Love Of Racer Badboy

Love Of Racer Badboy
Bertamu ke Rumah Oma


__ADS_3

Sejak wisuda, hubungan Icha dan Boy kembali membaik, keluarga Boy sangat ramah dan baik pada Icha, mereka tampak setuju. Icha pun merasa berharga saat mereka berbincang-bincang dalam acara itu. Bukan hanya keluarga Boy, keluarga Lopi juga sangat hangat, di dalam hati kecil Icha dan Katia, mereka sempat iri. Terutama kepada Bunda Lopi dam Papanya.


Icha tidak lagi meyakini perkataan Mamanya, yang mengatakan kalau anak jalanan itu anak yang rusak, anak broken home yang hancur, nyatanya, Lopi, Boy, dan keluarga mereka sangat lah hangat.


Boy yang sudah lulus kuliah diminta sang oma untuk belajar bisnis pada patner almarhum ayahnya, karena selama ini, Boy memang tidak pernah memperhatikan apalagi peduli pada bisnis itu. Akan tetapi, sekarang beda halnya, dia ingin menunjukkan pada Mama Icha, ingin membuktikan, kalau dia juga bisa sukses, agar Mama Icha tidak meremehkan dia lagi.


Icha memang tidak pernah memberitahu tentang larangan Mamanya secara detail, tetapi Boy pernah mendengar saat Icha dimarahi, dia tanpa sengaja menguping makian Mama Icha, menghina dan merendahkan dirinya, dia tidak pantas dan tidak selevel dengan Icha, putrinya. Awal mendengar, Boy sangat tersinggung, marah dan kecewa, tetapi akhirnya dia menguatkan diri, menjadikan perkataan itu untuk melecut diri agar menjadi pria sukses yang pantas bersanding dengan Icha.


Boy mulai sibuk, dia bahkan jarang berkumpul di arena balap, hanya Lopi yang sering menggantikan perkumpulan mereka sebagai perwakilan Boy.


Sore ini, sepulang dari kantor rekan bisnis almarhum papanya, dia langsung memilih membersihkan diri dan terkapar di atas ranjangnya. Kelelahan membuatnya langsung tertidur begitu pulas.


Semenjak papanya meninggal, Boy lebih memilih tinggal sendiri di rumah barunya, dia tidak ingin serumah dengan mamanya lagi. Rumah itu adalah hadiah ulangtahun dari Oma. Entah kenapa, sore ini tiba-tiba Oma rindu dan ingin bertemu dengan cucu kesayangannya itu. Dia mengunjungi Boy.


Beberapakali Oma menekan Bel, dia menelfon Boy, masuk tetapi tidak diangkat.


“Apakah dia masih bekerja dengan Abidin?” gumam Oma. Nenek tua itu akhirnya memilih duduk di teras. Sopir bahkan sudah dia suruh pulang.


“Apakah aku telfon sopir balik aja, ya? Atau menunggu Boy dulu?” pikir Oma.


Oma terus menelfon Boy berkali-kali, hingga di panggilan ke 25, barulah dia terbangun, padahal suara deringnya begitu nyaring, tetapi dia malah tidak terbangun.


“Hah? Oma?” Boy terkejut bukan main, saat mengambil hp nya, ada 25 panggilan tak terjawab, dan yang terakhir tadi tidak sempat dia jawab, namun dia bisa mendengar panggilan itu.


Boy menelfon Oma balik. “Halo Oma, ada Apa?” tanya Boy dengan suara serai khas bangun tidur.


‘Kamu di mana, Cu?” tanya Oma.


“Di rumah Oma, baru bangun tidur,” jawab Boy.


“Syukurlah kalau di rumah. Oma ada di teras rumahmu sejak tadi.”


“Baik Oma, sebentar!” Boy bergegas bangun, mencuci muka dan memakai baju, laku buru-buru keluar dan membuka pintu.


“Oma, kok datang-datang nggak ngabarin dulu, aku bisa jemput Oma loh,” tutur Boy.


“Tidak apa-apa, Oma hanya rindu sama kamu aja! Kamu sudah makan? Oma bawa sup jamur tiram dengan ikan sungai, kesukaan kamu!” Oma berkata dengan antusias.

__ADS_1


“Kebetulan sekali, aku belum makan Oma.” Boy tersenyum senang.


Oma pun menghidangkan makanan yang dia bawa untuk Boy.


Setelah makan, Oma dan Boy berbincang-bincang di ruangan santai, menatap televisi yang hidup, acara balapan MotoGP.


“Sayang, siapa nama pacarmu, Oma lupa. Apakah namanya Chacha atau Shalsa?”


“Icha, Oma,” balas Boy.


“Oh, iya, Icha. Sicantik itu nggak main ke mari?” tanya Oma.


“Icha? Belum pernah aku ajak kemari Oma,” jawab Boy dan mendapatkan tatapan mengernyit dari sang Oma.


“Loh, kenapa?” tanya Oma. Boy hanya tersenyum membalas pertanyaan Oma, sembari berpikir.


“Kalau begitu, jamu ajak ke rumah Oma aja,” ucap Oma.


Boy mengangguk. “Baiklah Oma, aku akan mengajak Icha hari minggu ke rumah Oma, dia libur,” janji Boy.


***


Boy menjemput Icha, tetapi jemputnya di jalan, begitulah pesan Icha. Mau tidak mau, akhirnya, Boy menjemput Icha jauh dari rumahnya, seperti mencuri anak gadis orang.


Oma adalah ibu dari ayah Boy, dia sangat dekat dengan Boy. Rumah Oma sangat megah dan indah. Mereka berdua masuk dan disambut oleh pelukan hangat Oma.


“Wah, kalian sudah datang. Oma senang sekali. Lihatlah, betapa cantiknya calon cucu menantu Oma,” tutur Oma tersenyum, yang dibalas dengan senyuman pula oleh Icha.


Oma berbincang-bincang dengan Icha, sedangkan Boy mulai sibuk dengan asiten pribadi sang Oma, belajar tentang bisnis dan mendalami usaha mendiang ayahnya.


“Kalian sudah lama pacaran?” tanya Oma.


“Baru beberapa bulan Oma,” jawab Icha lembut.


“Oh, jika Boy nakal dan bandel, tegur dan ingetin aja, ya. Kadang dia begitu, soalnya dia jarang diperhatikan. Mamanya sibuk, Papanya juga, Oma pun juga sibuk.” Oma berkata.


Icha hanya membalasnya dengan mengangguk.

__ADS_1


“Oh, ya, Icha suka makan apa? Kita pesan online atau minta ART untuk membuatkannya dulu?” tanya Oma, soalnya hanya dihidangkan teh hangat saja.


“Mm, sebenarnya aku tidak terlalu tahu tentang makanan favorit ku Oma, apa aku bisa memasak sendiri?” tanya Icha.


“Kamu bisa memasak?” Bukannya menjawab, Oma malah bertanya balik. Icha menjawabnya dengan mengangguk.


“Kalau begitu, ayo, kita ke dapur,” ajak Oma.


Icha pun akhirnya ke dapur bersama Oma. Mereka memasak gulai ayam, salmon bakar, desert dan lainnya, serta minuman berupa just mangga, yang juga dapat bantu oleh ART.


“Akhirnya selesai!” seru Oma senang. Icha tampak menyusun makanan di meja makan dengan cantik, semua makanan yang terhidang tampak begitu lezat.


“Oma panggil Boy dan Edo dulu, ya!" ucap Oma pada Icha.


“Boy, Edo, nanti lanjutkan lagi, mari makan dulu! Kalian harus mencoba dan mencicipi makanan calon cucu menantu Oma!” ujar Oma antusias.


“Baik, Oma.” Boy dan Edo pun berjalan beriringan dengan Oma ke arah meja makan.


Icha menyambut dengan senyuman merekah. Begitu pula dengan Boy yang merasa bangga kekasihnya bisa memasak.


Mereka pun mulai mencicipi masakan Icha. “Gimana rasanya?”


“Enak!”


“Benarkah?” tanya Icha cemas.


“Iya, ini beneran enak banget!” tegas Boy. Icha pun tersenyum senang.


Mereka semua pun akhirnya makan dengan lahap.


Oma sangat bahagia, sudah lama tak merasakan seperti ini, apalagi anak semata wayang nya susah pergi, dan Boy lah yang sering mengunjunginya. Mama Boy jarang mengunjungi beliau.


“Nanti, sering-sering main ke sini ya, Cu. Oma kesepian karena sudah tua. Boy akhir-akhir ini pasti jiga akan sangat sibuk,” tutur Oma.


“Icha usahakan Oma, jika nanti pulang kampus, Icha akan mampir kemari,” jawab Icha. Oma pun tersenyum mendengar.


“Oh ya, kalian berdua, kapan nikah?" tanya Oma.

__ADS_1


Uhuk! Uhuk! Boy dan Icha sama-sama terbatuk mendengar pertanyaan Oma.


__ADS_2