
Boy merasakan patah hati terdalam. Wanita yang selama ini dia pikirkan, dia rindukan, berusaha dia temui demi sebuah kata maaf. Kini, tengah berduaan dengan mesranya bersama pria lain. Icha, gadis itu berlalu pergi tanpa sepatah katapun di hadapannya, tak ada penjelasan padanya.
Hatinya hancur. Boy galau karena sangat mencintai Icha. “Jika kau ingin berpisah, katakanlah padaku sejujurnya, aku tidak aoan memaksa, tapi jangan sakiti aku seperti ini, baiklah ... jika kau memamg bahgia bersama dia pilihan barumu, aku mengerti, aku ikhlas ....” lirih Boy berkaya sendiri.
Dia sudah memperjuangkan mati-matian, buka usaha, menemui kekasihnya itu, mencoba menjelaskan, tetapi Icha tetap pada pendiriananya, tak mau lagi bersama Boy. Oleh karena itu, Boy memaksakan dirinya untuk move on.
Melihat Boy yang galau, sang nenek pun selalu menemani dan menghibur cucunya. “Apa Icha masih marah, apa perlu Oma yang bicara padanya?” tanya Nenek Boy.
“Tidak perlu Nek, doa sudah punya pria lain," jawab Boy lesu.
“Oh, begitu,” ucap sang Nenek, dia menepuk pundak Boy. “Bunga tidak setangkai, bukankah kumbang Oma ini sangat tampan, dia lah raja kumbang? Tentu saja banyak bunga yang akan bersedia dengannya," goda Neneknya.
Boy masih berwajah lesu.
__ADS_1
“Rupanya, begini rasanya jatuh cinta,” kata Boy bergumam, namun jelas didengar oleh nenek.
“Ya, cinta itu buta, tuli dan keras. Supaya kamu bisa melawan kerasnya cinta, kamu harus segera mengalah, menjauhi cinta, mungkin dengan hiburan, membuka pintu hati untuk wanita lain, coba pedekate dengan beberapa wanita, hm .. atau mau Oma jodohin?" tanya Oma.
“Ah, aku enggak mau ah Oma. Aku pengen liburan tapi sibuk, biar aku fokus kerja aja, gak mikirin cewek, gak mikirin teman-teman.” Ya, jujur saja, Boy masih terluka, kehilangan Lopi sekaligus kekasihnya, membuat dia tidak lagi bermain motor.
“Oh, kalau begitu, bagaimana kalau kau ke Belanda? Ada teman papamu, dia mantan investor Papamu dulu, dia udah anggap kita keluarga. Belanda tempat yang indah untuk liburan dan kamu juga bisa bekerja di sana, bagaimana?" tanya Oma.
Sejenak, Boy berpikir, lalu mengangguk. “Baiklah Oma, aku akan coba ke Belanda,” sahut Boy kemudian.
“Oh, Boy, kau sudah besar, Nak, selamat datang, mari masuk!" sambut bapak paruh baya itu memeluk Boy dan berkata setelah melepaskan pelukannya. Dia bernama Pak Sensor Eldrick. Dia adalah investor Belanda dan juga mendirikan perusahaan indonesia di Belanda, bekerjasama dengan beberapa pengusaha Indonesia.
“Iya, Pak,” sahut Boy, dia juga disambut baik oleh istri Pak Sensor.
__ADS_1
“Kedua anak saya sedang tidak ada di rumah, jadi hanya kami berdua yang menyambutmu," ujar Pak Sensor.
“Tidak apa-apa, Pak," balas Boy.
Mereka berbincang-bincang cukup lama, hingga sampai pada usaha sementara untuk Boy.
“Bapak merasa kamu jago tentang motor dan mobil, bagaimana jika kamu mengelola sorum?” tanya Pak Sensor.
Awalnya Boy meragu, tetapi akhirnya dia memerima juga tawaran itu. Sebuah usaha sorum mobil, Pak Sensor memodalkan usaha itu untuk Boy.
Hari hari berlalu, bulan pun sudah berganti. Boy masih saja terpikirkan Icha, cintanya.
Dia melihat sebuah motor besar berwarna merah saat liburan bekerja dari sorum, dia menjadi teringat dengan temannya Lopi. Akhirnya, dia memilih membeli motor itu, membawa motor itu melaju pelan di tengah kota yang sangat bersih sampai di hamparan bunga tulip.
__ADS_1
“Lopi, semoga kau selalu bahagia di sana, aku merindukanmu ....” lirih Boy dalam hati.