Love Of Racer Badboy

Love Of Racer Badboy
Mengantar Icha ke Kampus


__ADS_3

Setelah mengiringi pulang, Icha turun lebih dulu dari mobil di depan gerbang rumahnya. “Aku ingin berbincang dulu dengan temanku, Pak,” ucap Icha pada sopirnya.


“Baik Neng, Mamang masuk duluan,” jawab sang sopir. Dia melajukan mobil masuk ke parkiran rumah Icha.


Boy memarkirkan mobilnya di tepi gerbang rumah Icha. Walaupun kurang sopan, Icha benar-benar tidak berniat membawa tamu ke dalam rumahnya, apalagi laki-laki, mereka baru kenalan dan dia masih belum percaya.


“Makasih ya, aku sudah sampai!” kata Icha.


“Iya, ini rumahmu, ya!” balas Boy tersenyum.


“Iya.”


“Oh, ya Cha. Bisakah aku minta nomor hpmu, atau sosial media mu?” Boy memberikan ponselnya pada Icha. Berharap gadis itu memberikan salah satunya, agar bisa mengontak gadis di depannya ini.


Icha meraih hp yang berada di tangan Boy. Tampak mengetik nomor di papan layar dan menyimpan namanya ‘Icha’. Lalu memberikan kembali hp itu pada Boy.


“Aku tidak aktif di sosmed. Ini nomor hpku,” ucapnya.


Boy tersenyum, memanggil nomor Icha, sampai terdengar berdering di kantongnya. “Itu nomorku ya,” kata Boy tersenyum.


“Iya, aku akan save nanti!” jawab Icha.


“Mm, kalau begitu aku permisi, makasih ya, nomornya,” ujar Boy lagi, sebenarnya dia masih ingin berlama-lama di sini, namun wajah Icha tampak enggan, sejak tadi melirik gerbang rumahnya terus.


“Ok,” sahut Icha.


Boy pun memasang helmnya, dan pergi dari sana sambil membunyikan klakson satu kali. Setelah Boy pergi, Icha menghela nafas dan masuk ke dalam rumahnya.


Boy sangat senang sudah berkenalan dengan gadis yang mencuri perhatiannya, apalagi mendapatkan nomor kontaknya, dia bersiul-siul sambil melajukan motor santai.


Tak lama, akhirnya Boy sampai di rumahnya. Dia melempar pakaian yang dia pakai, lalu mengganti kaos oplos berwarna hitam dengan celana boxer pendek. Lalu, merebahkan diri di ranjang.


“Aku telpon dia, ah!” gumam Boy tersenyum. Dia pun langsung menelpon kontak Icha.


“Hallo, Icha, ini aku Boy.”

__ADS_1


‘Iya,’ jawab Icha pendek di sebrang sana.


“Lagi ngapain Cha?” tanya Boy sok akrab.


‘Lagi tiduran aja, sambil denger musik,’ sahut Icha lagi dan memang samar-samar terdengar oleh Boy suara musik lagu pop.


“Oh, kamu suka lagu pop ya?”


‘Iya,’


“Kalau aku suka nyanyi metalica band,” ucap Boy tanpa di tanya oleh Icha. Sosok Boy kali ini jauh berbeda dari Boy sebelumnya.


Boy, biasanya cuek dan dikejar-kejar wanita, kali ini dialah yang mendekati cewek duluan, apalagi cewek ini rada ketus dan tidak tertarik padanya, membuat dia semakin penasaran.


Boy terus saja berbicara, sedangkan Icha menjawab pendek-pendek. ‘Iya, enggak, entahlah’ begitulah kebanyakan Icha menjawab, tetapi dia masih sopan tidak mematikan panggilan Boy dan masih mendengar pria itu berbicara.


Akhirnya, Boy berkata, “Kamu kuliah 'kan? Besok aku antar ke kampus ya.”


Icha beberapa detik terdiam, walupun meragu, dia tetap menerimanya. “Baiklah.”


Keesokan paginya.


Boy sudah berdandan rapi dan bersih serta wangi. Dia benar-benar tampan, dandannya lebih rapi dari pada biasanya. Dia langsung menuju ke rumah Icha dan menelepon gadis itu saat sedang berada di depan gerbang rumahnya.


‘Ok, aku segera turun,’ jawab Icha sebelum mematikan sambungan telepon.


Tak lama, Icha keluar dengan dress berwarna kuning, kulitnya yang putih tampak menyatu dengan warna bajunya, benar-benar indah di mata Boy.


Rambut Icha yang lurus sebahu, membuat kesannya bertambah feminim dengan dress kuning di bawah lutut. Apalagi dia tersenyum saat melihat Boy, jantung Boy langsung berdetak lebih cepat dari pada sebelumnya, senyuman Icha dengan lesung pipi di kedua pipinya yang tidak terlalu dalam.


Wajah Icha oval dengan pipi chubby, alisnya rapi dari lahir seperti semut berbaris, tanpa harus menggunakan alat bantu alis. Tinggi dan berat badannya sangatlah ideal. Boy benar-benar terkesima, kemarin Icha terlihat sangat elegan, pagi ini dia terlihat sangatlah imut.


Begitu pun Icha memandang Boy. Tiba-tiba, dadanya berdebar aneh.


Boy sangat tampan, jauh lebih rapi dan tampan dari pada kemarin. Boy berdiri dan tersenyum, menambah kegantengannya dan entah kenapa, Icha melihat Boy sangat cool pagi ini.

__ADS_1


Beberapa detik, Icha dan Boy sama-sama mematung, hingga akhirnya Boy segera tersadar dan berkata, “Gimana? Masih ada lagi yang ketinggalan? Atau kita berangkat sekarang?" tanya Boy membuyarkan keterpanaan Icha.


“Hehehe, iya. Ayo,” sahut Icha terkekeh kecil.


“Yuk!" Boy mulai menaiki motornya, memasang helm dan menghidupkan mesin motor.


“Sepertinya aku salah pakai pakaian ya,” gumam Icha.


“Hehehe.” Boy terkekeh dan langsung melepaskan jacket levisnya. “Pakai ini untuk menutupi pahamu nanti saat sudah naik ke atas motor. Aku tidak akan nyebut kok,” ujar Boy.


Boy membantu Icha memasangkan helm motor di kepalanya, setelahnya Icha meraih jacket Levis itu dan mulai menaiki motor.


“Lain kali aku akan memakai celana jika pergi bersamamu,” ucap Icha.


‘Lain kali?’ Boy tersenyum, artinya masih banyak kesempatan dia.


“Pegangan ya,” pinta Boy.


Icha memegangi baju Boy sedikit karena masih merasa canggung. Di tengah jalan, Boy merasa Icha sangatlah kaku, hingga dia menawarkan, “Peluk saja pinggangku tidak apa-apa kok!”


“Ini nyaman kok,” jawab Icha, dia tidak mau memeluk pinggang laki-laki yang baru dia kenal.


Tak berapa lama, mereka akhirnya sampai di kampus tempat Icha kuliah.


Hampir semua orang yang melihat terpana, Icha biasanya selalu berangkat ke kampus diantarkan oleh sopirnya, kali ini dia berbonceng dengan pria yang tampak perkasa dengan motor besar berwarna merah. Apalagi sikap cowok itu terlihat sweet, dia membantu membukakan helm di kepala Icha, lalu Icha memberikan jacket padanya.


“Makasih Boy.”


“Iya, sama-sama,” jawab Boy sambil memasang jacket levisnya kembali, jacket yang tadi menutupi paha Icha.


“Aku pergi dulu, Cha. Nanti aku call ya!”


“Oke.”


Boy pun melajukan motornya dan berlalu pergi dari sana.

__ADS_1


__ADS_2