
Saat semuanya sudah siap dan menunggu-nunggu waktu balapan. Katia menemui Lopi.
“Lop, aku nggak mau kamu ikut balapan, kita akan menikah, tidak baik calon pengantin yang akan menikah mengikuti balapan seperti ini. Jangan balapan, ya!” pinta Katia.
“Sayang, ini balapanku yang paling terakhir. Setelah ini, aku tidak akan balapan lagi. Aku akan fokus bekerja, jagain kamu sama anak-anak, percayalah, ya,” balas Lopi memeluk dan mengecup pipi Katia lembut.
Sedangkan Boy dengan terkekeh menggoda Lopi, berkata kalau Lopi ‘cemen’ jika tidak mengikuti lomba karena takut dengan calon istri. Mendengar itu, Lopi semakin tertantang. Katia hanya bisa pasrah, saat Lopi bersikeras ingin bertanding.
Aldo dan kawan-kawan jahatnya yang lain merencanakan sesuatu yang buruk agar Boy dan Lopi tidak bisa ikutan bertanding, jika mereka berdua tidak ikut bertanding, pasti nama Hugo dan dirinya akan menjadi populer.
Mereka berkumpul, saling usul-mengusul rencana licik mereka. Akhirnya, ada satu usulan rencana yang menarik mereka sepakati.
“Hahaha! Bagus. Mari kita berpesta minum-minum dulu kalau begitu!” ajak Aldo pada kawan-kawannya.
__ADS_1
Mereka membeli tuak dan minum tuak itu bersama. “Bagaimana kalau kita masukkan obat diare pada mereka satu jam sebelum bertanding?” tanya salah satu diantara mereka setelah rencana tadi disusun.
“Itu juga bagus!” puji Aldo.
***
Akhirnya, tibalah di waktu pertandingan.
Aldo yang memang sudah merencanakan niat jelek, menyuruh orang suruhannya untuk melakukan tugas.
Pekerjaan itu pun berhasil, Boy langsung meneguk minuman itu dengan semangat, sedangkan Lopi tiba-tiba berdiri dan minumannya pun terjatuh karena kekasih hatinya Katia datang. Katia mengangetkan dirinya dari belakang.
“Ck, sial! Minumannya jatuh!” gumam Aldo. Dia segera berbisik pada kawannya untuk memberikan obat diare kembali untuk Lopi.
__ADS_1
“Gue mau lu memberikan obat diare kembali! Masih ada sisa waktu! Gue mau Bos Hugo dan kita yang menang. Bos Hugo lebih pantas menjadi ketua, dari pada dia dan gengnya,” ujar Aldo menatap benci Boy dan Lopi.
Aldo dari jauh memantau mereka berdua, benci karena minuman itu jatuh tetapi juga senang karena Boy telah meminum air itu. Setidaknya, musuh nomor satu mereka telah masuk perangkap.
Di sini, Boy lah yang paling mereka takuti dalam dunia balap. Kemampuan Boy tak tertandingi oleh mereka semua. Kalau Lopi, mereka bisa mengatasinya karena kemampuan Lopi hanya sebelas dua belas dengan dirinya.
Seperti yang direncanakan oleh Aldo dan teman-temannya, rencana mereka berhasil. Kini, Boy pun tidak bisa bertanding, dia harus bolak balik ke toilet karena obat diare itu.
“Akh, kenapa aku mules terus ya?” tanya Boy. “Sial! Apa ada yang memberikan obat dalam minumanku? Tidak mungkin aku mules begini dengan tiba-tiba,” gumam Boy berpikir. Dia terus memegangi perutnya.
Baru saja dia membuka pintu toilet, tiba-tiba dia terkentut-kentuk kembali. Lagi-lagi, dia berlari dan berbalik ke dalam toilet. Teman Aldo yang memantau dan berjaga melaporkan dengan tertawa pada Aldo. Jika Boy tengah menderita bolak balik ke dalam toilet.
“Hahhha! Bagus. Aku suka ini!” seru Aldo senang.
__ADS_1
Akhirnya, pertandingan pun berlangsung tanpa Boy.