Love Of Racer Badboy

Love Of Racer Badboy
Maria Menangis


__ADS_3

Setelah kejadian itu, Boy duduk disebuah Bar yang sering dia kunjungi. Kepalanya terasa berdenyut pusing, dia memang puas pria itu mati, tetapi tetap saja hatinya masih saja kesal. Dia memilih minum alkohol di bar itu, duduk di kursi yang menghadap pada bartender bar.


Tak lama, Lopi dan lainnya datang menyusul, mereka juga minum-minum, yang lain sudah memilih dugem duluan dengan musik yang mengh*entak-hen*tak, membuat kepala mereka mengangguk-angguk, di lantai dansa itu.


Lopi hanya menatap kepergian teman-temannya sekilas, lalu memutar kembali duduk nya, menghadap pada Boy. Wajah sahabatnya itu tampak muram dan kusam.


“Lo nggak apa-apa 'kan Boy? Lu kayak gak semangat gitu? Lalu baik-baik aja sama Icha 'kan?” tanya Lopi.


“Ya, gue baik-baik aja, hubungan gue sama Icha juga baik-baik aja,” jawab Boy. Dia menggoyangkan gelas yang berisi cairan kuning itu, ada bongkahan es dan potongan lemon di atasnya, atas permintaan Boy.


“Syukurlah, kalo lo baik-baik aja. Hm, gue denger, lo diserang ya kemarin, pas pulang? Yang nyerang lo, bawahan bokap lo?” Lopi berbisik.


“Ya,” jawab Boy singkat.


Lopi membesarkan matanya. “Terus?”


“Gue baik-baik aja. Nih, gue duduk sama lo, dan tentu aja gue ngalahin mereka, salah satunya memang bawahan bokap gue dulunya, dia terpaksa ngelakuin semua ini, karena anak dan istrinya di ancam,” jelas Boy.


“Siapa?” Lopi menatap Boy.


“Anto, salah satu pengawal kepercayaan Bokap gue!” Boy berdecap setelah meneguk minumannya.

__ADS_1


“Sialan emang, terus lu mau apain dia?” tanya Lopi.


“Gue kasihan sama dia, anak dan istrinya menjadi ancaman, dan kehidupan mereka pun juga susah. Gue bakalan bebasin dia, dengan kasih dia ancaman, tentu saja dia tidak akan bekerja di tempatku lagi,” tutur Boy.


“Gak nyangka gue, besar juga hati lo!” puji Lopi.


“Bukan masalah hati gue yang besar! Masalahnya, gue cuma benci sama orang yang menyuruhnya, bukan dia!” ucap Boy.


“Yang nyuruh dia? Siapa?” Lopi pun bertanya karena penasaran.


“Mm, saingan bisnis Papa gue,” jawab Boy berbohong. Memang benar, jika Rasyidin adalah pebisnis, dan saingan bisnis Papanya, tetapi yang penyebab besar kebencian Boy adalah menjadi selingkuhan Mamanya.


“Cih, dasar licik!" Lopi berdecih. “Menghalalkan segala cara demi bisnis, dasar iblis!” gerutu Lopi. “lalu, bagaimana selanjutnya, apa yang harus kita lakukan pada baji*ngan jahat itu?" tanya Lopi emosi.


“Loh? Kenapa?” Lopi tak habis pikir, biasanya Boy akan membalaskan dan menghajar orang itu.


“Karena dia sudah mati!” sahut Boy lagi.


“Mati?” tanya Lopi tak percaya, Boy mengangguk, sambil menyesap minumannya seteguk.


“Kok bisa? Kamu membunuhnya seorang diri?” Lopi mendekatkan bibirnya, berbisik, takut hal yang berbahaya seperti ini di dengar orang lain.

__ADS_1


“Bukan, dia mati sendiri, saat gue ngejar dia, dia ketabrak truk! Lu baca aja beritanya. Rasyidin seorang investor kaya raya tertabrak truk akibat mabuk,” balas Boy terkekeh.


“Mabuk?”


“Yupz, dia usai minum-minum di markasnya saat aku menyerang, lalu pakaiannya berantakan penuh sampah saat ketabrak!” Boy menyunggingkan senyuman devil.


“Hohoho!” Lopi pun juga tertawa jahat. “Kalau begitu, aku akan melihat berita di internet dulu!”


Lopi pun segera meraih ponselnya, demi membaca artikel di internet, tentang kematian orang yang dibicarakan oleh Boy.


Kejadian itu pun tersebar, semua media menayangkan kematian dari selingkuhan Mama Boy, karena dia adalah seorang investor dan punya beberapa perusahaan besar dan juga memiliki seorang istri kaya raya. Lopi membaca beberapa artikel.


“Hahaha! Parah sih! Sudah sekaya ini, masih saja licik!” protes Lopi. Ya, Voy tidak menceritakan perilhal pria itu adalah selingkuhan mamanya.


“Iya, akhirnya menemui ajal sendiri!” Boy meneguk minumannya sampai tandas.


***


Mama Boy alias Maria, menangis meratapi meratapi kematian Rasyidin, dia jauh lebih sedih kehilangan selingkuhannya dari pada suaminya sendiri yang baru meninggal beberapa waktu lalu.


Akan tetapi, bagaimana pun, ia tidak bisa secara langsung pergi ke sana untuk melihat proses pemakaman selingkuhan nya. Bisa-bisa, media akan men-zoom dia, karna dia akan menangis kencang, yang mana itu hanya akan mengundang wartawan untuk kepo dan menyelidiki dia. Soalnya, sangat mustahil istri dari seorang musuh pebisnis menangis begitu, kecuali suaminya akrab dengan Rasyidin.

__ADS_1


Maria pun hanya bisa menangis dalam diam, menonton acara yang ditayangkan di televisi dan tersebar di internet.


__ADS_2