak terasa Sun Youra tidur selama berjam-jam. Saat menoleh ke kanan, ia melihat wajah tampan Kim Hyuk sedang terlelap. Sun Youra memperhatikan setiap inci wajah tampan itu. Baru kali ini ia bisa melihat wajah Kim Hyuk dengan jelas dan lama.

__ADS_1


Sebelum ia hanya menatap wajah pria itu saat sedang marah. Kali ini, wajah dingin dan kejam itu terlihat sangat tampan dan damai.


"Jika saja kau tidak terlalu kejam, mungkin aku bisa memanfaatkanmu." gumam Sun Youra dalam hati.


Mata Kim Hyuk masih terpejam. Bulu mata pria itu cukup panjang, dan alisnya juga tebal dan rapi. Setiap wanita yang melihatnya pasti akan jatuh hati padanya. Tapi sayangnya Sun Youra tidak terhipnotis oleh fisik pria itu. Ia membencinya, terutama ketika pria itu berpura-pura lembut.


Sun Youra mengerutkan keningnya, ia baru sadar bahwa nafas Kim Hyuk terasa panas. Dengan refleks, tangan Sun Youra sudah menempel pada kening Kim Hyuk.


"Astaga! Dia panas sekali.".


Sun Youra bangkit dari tempat tidur lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh Kim Hyuk. Celana pria itu sampai sudah mengering karena mereka sudah terlelap sejak hari mulai siang.


Sun Youra keluar kamar dengan cepat, tak lama kemudian ia kembali dengan sebuah mangkuk dan sapu tangan untuk mengompres Kim Hyuk. Ia menarik tubuh Kim Hyuk agar pria itu tidur dengan posisi telentang. Setelah itu Sun Youra mulai mengompres kening Kim Hyuk.


Merasa ada sesuatu di keningnya, Kim Hyuk pun membuka mata dan mendapati Sun Youra sedang mengompresnya. Kim Hyuk menggenggam tangan Sun Youra yang sedari tadi telaten menempelkan sapu tangan pada keningnya.


"Kau harus istirahat." kata Kim Hyuk dengan mata yang merah.


Kali ini matanya memerah bukan karena marah, tapi karena suhu tubuhnya sangat panas. Wajahnya pucat dan seluruh tubuhnya sangat panas.


"Kau sedang demam tinggi. Jangan banyak bicara, biarkan aku merawatmu." kata Sun Youra.


Kim Hyuk tersenyum sinis, "Kau pikir aku lemah? Aku masih bisa membunuh Nim Joon tunanganmu itu, walau dalam kondisi seperti ini.".


Sun Youra terdiam. Matanya menatap mata Kim Hyuk yang sedang tersenyum sinis. Sun Youra mengepalkan tangan, lalu ia berdiri tegak.


"Jangan menyebut nama dia dengan mulut busukmu itu! Aku sangat membenci mu." Sun Youra melemparkan sapu tangan ke tempat tidur lalu meninggalkan Kim Hyuk yang tertawa di dalam kamarnya.


Sungguh Sun Youra tidak tahu terbuat dari apa hati pria itu. Kim Hyuk malah tertawa puas ketika melihat ia menderita. Sun Youra berlari menuruni tangga dan bermaksud untuk keluar dari rumah Kim Hyuk. Tapi saat di depan pintu, Do Jae berdiri sambil menatapnya.


"Mengapa kau menangis?" tanya Do Jae.


Sun Youra heran, mengapa pria yang bertemu dengannya di pinggir jalan waktu itu ada di depan rumah Kim Hyuk.


Sun Youra mengelap air matanya, "Anda ada di sini?" tanya Sun Youra.

__ADS_1


Do Jae tersenyum hangat. Kemudian berjalan mendekati Sun Youra, "Aku adalah ayah Kim Hyuk. Sekarang duduklah di sini." kata Do Jae sambil mendudukkan Sun Youra di sofa ruang tamu.


__ADS_2