
Min dan tujuh temannya baru saja sampai di rumah kecil Kim Hyuk setelah mendapatkan hasil rampasan. Mereka tertawa ria sebelum mereka menghentikannya ketika melihat Kim Hyuk duduk di sofa ruang tamu dengan wajah penuh amarah.
"Kalian jangan asal berbicara, hati-hati lah" bisik Min pada teman-temannya.
Min melangkah masuk ke dalam ruang tamu. Ia melihat ada bekas kain dan air di atas meja. Ia juga melihat kain membalut lengan kiri Kim Hyuk. Dengan cepat dan khawatir, Min duduk di samping Kim Hyuk.
"Ada apa ini Hyuk? Tanganmu terluka" kata Min.
Kim Hyuk tidak menjawab, ia masih sangat marah. Matanya memerah dan tangan kanannya mengepal. Melihat tangan kanan Kim Hyuk mengepal, Min bergeser menjauh, ia tahu kepalan tangan itu bisa saja tiba-tiba menghantam wajahnya.
"Jangan biarkan gadis sialan itu bisa melihat alam luar. Biarkan dia terkurung seperti di neraka" kata Kim Hyuk dingin, bahkan sangat dingin.
Tubuh Min seperti membeku. Nada bicara itu sudah lama tidak ia dengar dari suara Kim Hyuk. Terakhir kali ia mendengarnya adalah ketika Kim Hyuk hampir membunuh Choi Jo.
"Kalian jangan ada yang berani masuk ke kamarku jika kalian tidak ingin mati" kata Kim Hyuk tegas dan tajam.
"Baiklah Hyuk" jawab Min yang baru berani mengeluarkan suara.
"Lalu bagaimana dengan Min Dong Bos?" Kal memberanikan diri untuk bertanya.
"Aku tidak ingin menjualnya, biarkan gadis itu menderita karena sudah berani bermain-main dengan ku" jawab Kim Hyuk masih dingin.
"Tapi Hyuk, bukankah gadis itu belum..."
"Aku sudah mengambilnya. Setelah tersadar, biarkan dia berteriak histeris mengetahui bahwa baru hari inilah semua itu terjadi." kata Kim Hyuk memotong ucapan Min.
"Dan kalian berdua" Kim Hyuk menatap Kel dan Ray tajam, "Kalian itu bodoh! Bisa-bisanya Choi Jo mengetahui rumahku, dan dia berkata bahwa kalian bergosip tentangku. Berani sekali kalian!" sekarang Kim Hyuk membentak dua anak buahnya.
Kel dan Ray gemetar ketakutan. Mereka sama sekali tidak tahu dan tidak menyangka akan seperti ini.
"Jadi luka di tanganmu ulah Choi Jo?" Min terkejut.
"Ya" jawab Kim Hyuk masih menatap kedua anak buahnya.
__ADS_1
"Maafkan kami Bos, kami tidak tahu ini akan terjadi dan soal bergosip, kami hanya bercanda saja Bos" kata Kel mewakili Ray.
"Jika kalian membahayakan posisi kita semua, maka siap-siap kepala kalian melayang" ancam Kim Hyuk dengan dingin.
* * * *
Cahaya mentari sore menyapa Sun Youra yang sedang memeluk dirinya. Matanya kosong, sepertinya ia sudah kehabisan air mata. Sun Youra sangat membenci Kim Hyuk. Menurutnya tidak ada lagi pria yang seburuk, sejahat dan kejam Kim Hyuk.
Sejak sadarkan diri, Sun Youra terus menangis. Ia baru menyadari ucapan dua laki-laki di club malam tadi malam. Ternyata Kim Hyuk sudah membohonginya. Ternyata baru hari ini lah dirinya kehilangan kehormatan dan masa depannya.
Walau sekarang dirinya sudah tidak mengeluarkan air mata, tapi di dalam hatinya menangis dan menjerit.
Ia mengingat Nim Joon pria yang sangat ia cintai. Pria yang sangat baik, ramah dan selalu tersenyum padanya. Apakah pria itu masih mau menerima dirinya sekarang? Tidak, Sun Youra sendiri pun merasa tidak pantas bersanding lagi dengan Nim Joon. Nim Joon pria terhormat sedangkan dirinya sekarang hanyalah seorang gadis yang menjijikan.
"Aku membenci mu" kata Sun Youra pelan saat ia membayangkan wajah Kim Hyuk yang tersenyum licik.
"Aku membenci mu".
Perkataan itu lah yang selalu Sun Youra ucapan.
Min berjalan melewati Sun Youra yang membungkus diri menggunakan selimut. Min telah membawa beberapa papan untuk menutup jendela. Sesuai dengan yang diperintahkan oleh Kim Hyuk, Sun Youra tidak boleh melihat dunia luar lagi.
Min memaku papan tersebut satu demi satu sampai pada akhirnya jendela kamar Kim Hyuk sudah tertutup dengan rapat. Setelah pekerjaannya selesai, Min keluar dari kamar itu.
"Aku membenci mu Kim Hyuk!!!" Sun Youra berteriak sekuat-kuatnya.
Baru kali ini ia menyebutkan nama Kim Hyuk.
Teriakan Sun Youra tentu saja terdengar sampai ruang tamu di mana saat ini Kim Hyuk sedang duduk dengan santai. Kim Hyuk tersenyum sinis mendengar teriakan Sun Youra. Menurutnya itu adalah hal yang lucu dan menyenangkan.
"Hyuk, sepertinya ia akan mengalami trauma berat" kata Min tiba-tiba.
Kim Hyuk menoleh cepat pada Min dengan tatapan dingin dan tajam.
__ADS_1
"Lalu, apa peduliku dan apa urusanmu?" tanya Kim Hyuk.
"Bukan maksudku ikut campur tentang urusanmu dengan gadis itu. Tapi apakah ini tidak terlalu berlebihan? Sebelumnya kau selalu menyampakkan gadis-gadis itu begitu saja. Dengan begitu, mereka hanya akan mengalami trauma setahun atau dua tahun. Tapi gadis ini, aku rasa dia akan trauma seumur hidupnya karena atas apa yang kau lakukan" kata Min memberanikan diri.
"Apa maksudmu?" tanya Kim Hyuk pelan tapi menusuk.
Kim Hyuk berdiri dari sofanya, menatap Min dengan sangat tajam. Enam orang lainnya hanya menunduk takut Kim Hyuk akan marah.
"Kau mau menggurui ku tentang rasa belas kasihan? Seharusnya kau memikirkan nasibmu terlebih dahulu sebelum kau berbicara".
Kim Hyuk hampir saja melayangkan pukulannya pada Min. Tapi itu tidak terjadi karena mereka mendengar suara sirine mobil polisi dari kejauhan.
"Sialan, pasti Choi Jo memberitahu lokasi kita pada polisi itu. Cepat bawa gadis itu dan bawa barang-barang berharga ku. Kita pergi dari sini sekarang juga".
Berkat bantuan ketujuh anak buahnya, Kim Hyuk berhasil mengemasi barang-barang berharganya secepat kilat dan membawa Sun Youra pergi dari sana menggunakan motor.
Mobil polisi sedang berhenti di depan salah satu rumah warga. Ia sedang menanyakan keberadaan geng motor. Tapi para warga tidak mau memberikan keterangan. Mereka malah memilih untuk menutup pintu rumah mereka.
"Hmm aku rasa mereka semua takut pada geng motor itu" kata polisi berkulit hitam.
"Ya aku rasa juga begitu. Mengapa Nim Joon tidak memberitahu alamatnya secara rinci? Akhirnya kita harus bersusah payah juga" kata polisi yang tinggi.
"Hei, kalian mendengar suara itu tidak?" kata polisi lainnya.
Mereka semua mendengarkan suara yang samar-samar dengan sangat cermat.
"Suara gemuruh knalpot motor" jawab polisi yang tinggi.
"Itu para komplotan geng motor. Mereka kabur" kata polisi berkulit hitam.
"Cepat cari sumber suara dan kejar mereka" perintah polisi berkulit hitam itu lagi.
Enam mobil polisi melesat mengejar sumber suara motor yang dicurigai adalah suara motor dari para komplotan geng motor.
__ADS_1
Mereka mengejar sumber suara motor itu hingga melewati sebuah rumah yang paling kecil dan kumuh. Salah satu dari mobil polisi itu tiba-tiba berhenti di depan rumah tersebut.
"Apakah ini rumah dan markas ketua geng motor itu?" kata polisi di dalam mobil sambil memperhatikan rumah yang tertutup dan tak berpenghuni.