
Boy mengejar Icha yang tengah berlari kencang dengan mengusap air matanya. Air mata marah, kesal, dan cemburu. Dia mengejar dengan motornya, setelah sampai di dekat Icha, dia mengiringinya perlahan.
“Cha! Icha!” panggilnya.
Icha malah semakin berlari dan menjauhkan diri dari Boy.
Boy terus mengejarnya dengan motor. “Cha! Icha!” teriak Boy memanggil.
“Cha, hei, tunggu!” Boy memotong Icha di depan, sehingga gadis itu terhenti. Dan Boy pun langsung turun dari motor besarnya yang berwarna hijau. “Kamu kenapa, Cha?” Tanya Boy lembut, menyentuh kedua pundak Icha, menatapnya lekat.
Icha menghapus air matanya kasar. “Aku nggak apa-apa, kok!” jawabnya mengedikkan bahu.
“Enggak kenapa-kenapa, kok lari sambil nangis, ada apa di kerumunan tadi? Kamu ikutan berantem, sama siapa?”
“Kamu pacaran ya, sama gadis yang nyium kamu tadi? Dia spesial banget, ya? Aku datang ke sini gangguin kamu, ya!” Bukannya menjawab, Icha malah memberondong Boy dengan berbagai pertanyaan sambil cemberut.
Ya, dia tengah merajuk karena cemburu dan kesal pada Lola.
“Maksud kamu Lola? Aku nggak punya hubungan apa-apa kok sama dia. Cuma saling kenal di arena balapan ini. Masalah-- dia nyium aku-- katanya dia suka aku, tetapi aku cuma anggap dia teman, nggak lebih.”
__ADS_1
Mendengar alasan itu, Icha semakin marah. Jadi, begitukah Boy menganggap seorang wanita? Kalau ada wanita yang suka sama dia, wanita itu boleh cium-cium dia, gitu? Jadi, dia selama ini cuma kebaperan? Dia cuma kege-eran? Dan Boy cuma menanggap dia teman juga 'kan?
Icha kembali berjalan, dia benar-benar mengambek, mulutnya manyun-manyun dengan gumaman yang tidak jelas.
“Cha!” Mendengar teriakan Boy, Icha memilih berlari kembali.
“Ck, aih!” Boy kembali naik ke motornya dengan berdecak lidah, mengejar Icha, mengiringi Icha kembali dengan motor. Berusaha menjelaskan kesalahpahaman ini.
“Cha, aku nggak punya hubungan apa-apa sama Lola. Aku janji, setelahnya aku akan membatasi diri dan menjaga jarak dari dia. Please!” Boy terus-menerus membujuk Icha sepanjang jalan.
Icha kadang berjalan cepat, kadang pelan, karena cukup capek juga, dia berjalan cukup jauh dari arena balapan. Boy terus mengiringi dengan motor hijaunya, menyesuaikan dengan langkah Icha, hingga gemuruh petir pun terdengar.
“Cha,” panggil Boy lembut.
Perlahan, rintik-rintik hujan mulai turun, menyirami bumi. “Cha, please, jangan marah lagi, ya, aku mohon, percayalah. Aku nggak akan mempunyai hubungan apa-apa lagi sama Lola,” tegas Boy.
Hujan yang tadi hanya rintik, mulai semakin besar jatuhnya. “Cha, ayo naik ke atas motorku. Hari hujan, kita berteduh dulu, lalu kita mengobrol, ya. Aku mohon, aku nggak mau kamu flu karena hujan-hujanan.”
Akhirnya, Icha pun naik juga ke motor Boy.
__ADS_1
Sedangkan di arena balapan tadi. Katia sedang bertengkar hebat sambil bergulat dengan Lola. Sahut-sahutan makian dan kata kasar, jambak-jambakan, hingga tarik menarik.
“Sialan kau, Jal*ng busuk!”
“Kau j*blai laknat!”
Lopi yang tadi menyusul sudah mati-matian melerai dua gadis bahenol itu. Tidak ada satupun diantara mereka yang mau mengalah, adu mulut, adu jambak. Untung saja turun hujan, sehingga mereka berdua bisa di lerai.
Lopi yang kelelahan karena ikut di pukul dan juga di jambak, langsung menarik tangan Katia untuk segera pergi dari tempat ini.
“Ayo, kita pergi dari sini! Sebentar lagi hujan.” Lopi membawa Katia ke motor merahnya yang tak jauh dari tempat Katia dan Lola berkelahi tadi.
Katia sudah naik ke atas motor Lopi, memeluk pinggangnya dengan mesra, tetapi dia menoleh kepada Lola dengan satu tangan mengacungkan jari tengah. Lola yang melihat itu berteriak-teriak seperti orang gila karena marah.
Katia semakin senang, dia mengolok-olok Lola, menjulurkan lidahnya dengan jari tengah teracung sambil berkata.
“Fuc*k!” Dengan isyarat bibir saja tanpa suara. Sedangkan Lopi sudah mulai menancap gas dengan kencang.
“Bitc*h!” teriak Lola lantang dengan sakit hati melihat Katia yang sudah pergi jauh berbonceng dengan Lopi.
__ADS_1