
"Aku tidak bisa menggugurkan kandunganku. Dia tidak bersalah dan berhak hidup. Aku juga sudah berjanji pada Kim Hyuk, aku akan melahirkan anaknya.".
Jawaban Sun Youra membuat hati Nim Joon hancur berkeping-keping. Ia berdiri dan mengahadap lurus pada gadis yang ia cintai.
"Jika itu memang keputusanmu. Aku tidak bisa memaksa. Satu yang aku harapkan, jangan pernah menyesalinya karena aku tidak akan mengganggu hidupmu lagi.".
Itulah yang diucapkan oleh Nim Joon sebelum berlalu pergi meninggalkan Sun Youra.
Lagi-lagi air mata Sun Youra jatuh. Tangisannya pecah, ia tidak tahu harus berbuat apa. Sekarang Nim Joon sudah pergi meninggalkan dirinya, benar-benar pergi dan pasti pria itu tidak akan pernah kembali lagi.
Sun Youra memegang kepalanya dengan rasa yang kacau. Entah kehidupan apa yang akan ia jalani setelah ini.
Nim Joon pergi dari hidupnya, Kim Hyuk sang ayah dari anak yang ia kandung berada dalam penjara, dan dirinya lemah tak berdaya dengan segala trauma.
Walaupun ia memilih untuk melahirkan anak Kim Hyuk, bukan berarti ia memilih hidup bersama Kim Hyuk. Sekalipun tidak pernah terlintas dipikirannya untuk menikah dengan Kim Hyuk karena ia sangat membenci pria itu.
"Maafkan aku Oppa, tapi ini yang harus aku pilih. Maafkan aku yang sudah membuatmu kecewa.".
Sun Youra turun dari ranjangnya. Ia melepas selang infus dari tangannya dan secara diam-diam meninggalkan ruang rawatnya.
* * * *
Rumah sakit dihebohkan dengan menghilangnya pasien dari ruang VIP yang masih dalam pengawasan penjagaan polisi. Berita itu tambah besar setelah tahu pasien itu adalah korban penculikan yang telah sebulan disandra oleh kelompok geng motor yang terkenal.
Tidak butuh waktu lama berita itu telah sampai ke kantor polisi. Polisi berkulit hitam berjalan ke sebuah ruangan. Ruangan itu merupakan ruang isolasi. Polisi berkulit hitam memberikan kode pada polisi lainnya untuk membukakan pintu.
Di dalam sana ada Kim Hyuk yang dirantai kaki dan tangannya. Kim Hyuk sudah memakai baju penjara yang dikhususkan untuk penjahat kelas kakap. Wajahnya penuh memar dan luka.
Polisi berkulit hitam berjongkok di depan Kim Hyuk.
"Katakan, apakah kau punya anak buah lain atau rekan geng motor yang membantu pekerjaanmu?".
Kim Hyuk tersenyum tipis, seolah-olah tidak takut dan tidak jera mendapat luka-luka sepanjang wajah dan tubuhnya.
"Aku berdiri sendiri. Geng motor lain hanyalah tikus got yang lemah. Tidak mungkin aku dibantu oleh mereka.".
__ADS_1
"Bohong! Jangan kau pikir kami ini bodoh. Entah apa yang kau inginkan dari Sun Youra sampai kau masih menculik nya walaupun kau sendiri di dalam penjara.".
Kim Hyuk mengangkat kepalanya tegak, matanya membulat.
"Apa maksudmu?" Kim Hyuk berkata dengan tajam.
"Sun Youra hilang dari rumah sakit. Aku yakin rekanmu yang lain telah menculik nya.".
"Bedeb*h sialan! Mengapa kau malah mengintrogasi ku. Mengapa kau tidak cepat-cepat mencarinya?" Kim Hyuk mengamuk di dalam.
Tiga orang polisi berbadan besar dan tegap memukul perut Kim Hyuk agar pria itu berhenti memberontak. Setelah Kim Hyuk lemas, polisi berkulit hitam keluar dan kembali mengunci pintu penjara isolasi itu.
"Sun Youra, kau ke mana? Siapa yang telah menculik mu? Sun Youra aku mohon kau harus kuat dan bertahan." kata Kim Hyuk sambil menyandarkan diri ke dinding.
"Aaaa!!".
Kim Hyuk berteriak sekuat-kuatnya. Ia merasa sangat tidak berguna dan tidak berdaya. Nalurinya ingin menyelamatkan Sun Youra, tapi pada kenyataannya sekarang ia tidak bisa melakukan apapun.
"Polisi sialan! Jika terjadi sesuatu pada Sun Youra, kalian semua harus mati!".
* * * *
Sun Youra berjalan menyusuri pinggiran jalan dan ia masih mengenakan pakaian rumah sakit. Wajahnya pucat dan jalannya semakin lama semakin terhuyung. Sayup-sayup Sun Youra mendengar suara mobil dan klakson dari belakang nya.
Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti di samping Sun Youra. Pengendara mobil itu membuka kaca mobil.
"Apakah kau baik-baik saja Nak?" tanya seorang pria tua sekitar 50 tahunan. Pria itu telihat khawatir dan iba pada Sun Youra.
"Saya tidak apa-apa." jawab Sun Youra.
"Apakah kau pergi dari rumah sakit? Kau pucat dan terlihat lemah. Seharusnya kau tidak keluar dari rumah sakit." kata pria itu setelah melihat pakaian Sun Youra.
"Tidak perlu, terima kasih. Saya hanya ingin pulang." jawab Sun Youra berbohong.
"Perlu tumpangan? Di sekitar sini jalan sepi, mungkin akan sulit mencari taksi." kata pria itu yang menawarkan tumpangan.
__ADS_1
"Tidak, terima kasih. Saya jalan kaki saja. Rumah saya tidak terlalu jauh dari sini." jawab Sun Youra berbohong.
"Baiklah, hati-hati. Aku pergi.".
Setelah orang itu pergi, Sun Youra meneruskan langkah kakinya. Ia kembali termenung.
"Aku akan pergi dari kota ini. Aku tidak ingin mengenang semua yang terjadi si Seoul," kata Sun Youra kemudian ia mengelus perutnya, "Kau harus kuat ya. Maafkan ibu karena membuat mu lelah.".
Sun Youra telah berencana akan pergi ke Busan. Ia ingin meninggalkan semua kenangan indah maupun buruk di kota Seoul ini. Sekarang sudah di penghujung musim gugur, dan pada awal musim dingin juga akan menjadi awal hidup barunya.
Sun Youra melihat ada taksi yang akan lewat. Kemudian ia melambaikan tangan untuk menghentikan taksi itu. Taksi itu berhenti tepat di depan Sun Youra.
"Nona? Anda lagi.".
Ternyata sopir taksi itu adalah sopir yang Sun Youra kita meninggalkan nya begitu saja ketika melihat geng motor Kim Hyuk.
"Maaf malam itu saya tidak menyelamatkan Anda. Saya tahu jika saya membawa Nona, yang ada saya akan babak belur dan tidak dapat melaporkan posisi Anda pada bodyguard Nim Joon.". kata sopir itu menyesal.
"Tidak apa-apa." jawab Sun Youra sambil tersenyum tipis.
"Nona mau ke mana?" tanya sang sopir.
"Aku ingin pergi ke Busan, tapi aku tidak punya uang sepeser pun.".
"Baiklah Nona, saya akan mengantarkan Anda. Tidak perlu membayar." kata sopir itu sambil tersenyum lebar.
"Terima kasih." kata Sun Youra sambil membuka pintu taksi.
"Tidak perlu berterima kasih, anggap saja ini tebusan karena saya sudah membahayakan Anda Nona.".
* * * *
Kim Hyuk menengadah ketika seorang polisi masuk ke dalam ruang isolasi itu. Kim Hyuk ingin sekali menelan polisi itu hidup-hidup, tapi apalah daya ia sedang dirantai.
"Jangan memandang ku seperti itu. Ada seseorang yang ingin bertemu dengan mu. Ingat, jangan mengamuk." kata polisi itu seolah sedang mengintruksikan hariamau pertunjukan untuk tidak menyerang penonton.
__ADS_1
Kemudian mata Kim Hyuk membulat melihat pria yang masuk dan berdiri di belakang polisi itu.Pria itu bertubuh cukup tinggi dan memiliki perawakan yang gagah. Pria itu juga mengenakan jas. Matanya menatap pada mata Kim Hyuk.
"Ayah?".