
Kim Hyuk melepas pelukannya setelah Sun Youra tidak menangis lagi. Terdengar dari belakang banyak kendaraan yang berikan klakson. Kim Hyuk baru tersadar sekarang ia berhenti di jalan tanpa menepikan mobilnya.
"Aku akan mengajak mu ke tempat lain." kata Kim Hyuk lalu melanjutkan perjalanan.
Kim Hyuk menjalankan mobilnya menuju sebuah tempat yang sama sekali belum pernah Sun Youra lewati. Gadis itu bingung dan takut. Mungkin traumalah yang membuat gadis itu takut jika dibawa ke tempat yang baru ia lihat.
"Kau mau membawa ku ke mana?" tanya Sun Youra panik.
Kim Hyuk tersenyum tipis, "Tenang, aku tidak akan menculik mu Sun Youra. Aku hanya ingin menunjukkan sebuah tempat di mana kau akan merasa santai dan tenang." jawab Kim Hyuk sambil fokus pada jalan.
Mobil merah Kim Hyuk melewati sebuah bangunan yang berjejer rapi. Tak jauh dari sana Sun Youra dapat melihat bukit kecil yang berjejer. Kim Hyuk menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah kolam yang panjang dan lebar.
"Tempat apa ini?" tanya Sun Youra.
"Sudahlah, mari keluar." kata Kim Hyuk lalu keluar dari dalam mobil. Ia juga membuka pintu untuk Sun Youra.
Begitu keluar dari mobil, barulah jelas ia memandang tempat itu. Di seberang kolam yang luas itu ada bukit kecil. Mungkin itu adalah bukit buatan. Dari balik bukit itu Sun Youra dapat melihat puncak Namsan Tower yang terlihat sangat kecil. Tempat itu masih sangat segar dan banyak pepohonan.
"Bagaimana? Indah tidak?" tanya Kim Hyuk sambil tersenyum kecil.
"Indah." jawab Sun Youra singkat.
Kim Hyuk dapat memahami mengapa Sun Youra tidak tersenyum ataupun mengekspresikan kebahagiaan melihat tempat indah itu. Gadis itu masih trauma dan belum bisa menerima semua dengan pikiran berbuka, selalu ada rasa takut di dalam hatinya.
"Mari kita duduk di sana sambil menunggu salju turun." kata Kim Hyuk langsung menarik tangan Sun Youra.
Tempat itu sepi, tidak ada orang maupun keributan kendaraan. Perlahan Sun Youra mengerti mengapa tempat itu sepi. Ia yakin sekali bahwa tempat itu adalah kawasan hotel resort.
"Mengapa kau terlihat tidak senang berada di sini? Jika kau tidak mau berada di sini kau bisa mengatakannya pada ku. Kau ingin ke mana?" tanya Kim Hyuk.
Sun Youra menggeleng, "Aku senang ada di sini." jawab Sun Youra.
Kim tersenyum lalu ia menarik tangan Sun Youra agar gadis itu ikut duduk di sebuah tempat duduk yang panjang dan lebar seperti meja tenis. Setelah Sun Youra duduk, Kim Hyuk merebahkan tubuhnya ke tempat duduk itu. Ia memandang langit tanpa terlihat matahari terik.
Sun Youra diam saja, ia tidak ingin mengganggu Kim Hyuk maupun diganggu.
__ADS_1
"Mengapa diam seperti patung? Apakah kau lapar?" tanya Kim Hyuk berusaha perhatian. Ia tidak tahu bagaimana cara memberikan perhatian pada seseorang. Ia kira perhatian pada seseorang itu adalah dengan terus bertanya.
"Tidak, aku hanya ke dinginan." jawab Sun Youra singkat.
Kim Hyuk tersadar bahwa sekarang mereka sedang duduk di luar ruangan menunggu salju turun. Tentu saja itu sangat dingin. Kim Hyuk menarik tubuh Sun Youra hingga gadis itu terbaring di sampingnya. Lalu Kim Hyuk menariknya lagi dalam pelukannya.
"Apakah sudah sedikit hangat?" tanya Kim Hyuk.
Sun Youra mengangguk satu kali, "Cukup lebih baik." jawab Sun Youra.
Kim Hyuk tersenyum, kini Sun Youra mau menjawab pertanyaan. Tidak seperti tadi saat dirinya berada di dalam mobil.
Kim Hyuk dan Sun Youra melihat ke atas langit kemudian menjatuhkan pandangan pada satu sama lain. Entah mengapa tiba-tiba Kim Hyuk merasa canggung melihat wajah Sun Youra sedekat itu dengan wajahnya. Tak lama kemudian ia merasakan butiran dingin jatuh pada pipinya.
Sun Youra tersenyum melihat pipi Kim Hyuk. Ia menggerakkan tangannya untuk mengambil sesuatu dari wajah Kim Hyuk.
"Lihat, saljunya sudah turun." kata Sun Youra.
Kim Hyuk dan Sun Youra kembali menatap langit. Dari atas langit turun butiran salju kecil yang menandakan salju pertama telah turun. Berdasarkan mitos romantis, siapa yang berdoa pada saat salju pertama turun, maka akan dikabulkan di kemudian hari.
Kim Hyuk memejamkan matanya. Tiba-tiba ia melihat wajah Sun Youra sangat jelas dalam pandangan mata tertutup nya. Dalam hati ia menyebutkan nama Sun Youra. Kemudian ia membuka matanya. Dilihatnya gadis itu sedang menatap wajahnya.
"Apakah kau pikir aku percaya mitos itu? Aku sama sekali tidak berdoa. Aku hanya memejamkan mata." jawab Kim Hyuk jujur.
"Kau sendiri, apa yang kau minta?" tanya Kim Hyuk yang menatap wajah Sun Youra dengan ujung matanya.
"Aku berdoa agar kau cepat mati." jawab Sun Youra.
Kim Hyuk tidak menanggapi. Ia kembali menatap langit yang menurunkan salju. Kim Hyuk memandang setiap salju yang turun dan menyapa pipinya. Entah mengapa ia merasa damai. Saat itu semua terasa sangat indah.
Mengapa tidak dari dulu ia menikmati hidup ini. Sudah bertahun-tahun ia melewati salju yang turun setiap tahunnya. Jika ia tahu salju seindah ini, pasti ia tidak akan menyia-nyiakan waktunya.
"Kim Hyuk,".
"Hmm." sahut Kim Hyuk yang masih menatap langit.
__ADS_1
"Aku lapar." kata Sun Youra.
Kim Hyuk menoleh pada Sun Youra. Ia tersenyum, akhirnya gadis itu mau berbicara lebih dulu.
"Menyingkirlah dari tanganku. Aku akan bangun dan memesankan makanan." kata Kim Hyuk.
Sun Youra menuruti permintaan Kim Hyuk. Ia bangkit dan duduk menghadap lurus ke arah kolam yang luas. Kim Hyuk berdiri dan berjalan masuk ke dalam bangunan yang ada di belakang mereka. Tak lama kemudian Kim Hyuk kembali lagi dan duduk di samping Sun Youra.
"Aku sudah memesan makanannya. Sebentar lagi mereka akan datang." kata Kim Hyuk.
Sun Youra mendengar ucapan Kim Hyuk, tapi ia malas untuk menanggapinya.
Sun Youra berdiri dan melangkah menuju pinggiran kolam. Kim Hyuk hanya memperhatikan dari tempatnya. Sun Youra berjongkok dan menyentuh air kolam itu.
Air kolam itu sangat dingin. Tentu saja dinginnya akan sama seperti air es. Sun Youra tersenyum merasakan air yang begitu dingin. Lagi-lagi ia menyentuh air itu.
Kim Hyuk yang memperhatikan dari belakang menggelengkan kepala. Ia berpikir Sun Youra sangat kurang kerjaan. Di suhu yang sangat dingin itu ia malah bermain air. Mungkin itu adalah bawaan bayi yang ia kandung. Kim Hyuk pun memakluminya.
"Tuan, ini makanannya." dua orang wanita membawakan dua nampan yang penuh dengan makanan.
"Letakan di situ." kata Kim Hyuk.
Sun Youra menoleh pada Kim Hyuk. Kim Hyuk melambaikan tangan agar Sun Youra kembali duduk di tempat duduk. Sun Youra berdiri dan berbalik badan. Tapi sayang kakinya terpeleset oleh salju yang mulai menumpuk di pinggir kolam.
'Byuur'
"Sun Youra!" Kim Hyuk berlari untuk menyelamatkan Sun Youra. Kolam itu bukan hanya luas, tapi juga dalam.
Sun Youra tidak bisa berenang. Ia hanya berusaha bertahan agar kepalanya tetap di atas permukaan air. Air dingin kolam itu membuat kaki Sun Youra kaku.
Perlahan-lahan ia mulai tenggelam. Dengan mata yang terbuka di dalam air, ia melihat air berpuih tak jauh dari tempat tenggelam. Kemudian sebuah tangan merengkuh tubuhnya.
Beberapa detik kemudian ia sudah berada di permukaan air. Sun Youra terengah-engah hampir tidak bisa bernafas.
"Kau baik-baik saja?".
__ADS_1
Kim Hyuk memeluknya dengan satu tangan, dan tangan lainnya mendayung untuk menepi ke pinggir kolam. Pria itu sudah basah kuyup. Ia hanya mengenakan kemeja karena jaketnya ia lepas sebelum masuk ke dalam air.
"Terima kasih." kata Sun Youra yang mengalungkan tangannya ke leher Kim Hyuk.