
Pandangan banyak tertuju pada Icha, apalagi Katia seketika heboh.
“Busyet! kamu di antar siapa, Bestie? Kamu udah punya gebetan, ya? Kok nggak bilang-bilang ke aku!” Katia cemberut.
“Teman kok, baru kenal. Kemarinnya dia nolongin aku dari maling,” jelas Icha dan kemudian menceritakan perkenalannya dengan Boy pada Katia.
“Oh, begitu, kirain. Dia ganteng nggak? Aku nggak lihat wajahnya, soalnya dia nggak buka helm sih, tetapi dari badannya gagah ya!” ujar Katia.
“Mm, ya, lumayan ganteng,” jawab Icha dengan pipi merona.
Sayangnya, Katia tidak memperhatikan mimik wajah temannya karena hpnya tiba-tiba berdering. Dengan wajah tersenyum, dia berkata pada Icha, “Bantar ya Cha, aku angkat hp aku dulu!”
Yang menelfon Katia adalah Lopi, dia sangat antusias sekali menerimanya.
***
Hari-hari semakin berlalu, hubungan Katia dengan Lopi semakin baik, begitu pula dengan Icha dan Boy pun semakin dekat.
Hari ini, Boy mengajak Icha jalan-jalan di taman alun-alun kota, dia memakai baju kaos berwarna hitam, celana levis pendek, sedangkan Icha menggunakan dress berwarna kuning hambar dengan sepatu pansus berwarna putih ke kuning-kuningan.
“Duduk di sana yuk!” ajak Boy menunjuk kursi taman.
“Ayuk!” jawab Icha tersenyum. Mereka berdua pun berjalan ke arah kursi besi yang berada di alun-alun taman kota itu.
“Suka cilok nggak?” tanya Boy.
“Suka.”
“Tunggu di sini sebentar ya, aku beli cilok dulu di sana.” Boy berdiri. “Eh, es cream suka nggak?” tanya nya lagi, karena melihat es krim tak jauh dari penjual cilok gerobak itu.
“Suka, es cream vanilla coklat ya!" pesan Icha.
__ADS_1
“Ok!”
Boy pun berjalan menuju pedagang cilok dan es krim. Dia membeli dua kantong plastik kecil cilok bersama dua cup es krim rasa Vanilla coklat dan strawberry untuk dirinya.
“Hm, ciloknya enak,” puji Icha.
“Iya, cilok Mamang yang itu memang enak, aku sudah beberapa kali beli sama dia,” kata Boy tersenyum.
“Mm, gimana sama kuliah kamu?”
“Ya, seperti biasa, nggak ada yang berubah, masih banyak tugas dari dosen,” jawab Icha. “Terus, kalau kamu gimana, Boy?” Icha balik bertanya.
“Kayak gitu juga,” jawab Boy tergelak. Pasalnya, kayak gitu yang dia jawab, dia masih seperti itu, kuliah suka-suka dan sering tidak masuk jam mata pelajaran kuliah tertentu.
Boy dan Icha berbincang-bincang banyak hal, mereka berdua tampak senang dan bahagia, rona wajah mereka malu-malu tetapi mau.
Sementara Boy dan Icha yang tengah pedekate, berbeda lagi dengan Lopi dan Katia. Mereka berdua sudah resmi berpacaran selama seminggu ini. Katia memiliki sifat yang agresif dan tidak malu mengungkapkan perasaannya kepada Lopi terlebih dahulu, berbeda dengan Icha yang mau tetapi malu-malu.
Katia takut, jika ada wanita lain yang mendekati Lopi dan mengutarakan cinta padanya, karena dia ada rasa pada Lopi, dia terlebih dahulu mengutarakan isi hatinya.
‘Lop, ada yang ingin aku katakan padamu, sangat penting, menyangkut hidup dan kelangsungan hidupku,’ kata Katia.
Mendengar itu, Lopi menatapnya serius. ‘Ya, katakan saja Katia, ada apa? Mungkin saja, aku bisa membantumu,” jawab Lopi.
‘Aku harap kamu gak marah sama aku, Lop. Aku benar-benar nggak bisa nahan, aku takut, aku gelisah ... aku---’ Katia menatap lekat wajah Lopi.
‘Ya, katakan saja Katia, tidak apa-apa.' Lopi mulai meras waswas mendengar.
‘Aku sebenarnya, suka sekali padamu Lop, aku takut aku keduluan sama orang, jadi aku gelisah, hidupku bisa-bisa kacau jika tidak mengungkapkan perasaanku ini padamu, aku sungguh jatuh hati padamu saat pertama kali kita berjumpa, di sini hanya ada namamu.’ Katia menepuk dadanya.
Lopi tersenyum kecil, mereka berdua saling berdebar.
__ADS_1
‘Aku juga suka sama kamu Kat,’ balas Lopi tersenyum malu-malu.
‘Apa! Serius, Lop?’ Katia berseru, sehingga beberapa pengunjung lain menoleh padanya. ‘Jadi, mulai hari ini, kita resmi pacaran, ya? Aku dan kamu jadian?’ tanya Katia memastikan.
Lopi mengangguk sambil tersenyum. Katia sangat senang karena Lopi menerima cintanya dan mereka jadian.
Selama seminggu jadian ini, Katia happy, hidupnya berwarna kembali. Lopi sering membuat dia tertawa, karena dia adalah pemuda yang ceria dan humoris.
Katia dan Lopi kini sedang duduk di atas motor besar berwarna merah milik Lopi.
“Sayang, gimana kalau kita berdua jadi komplotan penjahat,” seloroh Lopi.
“Hah?” Katia mengerutkan keningnya.
“Iya, menjadi pencuri, Yang. Kamu mencuri hatiku, dan aku mencuri hatimu,” kata Lopi menaik turunkan alisnya.
“Ah, Ayaaaaang, biasa aja, ih!" Katia memukul pelan bahu Lopi.
Lopi melirik hpnya yang sedang di charge di powerbank sambil terkekeh karena telah berhasil menggoda Katia. Sesekali melihat apakah ada pesan masuk dari gengsnya.
“Kenapa Ayang? Ada janji sama teman-teman?” tanya Katia memeluk pinggang Lopi posesif yang tengah melirik-lirik hp nya yang di charge.
Lopi membelai wajah dan rambut Katia. “Enggak ada, cuma lagi cek aja, kali aja ada yang perlu, tapi nggak kedengaran, soalnya nada hp, aku bikin getar aja, Ayang.” Lalu menoel ujung hidung Katia.
“Ayang,” panggil Lopi.
“Iya,” sahut Katia.
“Sejak tadi aku charge hp kok nggak penuh-penuh ya, tetapi yang penuh malah cintaku padamu,” katanya tersenyum, membuat pipi Katia merona malu, sebab gadis itu tadi sudah berwajah serius, berpikir mungkin saja ada kesalahan pada powerbank Lopi, sehingga tidak penuh-penuh saat di charge.
Akan tetapi, rupanya kekasihnya itu hanya ingin menggodanya.
__ADS_1
“Iiiiih, Ayang, dasar tukang gombal!” Tepuk-tepuk manja bahu Lopi.
Lopi tersenyum, memegang tangan Katia, mengecup lembut jemari tangan kekasihnya itu.