Love Of Racer Badboy

Love Of Racer Badboy
Boy Diserang


__ADS_3

Pria paruh baya yang memiliki jambang lebat dengan kumis yang di potong rapi tengah duduk santai di rumahnya yang bernuansa marmer gelap.


Pria ini adalah lelaki yang tersenyum licik di sebalik pohon di dekat pemakaman ayah Boy. Dia tertawa senang akan kematian pria malang itu.


“Ahahaha! Akhirnya kau mati juga Gunawan!” Dia tertawa lepas. “Saatnya merayakan keberhasilanku, ahahha!” Dia mengambil wine yang berada di dalam lemari kacanya, kemari yang khusus menyimpan beberapa jenis minuman beralkohol.


Pria paruh baya ini bernama Rasyidin. Sering dipanggil Pak Rasyid.


“Eum, panggil yang lain, mari kita rayakan keberhasilan ini dengan bersenang-senang!" perintahnya pada bawahannya yang setia.


“Baik, Pak.”


Beberapa orang pun masuk, mereka berpesta alkohol, bahkan mereka menghidupkan musik disko yang membuat gelora dan emosi menyatu, sehingga mereka berjoget-joget dengan riang, tangan diatas dengan cigaretek di jari tangan terselip, kadang tangan itu diputar-putar ke atas dengan asap yang mengepul di udara.


“Ahahha! Rencana pertama telah berhasil, penghalang hubunganku dengan kamu Maria, sudah lenyap. Sekarang Gunawan telah dikerubungi para cacing, tinggal anakmu yang songong itu, dia akan segera menyusul ayahnya yang bodoh!” Rasyid tertawa sambil meminum alkohol dengan botolnya, tanpa menuang ke dalam gelas.


Maria, adalah nama Ibu Boy. Sedangkan Rasyidin adalah selingkuhan Mama Boy.


“Aku berjanji, aku akan menghancurkan kehidupan bedebah kecil sialan itu!” Dia masih ingat saat Boy memergoki dia dan Maria. “Aku pastikan, kau akan menderita bocah sialan!”


Rasyidin tengah menyusun rencana untuk menghancurkan Boy.


Di sela-sela minum alkohol, dia meminta anak buahnya untuk mencari informasi Boy lebih detail, dimana dia kuliah, biasanya nongkrong dan teman-teman terdekatnya.

__ADS_1


Keesokan harinya. Anak buah Rasyidin mendapatkan informasi tentang Boy, dimana kampusnya, dia memiliki teman dekat Lopi, dan juga terlihat dekat dengan dua orang wanita. Mereka juga tahu tempat berkumpulnya gangs motor Boy.


“Hahhaahaha! Bagus, kerja kalian memang bagus! Aku suka!” pujinya.


“Selidiki tempat ini, apakah bisa kita menyerang? Cari tempat yang aman, dan selidiki dua wanita itu. Apakah salah satu diantara mereka berdua adalah kelemahan dia!” ucap Rasyidin.


“Baik, Pak. Akan kami laksanakan!” jawabnya.


Rasyid tersenyum senang, sedikit demi sedikit, langkah dan tujuannya begitu mudah, ini semua hampir selesai. Dia yakin, akan sangat mudah melenyapkan Boy.


Akhirnya, dia mengetahui aktivitas terakhir Boy. Hari ini, keberadaan Boy sedang ada di kampus, lalu janjian bersama kelompok gangs motornya di tempat biasa. Disitulah Rasyid dan anak buahnya menyusun rencana.


“Bagus! Intai dia! Temukan cara untuk mengeroyoknya! Pastikan dia menyusul ayahnya. Hahahha!” Rasyid tertawa lantang.


***


“Apa?” Lopi tersentak kaget demi mendengar penuturan Boy. Mama Icha marah dan tidak setuju akan hubungan mereka.


“Kenapa lo nggak cerita?” Lopi menatap tajam Boy.


“Buat apa? Gue juga baru tahu! Icha selama ini nggak mau bicara jujur, gue juga tahu denger diam-diam, mending lu tanya sendiri sama Katia, pacar lo. Sore ini lu 'kan janjian sama Katia,” balas Boy.


“Oke. Gue bakalan nanya sama Katia. Gue berharap, lo ama Icha segera direstui.” Lopi menepuk pundak Boy.

__ADS_1


“Yap!” Boy tersenyum sambil mengangguk.


Setelah berkumpul dan latihan balapan bersama gangs nya sampai jam delapan malam, mereka kembali pada aktivitasnya masing-masing, ada yang pulang, latihan, bersenang-senang, dan pacaran. Begitu pula dengan Boy, dia memilih pulang sendirian ke rumahnya, sedangkan Lopi pas di persimpangan jalan tadi berbelok ke arah kanan menuju rumah Katia.


Jalan sedikit lengang, Boy merasa diikuti, apalagi saat memasuki daerah sepi. Hari ini, Boy merasa hampa, makanya dia memutuskan untuk pulang saja.


Boy yang diintai pun waspada. Hingga di jalan yang benar-benar sepi, anak buah Rasyidin menghentikan motornya. Boy tidak takut, walaupun dia cukup hati-hati dan waspada.


Dia menyunggingkan senyuman saat melihat siapa yang menghadangnya. Beberapa pria bertopeng dengan senjata tajam berupa pisau.


Boy memiliki cukup banyak musuh sejak bergabung dengan anak jalanan, kekuatan fisiknya jangan ditanya, keahliannya bertarung jangan diragukan lagi.


Mereka berjumlah enam orang, langsung menyerang ke arah titik vital Boy dengan pisau, tentu saja Boy mengelak.


Hiyaaa! Satu tangkisan dan tendangan mendarat di tubuh musuh Boy.


Brug! Dua pukulan tepat diperut mereka, ditambah dengan tendangan memutar di kepala.


Mereka berkelahi, mengeroyok Boy. Sayangnya, perkelahian itu dimenangkan Boy, bukan mereka yang memiliki jumlah yang banyak. Mereka berlari terbirit-birit karena kalah dipukul oleh Boy. Akan tetapi, satu orang diantara enam itu, ditarik Boy dan dibuka topengnya.


“Kamu!” sentak Boy.


Pria bertopeng itu dia kenali, dia adalah salah satu anak buah Papanya.

__ADS_1


__ADS_2