LOTTO (Dalam Tahap Perbaikan)

LOTTO (Dalam Tahap Perbaikan)
Ratu yang terkurung


__ADS_3

"Sekarang mari masuk. Udara sangat dingin.".


Kim Hyuk menuntun Sun Youra kembali ke kamarnya. Setelah sampai di kamar, Kim Hyuk mengangkat tubuh Sun Youra ke tempat tidur lalu menyelimutinya.


"Tidurlah, ini sudah larut malam. Ingat, jika kau butuh sesuatu, panggil aku di kamar sebelah." kata Kim Hyuk.


Sun Youra mengangguk. Sekarang ia semakin tidak mengerti dengan Kim Hyuk. Baru beberapa menit yang lalu ia marah seperti orang kesetanan, dan sekarang mulai bersikap lembut. Sungguh membuat ia pusing.


Kim Hyuk mematikan lampu kamar Sun Youra lalu melangkah pergi. Setelah kepergian Kim Hyuk, Sun Youra menarik nafas dalam lalu memejamkan mata.


* * * *


Pagi-pagi sekali para pelayan sudah berkumpul di depan rumah. Sepertinya Kim Hyuk sedang memberikan pidato paginya. Para pelayan itu tertunduk. Mereka sangat takut pada majikannya yang sekarang. Jika dulu Do Jae memiliki sifat tegas dan lembut, Kim Hyuk memiliki sifat tegas, dingin dan tajam.


"Jangan biarkan dia keluar rumah, bila perlu jangan sampai melewati batas pintu itu. Tutup pintu jangan sampai ada yang bisa melihat ke dalam. Jika ada sesuatu kalian bisa langsung menelepon ku." kata Kim Hyuk.


"Baik Tuan." jawab para pelayan serempak.


"Jika dia sudah bangun. Buatkan air hangat, siapkan obat dan vitamin yang sudah diberikan oleh dokter, dan bawa sarapan ke kamarnya." kata Kim Hyuk mengatur semuanya.


"Baik Tuan." kata para pelayan kembali serempak.


Setelah menyampaikan semua yang perlu disampaikan, Kim Hyuk langsung berangkat ke kantor. Para pelayan langsung masuk ke dalam rumah dan melaksanakan tugasnya masing-masing.


Di dalam kamar, Sun Youra baru bangun tidur. Ia merenggangkan seluruh otot dan persendiannya. Ia juga memegang rahang, rahangnya terasa sakit. Padahal tadi malam sebelum tidur, ia tidak merasakan apapun.


"Aku rasa dia mencengkram rahangku dengan sangat kuat. Dasar pria gila, entah bagaimana jalan pikirannya.".


Sun Youra turun dari ranjang. Terdengar suara pintu diketuk. Sun Youra melangkah ke pintu dan membukanya.


"Selamat pagi Nona, kami diperintah tuan untuk menyiapkan air hangat." kata seorang pelayan dengan sopan.


"Ke mana dia?" tanya Sun Youra.


"Tuan sudah berangkat ke kantor." jawab pelayan itu.


"Baiklah, silahkan masuk." kata Sun Youra sambil membuka pintu dengan lebar.

__ADS_1


Sun Youra dibuat terkejut. Semua pelayan sibuk melayaninya. Mulai dari menyiapkan air untuk mandi sampai berjalan saja mereka perhatikan dengan baik. Sun Youra pun memutuskan untuk bertanya.


"Mengapa kalian memperlakukan ku seperti ini?" tanya Sun Youra.


"Tuan meminta kami melayani Nona seperti ratu. Nona tidak boleh kelelahan maupun terluka sedikit saja." jawab seorang pelayan.


Sun Youra mengangguk mengerti. Mungkin Kim Hyuk berusaha membuatnya nyaman. Tapi Sun Youra merasa tidak nyaman dengan perlakuan seperti itu. Ia tidak dapat bebas dari pantauan mata para pelayan. Sun Youra pun merasa tidak enak hati. Para pelayan itu berusia lebih tua darinya, tapi mereka harus melayaninya dengan baik.


"Aku ingin menghirup udara segar di musim dingin. Aku akan keluar sebentar." kata Sun Youra.


Saat akan melangkah, para pelayan menghentikan nya.


"Maaf Nona, tapi Anda dilarang untuk keluar rumah." kata salah satu pelayan.


"Baiklah, aku hanya berdiri di depan teras saja." kata Sun Youra santai.


"Maaf Nona. Itu juga tidak boleh. Ini demi keselamatan Nona. Di luar udara sangat dingin." kata pelayan itu lagi.


Sun Youra menarik nafas panjang, "Kalau begitu bukalah pintunya, aku merasa sesak jika pintu ditutup seperti itu.".


"Maaf Nona. Kami juga dilarang untuk membuka pintu." kata pelayan itu lagi.


"Apa dia itu benar-benar gila? Bisa-bisanya dia melarang untuk membuka pintu." gerutu Sun Youra.


"Buka pintu sekarang. Dia kan sedang tidak ada di rumah." kata Sun Youra.


"Tapi Nona, tuan pasti akan tahu, tuan sudah memasang cctv di sekeliling halaman rumah.


"Dia benar-benar gila." kata Sun Youra sambil memaksa berjalan menuju pintu.


Saat akan membuka pintu, ternyata pintu itu terkunci. Sun Youra berbalik pada pelayan yang berdiri di belakangnya. Sun Youra mengulurkan tangan lalu menggerakkan telapak tangannya seolah meminta kunci.


"Tidak bisa Nona. Kami mohon jangan keluar. Nanti kami bisa dimarahi." kata pelayan itu.


"Baiklah, jika kalian tidak mau memberikan kuncinya, aku akan bunuh diri saja." ancam Sun Youra.


Awalnya para pelayan mengacuhkan ancaman itu. Mereka berpikir mana mungkin Sun Youra mau mengakhiri hidupnya sendiri. Tapi pikiran mereka seketika berubah ketika Sun Youra berjalan ke dapur dan mengambil pisau. Dengan cepat ia menggoreskan pisau itu pada pergelangan tangannya.

__ADS_1


"Nona!! Apa yang kau lakukan." semua pelayan terkejut dan panik.


Sun Youra tetap santai. Tentu saja ia tahu mana yang harus ia gores. Sun Youra adalah seorang suster, ia tahu urat mana yang tidak boleh terpotong.


"Cepat berikan kuncinya, atau aku akan memutuskan urat nadiku sekarang." kata Sun Youra sambil menahan sakit dan perih.


Dengan terpaksa pelayan itu memberikan kunci pada Sun Youra. Tak lama kemudian Sun Youra berjalan keluar. Ia membuka pintu lalu menghilang di tengah salju yang turun dengan cukup lebat.


"Apa yang harus kita lakukan?" kata salah satu pelayan.


"Apa lagi. Mau tidak mau kita harus menghubungi tuan. Aku yakin dia sangat marah, tapi apa boleh buat, nona dalam bahaya. Lihatlah darahnya terus menetes." kata pelayan lainnya sambil menunjuk lantai.


Di sana ada darah Sun Youra yang menetes ke lantai hingga teras rumah.


Di kantor, ponsel Kim Hyuk terus berdering. Kim Hyuk yang sedang rapat sampai tidak fokus dan akhirnya memutuskan untuk menjawab panggilan itu.


"Hallo, ada apa?" tanya Kim Hyuk tanpa ada kelembutan.


"Tu-Tu-Tuan, Nona keluar rumah." kata pelayan itu.


"Bagaimana kalian ini, aku bilang jangan sampai dia keluar bahkan jangan buka pintu." kata Kim Hyuk kesal. Ia masih bisa menahan emosi.


"Awalnya kami tidak mengizinkannya, bahkan kami bersikeras untuk tidak memberikan kuncinya. Tapi Nona nekad menggores pergelangan tangannya.".


"Apa?!" teriak Kim Hyuk.


Seisi ruangan rapat menoleh pada Kim Hyuk.


"Aku akan segera pulang." kata Kim Hyuk pada para pelayan.


"Ada apa Kim Hyuk?" tanya Do Jae setelah Kim Hyuk menutup telepon.


"Sun Youra hampir bunuh diri." jawab Kim Hyuk.


"Apa?" Do Jae sangat terkejut.


"Aku pulang sekarang."

__ADS_1


Kim Hyuk langsung meninggalkan ruang rapat. Ia berlari dengan cepat menuju ruangannya untuk mengambil kunci mobil. Setelah itu ia keluar kantor menuju parkiran.


"Dasar gadis aneh. Demi keluar rumah dia nekad bunuh diri." Kim Hyuk mencengkram setir mobil dengan sangat kuat.


__ADS_2