Love Of Racer Badboy

Love Of Racer Badboy
Nonton Bioskop


__ADS_3

Semakin hari, Icha semakin berdebar jika bertemu dan mengobrol dengan Boy. Ada rasa aneh yang belum pernah ia rasakan selama ini.


Di kampus, dia memang sering di puja, dikejar-kejar cinta oleh banyak lelaki, mulai dari yang tampan, berbadan atletis, macho, kurus, pintar, menengah, kaya, hingga badboy kampus. Sayangnya, selama ini dia tidak ada rasa dan hanya menganggap mereka sebagai teman biasa, teman kampus, dan kakak senior.


Seberapapun ganteng, kaya, dan pintarnya orang itu, Icha tidak pernah memiliki getaran rasa pada mereka selama ini. Akan tetapi, jika saat bersama Boy, dia merasa ada yang berbeda, dia jadi tersenyum-senyum sendiri di kala mengingat Boy.


Dia tidak menyangka sama sekali, jika Boy bisa masuk dan mengisi relung hatinya yang terdalam.


Kini, di dalam kamarnya, dengan posisi tertelentang menatap langit-langit kamar, ia tengah membayangkan Boy, bercengkrama dengan Boy, senyuman pria itu yang memabukkan, membuat dia berbunga-bunga.


Drrt! Drrrt! Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi dan yang menelepon nya adalah Boy. Dia tersentak di kala melihat nama yang tertera di ponselnya. Boy! Memang panjang umur!


“Hm!" Dia berdehem merapikan duduk dan suaranya, sebelum mengangkat telepon. “Hallo,” sahutnya dengan suara yang lembut.


‘Hallo, Cha. Udah tidur? Apa aku ganggu kamu nggak?’ tanya Boy di sebrang teleponnya.


“Enggak kok, kalau aku sudah tidur, pasti aku nggak angkat dan nggak jawab sekarang telepon kamu tahu, heheheh.” jawab Icha terkekeh kecil dan Boy juga terkekeh kecil di sana.


“Kamu enggak ganggu aku juga,” lanjut Icha lagi.


‘Oh, sekarang kamu lagi apa?’ tanya Boy.


“Nggak ada, lagi tiduran aja kok. Kalau kamu?” tanya Icha balik.


‘Sama, lagi tiduran juga sambil dengerin suara kamu,’ jawab Boy dengan tersenyum, Icha di sebrang sana tersenyum malu-malu dengan wajah bersemu merah.


‘Oh iya, Cha, minggu besok kamu ada jadwal atau acara nggak?’ tanya Boy.


“Mmm, kenapa?” Katia sejenak berpikir sambil melempar tanya kembali kepada Boy. Sebenarnya, hari minggu besok dia ada les musik dan dance, tetapi karena dia tertarik pada Boy, dia ingin mendengar alasan Boy dulu, sebelum dia menjadi ke ge-er-an.


‘Aku mau ajak kamu jalan-jalan, kalau kamu bersedia Cha. Apa kamu mau jalan-jalan bareng aku?’


Mendengar ajakan Boy, Icha tak lagi ragu, dia menjadi senang, dengan tersenyum, dia menjawab, “Baiklah Boy, minggu besok kita jalan-jalan.”


Panggilan telepon pun berakhir setelah mereka berbincang cukup lama.


“Yes!” Icha berseru riang, dia meloncat-loncat di ranjangnya, lalu menghambur di atas ranjang dengan senyuman sempurna.

__ADS_1


Dia tarik selimut masih dengan tersenyum hingga tertidur lelap.


Hari minggunya, mereka pun pergi jalan-jalan. Boy memakai jacket hoodie berwarna hitam dengan celana Levi's panjang, sepatu putih bertali model terkini. Sedangkan Icha memakai baju kemeja berwarna putih dengan lengan panjang, namun badannya sependek pusar, celana levis panjang dengan sepatu pansus putih, rambut panjangnya di gerai lurus ke belakang, hanya ada pita kecil di sebelah kanan untuk menjadi aksesoris rambutnya nan indah.


Mereka berdua masih tahap pedekate dan malu-malu. Icha berbonceng di atas motor besar milik boy yang berwana hijau. Boy memilih melajukan motornya nya ke taman bermain, dekat taman bunga yang tak jauh dari Greenfield Mall.


Boy memarkirkan motornya di parkiran, berjalan santai berdua dengan Icha, sambil mengobrol. Setelah cukup lama berjalan-jalan, mereka berhenti di sebuah cafe di pinggir taman bunga itu. Mereka memesan makanan dan minuman.


“Gimana, suka nggak sama makanan dan minumannya?” tanya Boy setelah mereka selesai mencicipi makanan dan minuman itu.


“Suka, pas semua,” puji Icha.


“Setelah ini, kita ke Green field Mall, ya?” ajak Boy.


“Ok!” Icha menurut saja.


Boy dan Icha keluar dari taman bunga menuju Green Field Mall. Sesampai di sana, mereka langsung menaiki lift paling atas.


“Gimana, kalau kita lihat jadwal film di bioskop dulu, kali aja ada film yang bagus,” ajak Boy.


Boy dan Icha memesan tiket bioskop untuk film Disney yang akan di putar dua jam lagi dan filmnya akan habis pada jam 9 malam. Sebelum mereka menonton, Boy dan Icha berjalan ke arah tempat permainan.


Timezone! Bola Basket dan game lainnya yang ada di dalam sana. Boy dan Icha tertawa senang. Mereka menghabiskan waktu dua jam itu hanya di tempat permainan. Lalu, mereka kembali ke tempat membeli tiket nonton tadi.


“Kamu mau rasa apa, Cha?” tanya Boy pada Icha.


“Aku suka asin, sama sprit aja ya!” pinta Icha.


“Mbak, popcorn asin satu, manis satu, minumannya cola satu, sprit satu, sama mineral satu, ya,” pinta Boy pada Icha.


“Nggak ada yang lain lagi, mau kentang goreng nggak?” Icha tampak berpikir.


“Tambah kentang goreng dua ya, Mbak!” pinta Boy kembali sebelum Icha menjawab pertanyaannya.


Mereka berdua masuk ke dalam bioskop room 4, setelah mendengar pengumuman dari petugas bioskop yang cantik dan rapi itu.


Icha duduk di samping Boy. Minuman mereka letakkan di samping kursi mereka, cemilan popcorn dan kentang goreng juga memenuhi kedua tangan mereka.

__ADS_1


***


Usai menonton bioskop, hari sudah jam 9 malam, mereka harus segera pulang. Sayangnya, hari malah hujan di tengah jalan.


“Aduh, gimana nih, Cha? Hujan?” tanya Boy bimbang.


“Kita tancap aja Boy, nanti kalau aku pulang telat, orang-orang bisa khawatir, malah nanti aku nggak di izinkan main keluar lagi.”


“Tapi, hujan. Aku takut nanti kamu flu dan kebasahan,” tolak Boy.


“Nggak apa-apa Boy. Ayo, kita tancap aja sih!”


“Ya udah, tapi kamu pakai jaket aku ya!" Boy menghentikan motornya dan melepaskan jacket hoodie hitamnya, menampakkan baju kaos hitam yang melekat pas di badannya.


Icha memakai jacket hoodie itu. Lalu, Boy menghidupkan mesin motornya kembali. “Kita agak ngebut ya, Cha, biar kita nggak terlalu basah!”


“Iya, gak apa-apa Boy. Yang penting hati-hati, kita selamat.”


“Iya.”


Karena Boy yang mengendarai motornya dengan ngebut, membuat Icha menjadi khawatir, dia memeluk pinggang Boy erat sampai tubuhnya menempel tiada jarak dengan punggung Boy.


Boy yang di peluk begitu erat, menyeringai di dalam hatinya.


Tak lama, mereka pun sampai di kediaman Icha. Gadis itu turun dari motor Boy hati-hati, celananya sudah basah, tetapi tubuhnya tidak, hanya lengannya saja yang sedikit basah. Sedangkan boy, tentu saja basah kuyup.


“Mampir dulu?" tawar Icha.


“Enggak. Aku langsung pulang aja ya, dah basah banget nih!” ujar Boy.


“Iya, makasih ya, traktiran dan jalan-jalannya, mm-- jacketnya nanti aku kembalikan setelah di cuci.”


“Ok, aku balik dulu, ya?” pamit Boy.


“Iya, hati-hati,” sahut Icha.


Boy pun segera berlalu pergi dari sana.

__ADS_1


__ADS_2