Love Of Racer Badboy

Love Of Racer Badboy
Bertemu Papa Icha


__ADS_3

Mama Icha menatap nyalang dua sejoli itu.


“Darimana saja kau? Apa kau sudah tidak ingat waktu lagi? Sudah malam begini, kau masih keluyuran saja! Mama tidak menyangka kamu akan separah ini bandelnya, Cha!” ujar Mama menatap dengan mata kesal.


“Dan kau! Dasar pria tidak berpendidikan, kau membawa putriku sampai tengah malam begini! Sejak dia mengenalmu, dia menjadi pembangkang, suka melawan kata ibunya, keluyuran, sering tidak kuliah, nilainya jadi menurun! Itu semua karena kau. Mulai detik ini! Aku minta kau menjauhi putriku! Akhiri semua hubungan kamu dengan dia! Kau tidak cocok dan tidak selevel dengan putriku!” teriak Mama Icha dengan sarkas.


“Mama!” teriak Icha, dia tidak ingin sang Mama menghina Boy seperti itu.


“Apa! Kau mau melawan lagi? Masuk, sana!” usir Mama Icha. Dia melotot tajam. “Mama bilang masuk!” teriaknya marah, dengan merentakkan kaki, Icha masuk ke dalam rumah.


“Kau pulang, dan cukup ini terakhir aku melihatmu dekat dengan putriku!” ucap Mama Icha. “Dia sudah aku jodohkan dengan pria lain, yang jauh lebih pantas!”


“Maaf, maaf Tante,” ucap Boy. Hanya itu yang bisa diucapkan Boy, sebelum dia pergi dari sana.

__ADS_1


Rupanya Icha belum masuk ke rumah, dia hanya berdiri di pintu. “Kau masih berdiri di sini!” Mama Icha benar-benar marah, baru saja Boy pergi, tetapi kini Icha masih membuatnya emosi.


“Mama, kenapa berkata seperti itu! Boy bisa sakit hati!” Icha menatap Ibunya kesal.


“Kau masih saja memikirkan perasaan pria brandalan itu? Kau bahkan tidak memikirkan hati ibumu ini? Ayo, masuk! Dari mana saja kau tadi bersama dia? Apa yang kalian lakukan?” bentak Mama Icha.


Suara bentakan itu terdengar oleh Papa Icha. Dia sangat memanjakan Icha. Dia cepat menyusul dan memeluk putrinya. “Mama, jangan marahi Icha lagi, sudah, kasihan Icha,” ucap Papanya membela.


Mama Icha, memiliki tinggi 170cm, rambut panjang bergelombang, body goals, seorang yang perfeksionis. Suka pendidikan, olahraga dan dia juga seorang wanita karir. Alpha woman, yang memang menuntut Icha menjadi wanita berkelas dan jangan bergaul dengan orang seperti Boy. Walaupun dia tahu, Boy kalangan orang kaya juga, tetapi ia tak suka dengan sikap Boy.


“Udah, sekarang Icha ke kamar ya, sudah malam.” Dia mengelus lembut rambut putrinya itu.


Istrinya hanya diam, Icha paruh masuk ke kamar, baginya, selama ini memang hanya Papa yang sangat perhatian.

__ADS_1


***


Ke esokan harinya.


Icha menangis dalam pelukan papanya, mengadu dan mengiba.


“Pa, Icha sangat mencintai Boy, dia pria yang baik, tolong katakan pada Mama, untuk merestui kami. Boy berpendidikan, sarjana juga, dia juga anak orang terpandang dan berkecukupan,” rengek Icha pada Papa.


“Boy, sangat baik, Pa. Mama menyita hp Icha. Pa, Icha nggak mau buat Boy khawatir, tolongin Icha ya, Pa. Pinjam hp Papa,” ucap Icha pelan dan memohon.


Papa Icha menatap cukup lama, berpikir. “Baiklah, biar Papa yang bicara dengannya, dan kita bisa bertemu bertiga, Papa juga ingin bicara dengan pria itu,” ungkap Papa.


Papa Icha menelfon Boy, karena nomor Boy ada di dalam kepala Icha. Mereka membuat janji temu di barista starbukest coffe, mereka ngopi santai di sana dengan cemilan manis.

__ADS_1


Boy mulai berbasa-basi, lalu bicara kepada inti pertemuan mereka. “Om, aku memang playboy selama ini, suka balapan motor, tapi aku benar-benar serius pada anak Om, Icha. Aku bahagia bersama Icha Om. Sekarang, aku belum bisa melamar, karena masih berjuang dan belajar untuk melanjutkan bisnis almarhum Papaku,” ucap Boy serius.


Papa Icha mengangguk, dia yang memiliki kepribadian lembut, akhirnya menyetujui Boy untuk berjuang demi Icha, putrinya.


__ADS_2