Love Of Racer Badboy

Love Of Racer Badboy
Menghubungi Orang Tua Katia


__ADS_3

Icha mengabaikan dan tak ingin mengingat perjodohan yang dilakukan Mama dan Papanya.


“Masalah lo nikah, lo udah bilang nyokap lo?” tanya Icha pada Katia.


“Belum juga, lamaran resminya 'kan belum Cha. Apa gue telepon nyokap kandung gue sekarang aja, ya? Mumpung gue inget, dari pada nanti gue lupa,” tanya Katia dengan gumaman.


“Gue rasa, lu telepon nyokap lu sekarang deh Kat!” jawab Icha.


Katia pun menghubungi ibu kandungnya. Sudah lama mereka tidak berkomunikasi. Ibu kandung Katia sudah memiliki keluarga yang baru setelah berpisah dengan ayah Katia.


“Hallo, Ma. Apa Kabar?” tanya Katia berbasa-basi.


[Hallo juga Katia, Mama baik, gimana juga dengan kamu?] tanya Mama Katia.


“Saya juga baik Ma. Mama lagi ngapain, sibuk nggak?” Katia memainkan kuku-kuku jari tangannya.


[Mama lagi santai aja, enggak sibuk kok. Kalau kamu sedang apa, Kat?] sahut Mama Katia di seberang sana.

__ADS_1


“Lagi santai aja, Ma. Oh ya Ma, Katia mau ngomong sesuatu yang penting. Mm, Katia punya pacar, dia baik banget, beberapa saat lalu sudah menyelesaikan kuliahnya, dia melamar secara pribadi, aku menerimanya, dan sekarang dia mempersiapkan lamaran secara resmi. Saya minta restu sama Mama.” Katia berkata dengan berdebar, pipinya merona merah.


Mama Katia terkejut luar biasa. [Serius Kat?] tanya Mama Katia.


“Iya Ma, serius,” jawab Katia.


[Mama tidak percaya, rupanya putri Mama sudah dewasa, bahkan dia akan segera menikah. Mama merestui kamu Nak, semoga doa pria baik dan akan membahagiakan kamu. Mama akan pulang saat hari pernikahan kamu] ujar Mama Katia.


“Makasih, Ma,” sahut Katia tersenyum senang.


Terdengar suara Mama Katia berubah serak, dia menangis di seberang sana. Selam ini hubungan mereka acuh tak acuh tetapi kini anak pertamanya itu akan menikah.


“Nah, sudah selesai dengan Mamamu, sekarang kamu telepon Papamu, aku berharap semuanya lancar, Bestie!” Icha memeluk Katia, walaupun hatinya menggalau dilema, dia masih ingin yang paling terbaik untuk sahabatnya ini.


“Iya, bentar, gue telepon bokap gue dulu!” ujarnya


Katia menelpon ayahnya. Ayah kandung Katia juga sudah memiliki keluarga baru, bisa dibilang, ayah dan ibunya sibuk sama rumah tangga dan anak-anak baru mereka, sedangkan Katia memilih menetap sendirian, setelah menemukan Lopi, dia ingin bersandar dan hidup bersama dengan pria itu.

__ADS_1


Ayahnya jauh lebih care padanya dari pada ibunya, ayah sering menghubungi Katia, menanyakan uang belanja dan uang kuliahnya.


Seperti saran Icha. Walaupun Katia merasa sakit hati akibat perceraian kedua orangtuanya, menurunkan ego untuk berbakti kepada orang tua dengan mengabari, itu sudah jalan proses untuk dewasa.


“Hallo, Papa.”


[Hallo, Katia. Tumben kamu nelpon Papa duluan, Papa senang sekali. Ada apa? Apa kabarmu baik, Sayang?] tanya sang Papa.


“Kabar Katia baik Pa. Katia mau mengatakan sesuatu.”


[Baiklah, Papa akan mendengarkan, kamu mau bilang apa? Apa ingin Papa menemui kamu?] tanya Papa Katia serius.


“Tidak usah Pa. Aku tidak ingin mengganggu kesibukan Papa. Aku mengerti Papa sibuk.” Katia menghirup nafas dalam. “Pa, aku ingin menikah. Menikah dengan pria yang aku sukai, Lopi,” jelas Katia.


Papa Katia tersenyum. Katia pernah memperkenalkan Lopi dengan ayahnya waktu itu. Menurutnya, Lopi adalah pria ramah yang baik dari keluarga baik-baik.


[Baiklah, kapan dia akan datang melamar putri Papa?] tanya Papa Katia.

__ADS_1


“Papa setuju?” seru Katia senang. “Katia akan mengabari Papa selanjutnya,”


[Iya, Sayang.]


__ADS_2