Love Of Racer Badboy

Love Of Racer Badboy
Membela Boy


__ADS_3

Di Bar yang terkenal di pusat kota, Boy tengah mabuk-mabukan, beberapa botol minuman telah kosong depan matanya, saat dia didekati beberapa cewek dia benar-benar tidak berselera, saat dalam keadaan mabuk saja di dalam alam bawah sadarnya dia hanya menyebut nama Icha. Boy kembali menjadi pria yang suka melampiaskan hasratnya kepada wanita-wanita seperti dahulu tetapi tanpa perasaan bahkan saat bermain saja Dia memanggil nama Icha.


Hampir tiap hari dia membuntuti Icha dan sekarang dia melihat Icha berjalan bersama Erik. Dia benar-benar sedih, dilema, baru kali ini dia merasakan kesedihan yang teramat dalam, mencintai seorang wanita yang dengan mudahnya mempermainkan dirinya, kini dia tersadar.


“Apakah seperti ini dulu rasanya, saat wanita mengejar cintanya dan dia bermain dengan wanita itu, apakah ini hukum karma untuknya?” Boy berpikir dengan keras.


Dia terduduk lemas, menyandarkan kepalanya di meja bartender. Tiba-tiba, seorang wanita menepuk bahunya, dia adalah Katia, wanita yang selama ini selalu mengurung diri di dalam kamarnya. Kini, keluar karena mendengar berita, jika Boy terus-terusan merasa terpukul. Heru, menjadi teman dekat Boy pengganti Lopi sekarang, dia memberi kabar itu kepada Katia.


“Boy, apa yang kau lakukan, kenapa kamu hukum dirimu seperti ini? Lopi Pasti akan sangat sedih, jika tahu sahabatnya seperti ini. Ini bukan salahmu Boy, aku memang sempat melarang Lopi untuk tidak ikutan balapan, tetapi aku mengerti, sebelum kami saling kenal, inilah dunia kalian, tidak ada yang salah, ini memang sudah takdir kami untuk berpisah dengan kematian, sudah ajalnya Lopi menghadap Sang Ilahi,” kata Katia pelan mengusap bahu Boy.

__ADS_1


“Boy, jangan sakiti dirimu seperti ini lagi, aku mohon, ayo, kita kembali, aku akan bawa kamu pulang, ya!” ujar Katia, “Heru, tolong bantu aku, Boy dia sangat mabuk berat, jangan biarkan dia bermain wanita lagi, bagaimana nanti jika dia sakit? Jika dia bermain wanita sembarangan seperti ini untuk melampiaskan ketenangan otak dan pikirannya, ayo, bawa dia pulang!” pinta Katia kepada Heru.


“Iya,” jawab Heru.


Heru dan Katia pun membopong tubuh Boy, membawa Boy ke tempat tinggalnya, lebih tepatnya di Villa miliknya sendiri, agar tak ada keluarganya yang mengetahui bagaimana keadaannya sekarang, dengan perubahan diri Boy yang tampak tak terurus, kusam, jambang yang sudah panjang, mata hitam.


***


“Hei, Kat! Apa kabar, silahkan duduk, Sayang, ujar Icha antusias menyambut Katia dengan senang, dia baru sadar akan kedatangan temannya itu.

__ADS_1


“Kabarku baik, bagaimana juga dengan kamu? Kamu sudah baikan sama Boy?” tanya Katia dengan berbasa-basi.


Wajah Ica tampak berubah, lalu dia menjawab dengan intonasi tidak suka, “Aku tidak mau menemui dia, aku masih marah, imi semua terjadi karena dia, aku benci sama dia!” ungkapnya.


“Apa alasan kamu benci sama dia Icha? Ini semua bukan salah Boy. Ini takdir kami berdua untuk berpisah dengan kematian, ini juga sudah jalan takdirnya Lopi, ini ajal Lopi, kita tidak bisa campur tangan dengan urusan Tuhan, masalah seseorang makhluk kan utusan Tuhan, kenapa kau tidak memaafkan Boy?" Katia menatap Icha dalam.


“Kasihan sekali Boy, dia benar-benar tidak terurus, maafkanlah Boy,” pinta Katia.


“Sudahlah, Kat! Tak usah bahas Boy, aku terlanjur marah sama dia. Aku benci sama dia, dia itu kasar, dia nampar aku!” urai Icha menatap tajam Katia.

__ADS_1


“Tapi ... itu bisa dibicarakan dengan baik-baik 'kan, mungkin saja dia terlalu pusing, kamu tidak mencintai dia lagi? Apa kamu sudah mulai move on dengan mudahnya dan kau benar-benar menyukai pria jodohan Mamamu? Waktu itu kau mengatakan benar-benar mencintai Boy dan kau tidak akan menginginkan berjodoh dengan pilihan Mamamu, tapi sekarang, kau dengan mudahnya move on meninggalkan Boy,” ujar Katia kecewa.


“Kat, kau itu temanku! Kenapa kau mebelanya, dia itu salah!” bentak Icha.


__ADS_2