LOTTO (Dalam Tahap Perbaikan)

LOTTO (Dalam Tahap Perbaikan)
Kim Hyuk tak kenal takut


__ADS_3

Kim Hyuk dibawa ke lantai dasar di mana ruangan perjudian itu berada. Min, Kal, Kel, Roy, Ray, Gil dan Gel terkejut melihat Kim Hyuk dibawa oleh tim SWAT dengan tangan yang diborgol di belakang tubuhnya.


Kim Hyuk tidak menunjukkan sebuah kesedihan atau ketakutan. Ia tersenyum pada ketujuh anak buahnya.


"Bos kau tertangkap?" kata Kal dengan suara yang hampir tercekat.


Polisi berkulit hitam dan polisi bertubuh tinggi langsung berdiri dari kursinya begitu mendengar kata 'Bos' yang diucapkan oleh Kal. Baru kali ini mereka melihat wajah ketua geng motor yang terkenal kejam dan selalu membuat ulah. Mereka sama sekali tidak menyangka wajah ketua geng motor itu akan setampan dan segagah itu. Mereka berpikir Kim Hyuk lebih cocok menjadi Idol K-Pop.


Polisi berkulit hitam mengambil alih Kim Hyuk. Ia mendudukkan Kim Hyuk di antara ketujuh anak buahnya.


"Kau sudah membuat kami sulit dan membuat resah pada warga kota Seoul. Siapa namamu?" tanya polisi itu dengan tegas.


Kim Hyuk tidak menjawab, ia malah menatap dingin wajah polisi itu.


Tak bisa disangkal, ada sedikit rasa gemetar di hati para polisi. Tatapan Kim Hyuk yang dingin dan tajam dapat membuat siapapun takut.


"Aku berpikir kau ini psikopat. Tatapanmu itu tidak biasa." kata polisi bertubuh tinggi.


Kim Hyuk masih tidak menjawab.


"Siapa namamu? Jawab!" teriak polisi berkulit hitam.


"Kim Hyuk." jawab Kim Hyuk singkat dan dingin. Ada nada menantang dalam setiap penekanan namanya.


"Kau orang kaya atau orang miskin? Kau menyandra tunangan Nim Joon di rumah mewah. Apakah itu rumahmu?" tanya polisi berkulit hitam.


"Ya itu memang rumahku. Lalu apa urusannya denganmu? Kau mencari masalah denganku?".


Para anggota tim SWAT tersenyum mendengar ucapan Kim Hyuk yang sangat berani. Mereka sungguh menyayangkan Kim Hyuk menjadi seorang penjahat. Jika Kim Hyuk menjadi anggota kepolisian atau tentara, sudah pasti lawannya akan hilang nyali ketika berhadapan dengan Kim Hyuk.


"Tentu saja itu urusanku, kau sudah membuat resah warga, menculik para gadis, dan melakukan kejahatan lainnya." jawab polisi berkulit hitam.


"Berapa usiamu?" tanya polisi mengintrogasi.


"Jika kalian ingin mengintrogasi mereka, bawa mereka ke kantor polisi dulu." sela komandan tim SWAT.


"Maaf Pak, saya tidak ingin menunda lagi." jawab polisi berkulit hitam.


"25 tahun." jawab Kim Hyuk.


"Siapa orang tuamu? Di mana kau lahir dan besar?" tanya polisi berkulit hitam.


Anak buah Kim Hyuk langsung menunduk. Mereka tahu apa yang akan terjadi jika polisi itu terus bertanya soal itu.


Kim Hyuk langsung menatap tajam, matanya memerah dan rahangnya mengatup keras.


"Jangan bertanya tentang keluargaku." kata Kim Hyuk tajam penuh ancaman.

__ADS_1


Polisi berkulit hitam itu tersenyum lebar. Ia yakin pasti Kim Hyuk takut jika kelakuannya ini ketahuan oleh orang tuanya. Karena senakal apapun anak, ia akan takut pada orang tuanya.


Polisi berkulit hitam tidak sengaja melihat luka lama di tangan kiri Kim Hyuk. Ia mengangkat sebelah alisnya.


"Kau pernah mengalami kecelakaan?" tanya polisi itu mengejek.


Polisi tadi ingin melihat luka itu lebih jelas. Ia mengulurkan tangan tapi terhenti karena suara Kim Hyuk yang menggelegar.


"Jangan sentuh jika kau tidak ingin mati" ancam Kim Hyuk dengan suara besar.


Semua orang terkejut dengan keberanian Kim Hyuk. Seharusnya ia ketakutan bukan malah mengancam.


Dengan sengaja polisi berkulit hitam itu menyentuh luka lama Kim Hyuk. Mata Kim Hyuk lebih merah, wajah putihnya memerah karena amarah, urat lehernya sampai terlihat karena ledakan emosi.


Tanpa diduga Kim Hyuk menendang polisi berkulit hitam. Ia menekuk kakinya agar borgol pada tangannya melewati tubuhnya. Tangan Kim Hyuk lewat dibawah tubuh Kim Hyuk dan akhirnya tangannya sudah berada di depan.


Dalam hitungan persekian detik, Kim Hyuk memutar tubuhnya, merebut pistol yang ada di sarung pistol milik polisi bertubuh tinggi lalu menodongkannya pada polisi berkulit hitam.


Tim SWAT dengan tangkas menodongkan senjata pada Kim Hyuk.


"Jika kau berani menyentuh lagi, lain kali peluru ini akan meledak di kepalamu.".


Polisi bertubuh tinggi itu langsung gemetaran. Ia tidak menyangka Kim Hyuk bisa melakukan hal itu.


Kim Hyuk menurunkan pistolnya dan melemparnya ke sang pemilik. Kim Hyuk kembali duduk tapi tatapannya masih tajam.


"Bawa mereka ke kantor polisi." kata polisi berkulit hitam sambil membersihkan pakaiannya.


Sun Youra duduk di dalam mobil yang mengantar nya menuju rumah sakit. Seluruh tubuhnya sudah tidak bertenaga, air mata terus mengalir di pipinya.


Sun Youra tidak menyangka ternyata ia sedang mengandung anak dari pria yang paling ia benci. Bagaimana ia akan meneruskan hidup dengan bayang-bayang pria yang telah menghancurkan hidup dan masa depannya.


"Nona, kita akan segera sampai ke rumah sakit" kata anggota tim SWAT yang menemani Sun Youra.


Sun Youra tidak merespon, ia masih memikirkan hal yang ada di dalam otaknya.


"Tuan Nim Joon juga sudah menunggu di rumah sakit." lanjut orang itu.


Air mata Sun Youra semakin deras ketika mengingat tunangannya itu. Semua kenangan indah yang telah dilalui oleh nya bersama Nim Joon kini hanya menjadi penambah luka. Bagaimana perasaan pria itu ketika nanti ia tahu bahwa tunangannya sedang mengandung anak orang lain? Pasti itu akan sangat menyakitkan.


Tak lama kemudian mobil yang ditumpangi oleh Sun Youra berhenti di depan rumah sakit. Di teras rumah sakit itu sudah ada polisi, perawat, Nim Joon dan kedua orang tuanya, dan ibu panti asuhan.


Sun Youra keluar dari mobil dengan bantuan anggota tim SWAT. Begitu sampai di teras ia di baringkan pada ranjang dorong rumah sakit. Nim Joon tersenyum bahagia namun ada air mata di sudut matanya. Sun Youra memejamkan mata karena tidak sanggup untuk melihat air mata pria yang sangat ia cintai.


"Sun Youra, kau harus kuat." kata Nim Joon sebelum Sun Youra dibawa ke dalam ruang rawat.


Sun Youra tidak menjawab, ia terus saja meneteskan air mata.

__ADS_1


"Sudahlah Nim Joon, ibu rasa dia pasti mengalami trauma berat. Kau harus sabar menunggunya pulih." kata ibunya Nim Joon.


"Iya Eomma, aku paham." kata Nim Joon.


"Lalu bagaimana dengan proyek di Jeju? Setelah Sun Youra sembuh kau akan meneruskan pembangunan perusahaan di sana kan? Jika semua selesai, kau harus segera menikahi Sun Youra." kata ayahnya.


Sungguh Nim Joon tidak memikirkan apapun selain Sun Youra. Tunangannya itu harus baik-baik saja.


Satu jam menunggu akhirnya dokter selesai memeriksa Sun Youra. Dokter itu menghampiri semua orang yang sedang menunggu Sun Youra dengan sabar.


"Ada orang tua dari pasien?" tanya dokter itu.


Ibu panti asuhan berdiri.


"Sun Youra tidak memiliki orang tua, dia dibesarkan di panti asuhan. Saya sebagai wakilnya." kata ibu panti.


"Baiklah, mari ikut saya." kata dokter itu.


Nim Joon yang sedari awal tidak bisa tenang, ia memohon untuk ikut ke ruangan dokter. Karena ia terus mendesak akhirnya dokter pun mengizinkan Nim Joon.


Mereka duduk berhadapan di meja. Dokter menarik nafas panjang sebelum mengatakan kondisi Sun Youra pada dua orang di hadapannya.


"Begini, pasien mengalami banyak kekerasan dan guncangan pada kejiwaannya. Jadi pasien membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Pasien juga membutuhkan banyak istirahat." kata dokter itu.


"Apakah Sun Youra tidak mengalami depresi?" tanya Nim Joon.


"Menurut saya pasien mengalami depresi ringan sebelumnya. Saya harap Anda sebagai keluargnya mampu menjaga kejiwaan pasien dengan baik." jawab dokter itu.


"Saya akan memberikan resep obat. Saya juga akan memberikan vitamin dan penguat kandungan.".


'Degg'


Jantung Nim Joon terasa copot. Kata terakhir dokter itu membuat Nim Joon membelalakkan matanya.


"Apa Dok? Kandungan?".


"Iya, pasien sedang mengandung. Kandungannya berusia sekitar empat minggu" jawab dokter.


Tubuh Nim Joon terkulai lemas di atas kursi. Pandangannya langsung kosong. Ia tidak dapat percaya apa yang baru dokter itu ucapkan.


"Tidak mungkin, Dokter pasti bohong." Nim Joon berkata lirih.


"Saya tidak berbohong." jawab dokter itu.


"Nim Joon...".


Belum sempat ibu panti menenangkan Nim Joon, pria itu sudah menggebrak meja dengan sangat kuat. Air matanya menetes dan wajahnya memerah.

__ADS_1


"Tidak! Dasar pria bajin**n!! Akan ku bunuh kau!".


Nim Joon berjalan cepat meninggalkan ruang dokter.


__ADS_2