
Katia tipe gadis yang sedikit bebas dan pemberani, berbeda dengan temannya Icha. Pergi ke Club sebenarnya sudah kebiasaannya, dia cukup mahir meminum alkohol, tetapi dia tidak sebebas yang lainnya sampai melakukan hal-hal lebih. Dia hanya penasaran, bagaimana bermain di club dan mencicipi rasa alkohol.
Apalagi, kalau Katia sedang galau dan setres. Dia akan minum alkohol banyak, bergoyang-goyang di dance floor sampai lelah. Selama ini, cukup aman permainannya. Akan tetapi, tadi cukup bahaya, untung saja ada Lopi yang menolongnya.
“Syukurlah, sepertinya nasib mujur berpihak padaku! Ahahaha!” Katia tertawa senang.
Orang tua Katia sudah bercerai, mereka jarang bersua dengan Katia sejak itu. Dia kesepian dan merasa kurang kasih sayang, dia ingin diperhatikan dan dimanja seperti dulu. Dia ingin di cintai, bukan hanya di berikan uang, uang, dan uang, sebagai bukti sayang. Itulah alasan utama Katia ingin bersenang-senang dan bebas, bermula dari penasaran, hingga menjadi kesenangan, tetapi tetap tidak dibiarkan, hingga menjadi kebiasaan.
Katia akhirnya memilih mandi dengan air hangat sebelum tidur. Dia tersenyum, disebalik masalah, akhirnya dia bisa berkenalan dan mendapatkan nomor Lopi.
***
Sementara di club Cherry Liquid, gerombolan Boy sudah banyak yang mabuk dan teler. Badan mereka semakin panas, sebagian ada yang sudah saling tarik menarik ke sudut club, bahkan ada yang bermain-main di dalam toilet, berpasang-pasangan anak manusia bercumbu mesra di kegelapan dan cahaya remang-remang dance floor.
Begitu pula dengan Lola. Gadis yang waktu itu dengan bangga naik di atas motor Boy. Dia setengah teler, setelah meminum beberapa gelas alkohol. Dia berjalan dengan goyah ke arah Boy. Dadanya yang besar dengan tampilan baju yang rendah, menyembulkan lebih separuh daging dadanya keluar.
Dia menghenyak duduk di samping Boy yang masih menikmati minumannya. “Boy,” suaranya mendayu-dayu. Dia tempelkan dadanya yang besar itu di lengan boy, bahkan di gesek-gesekkan. Benar-benar memancing!
Bukan hanya itu, tangan Lola semakin nakal, menggerayangi pangkal paha Boy, bermain-main di sana. Bagaimana pun juga, Boy pemuda normal yang memiliki kemampuan dan keinginan kuat. Dia menatap Lola dengan tatapannya yang berbeda.
Dia tak bersuara, hanya diam menikmati tangan nakal Lola.
“Aku ingin!” Lola mendekatkan wajahnya pada wajah Boy, dan langsung mencium bibir pemuda tampan itu.
“Baiklah!” Boy berdiri dan menepuk pinggul Lola lembut setelah melepaskan ciuman panas mereka. “Ayo!” ajaknya.
Mereka berdua pun pergi ke motel. Tempat yang aman dari razia atau pun tanda bukti hubungan sah. Bisa di bilang, penginapan ini bebas untuk orang berbuat yang tidak-tidak dengan menyenangkan.
Boy dan Lola masuk ke dalam kamar. Baru saja sampai di dalam kamar. Boy sudah menangkap tubuh Lola yang bahenol, mempertemukan bibir mereka dengan lihai. Tangan mereka berdua sama-sama aktiv dan nakal, saling meraba dan mengelus untuk pemanasan.
Hingga, kedua insan manusia itu tak lagi berpakaian, polos. Boy dan Lola, dua insan yang sudah saling berpengalaman, memulai permainan panas mereka di dalam motel dengan nikmat.
***
__ADS_1
Pagi hari.
Boy terbangun lebih dulu dari Lola. Dia segera membersihkan diri dan pergi meninggalkan Lola sendirian di dalam kamar dengan keadaan yang masih polos tertidur pulas.
Boy, pria sejuta pesona itu memang seperti ini, dia tidak peduli dengan pasangan tidurnya, karena baginya, setelah sama-sama puas, semuanya selesai.
Setelah keluar dari kamar motel, Boy mengendarai motornya dengan santai, hingga ia melihat toko gitar. Dia pun berhenti dan melihat-lihat gitar, berharap ada gitar yang menarik baginya.
Boy suka bermain gitar, walaupun belum terlalu lancar. Dia terinspirasi dari idola nya metalica band, yang sangat ciamik bermain gitar.
Dia pun membeli gitar untuk pemula dulu, dengan neck shape nya yang paling umum, adalah c-shaped dan ukuran fret medium. Setelah mendapatkan nya ia keluar dari toko sambil menyandang gitar di punggungnya.
Sementara di kamar motel, Lola baru saja bangun, dia meraba-raba sisi ranjang, berharap ingin memeluk dan mengajak Boy bermain sekali lagi di pagi hari, dia benar-benar candu bermain dengan Boy yang tampan dan perkasa.
“Kosong,” gumamnya serak. Kemudian, dia membuka mata, tak ada apa-apa lagi. “Sial, dia lagi-lagi meninggalkanku!” kesalnya pada Boy.
Dia segera bangkit dan membersihkan diri, setelah mandi, dia bingung sendiri karena pakaiannya sedikit rusak. “Ah! Dia selalu merusak pakaianku seperti ini dan entah kenapa aku suka permainan nya yang sedikit kasar!” gerutu Lola.
Tak lama, taksi online pun sedikit lagi sampai, dia bergegas out dari kamar. Saat dia sampai di depan motel, taksi online pun juga sudah berhenti. Dia langsung masuk ke dalam taksi untuk pulang.
Kembali lagi pada Boy.
Setelah membeli gitar, Boy berniat pergi dari toko. Namun, saat dia hendak menghidupkan mesin motor, dia melihat gadis yang waktu itu dia lihat di lampu merah sedang menyeruput minuman di kafe yang tak jauh dari dia berada.
“Wow, Gue akhirnya menemukanmu, Gadis. Menarik!” Boy tersenyum.
Kafe tempat gadis itu minum berdinding kaca transparan, hingga terlihat jelas dia sedang minum dan dia juga bisa memandang keluar. Setelah menyeruput minumannya, gadis itu kembali berkutat dengan laptop yang berada di depannya. Gadis itu tengah mengerjakan soal kuliahnya. Boy sampai terpana memandangnya.
“Dia benar-benar cantik dan menarik.” Lagi-lagi, Boy bergumam mengagumi gadis itu.
Tak lama, gadis itu tampak berkemas, memasukkan laptopnya ke dalam tas sandang, dan memegang sebuah buku besar. Lalu, membayar ke kasir.
Gadis itu pun keluar dari kafe. Baru saja dia keluar, seorang pria berbaju merah menarik tasnya yang berisi laptop, kemudian berlari kencang. Gadis itu di detik pertama sangat terkejut dan malah diam. Beberapa detik kemudian barulah dia berteriak.
__ADS_1
“Maling! Tolong! Ada maling menjambret laptop ku!” teriaknya.
Orang-orang mulai menoleh dan berusaha menolong, mengejar dengan berlari. Tentu saja, Boy yang sejak tadi memperhatikan gadis itu, lebih cepat dan cekatan menolongnya. Boy mengejar dan menabrak maling itu dengan motor besarnya yang berwarna hijau.
Langsung mematikan mesin dan turun dari motor dan, bruk! Bugh! Dia menendang si maling beberapakali baru menarik paksa tas.
“Pergilah, jika kau tidak ingin mati di gebuk masa!” ancam Boy setelah menghajar si maling babak belur. Si maling berlari tertatih-tatih menyelamatkan diri.
Boy tidak peduli, apakah si maling selamat atau tidak. Yang jelas, dia sudah mendapatkan tas gadis itu. Setelahnya, Boy segera menuju ke arah gadis itu.
“Ini tas Anda, Nona!” ucap Boy memberikan tasnya.
“Te-terimakasih banyak, ya.” Gadis itu tampak berwajah lega dan memeluk laptopnya. Di sini, yang ia cemaskan bukanlah laptop, tetapi tugas yang tengah susah payah ia kerjakan sampai begadang, dan sedikit lagi selesai.
Dia merasa sangat lega sekali.
“Ke depannya, hati-hati ya Nona. Oh ya, nama saya Boy, nama Nona siapa?” tanya Boy sambil mengulurkan tangan.
Gadis itu sejenak diam, dia biasanya tertutup dan tidak ingin berkenalan dengan pria. Namun, kali ini pria di depannya telah membantu. Dia pun akhirnya menjabat tangan Boy.
“Nama saya Icha, senang berkenalan denganmu Boy.”
Boy tersenyum. “Senang juga berkenalan denganmu, Icha. Oh ya, kamu mau kemana? Biar aku antar saja, lebih aman, di sekitar sini masih banyak pencuri dan preman sih, mau nggak?” Boy menawarkan diri.
“Mm, tidak usah Boy. Terimakasih,” tolak Icha. Dia tidak suka pergi bersama orang asing, walaupun barusan mereka sudah berkenalan. “Aku sama sopir kok, dia menunggu di parkiran,” lanjut Icha lagi.
Boy yang keras kepala tetap ingin mengantar Icha, sekalian modus ingin tahu dimana rumah Icha.
“Ya udah gak apa-apa. Aku iringi kamu ya, biar aku merasa tenang, aku khawatir aja sih!”
Dada Icha sedikit tersentuh karena ada yang perhatian padanya. “Ya udah, terserah kamu saja.”
Akhirnya Boy benar-benar mengiringi mobil Icha yang menuju pulang.
__ADS_1