
Hari terus berganti. Icha masih mengabaikan kemarahan dan teguran dari ibunya, bahkan, kini dia mengundang semua teman-temannya, termasuk gangs Boy untuk mengadakan party di rumahnya. Dia hari ini sendirian di rumah, orangtuanya keluar kota, para pembantu di liburkan.
Icha, Katia, dan para wanita lain, asik berbelanja, membeli bahan-bahan yang akan di masak bersama, seperti ikan, ayam, dan bumbu lainnya.
“Boy suka apa, Cha?" tanya Katia.
“Ikan bakar,” jawab Icha.
“Wih, sama kayak Lopi, ya!” sahut Katia.
“Namanya juga sohip, Lopi juga suka mie goreng, dan telur dadar 'kan?” Icha bertanya dan menghadap pada Katia.
“Ho'oh!” Katia mengangguk.
“Nah, 'kan!" seru Icha. “Mereka tuh hampir sama seleranya, kalo Boy suka makan mie rebus pedas, tapi telornya di dadarin, padahal kan enak, telornya mata sapi,” lanjut Icha.
“Iya, ya. Hehehe!” Katia terkekeh.
Puas memilih belanja, para gadis-gadis kembali ke rumah Icha, sedangkan para cowok-cowok, khususnya gang Boy dan para kekasih teman-temannya Icha membantu membersihkan dan memotong bahan-bahan masakan.
Mereka pun mulai melakukan acara barbeque. Kentang, asparagus, daging, ayam, ikan, paprika, dan lainnnya, sudah siap di bakar dengan bumbu-bumbu.
Setelah semuanya di bakar, mereka juga membuat mi goreng, ada yang telurnya mata sapi, dadar, dan di rebus bulat. Mereka bakar-bakar di halaman belakang, sebagian duduk-duduk main gitar, karena sudah banyak yang selesai, gelas dan piring juga sudah mereka siapkan. Di atas meja, banyak minuman kaleng, rata-rata minuman bergas, juga ada jus dan es teh manis.
Boy melarang membeli alkohol karena ini party di rumah Icha. Yang lain mengikuti dengan patuh, mereka hanya menambah membeli cemilan lain, seperti kacang, kuaci, permen, dan tentu saja yang pertama adalah rokok ber-slof.
Mereka bergitar, tetapi setelah semuanya tersaji, yang lain mulai menghidupkan musik DJ. Akan tetapi, yang hadir sekarang bukan hanya kelompok Boy, juga ada kelompok Hugo. Mau tidak mau, sebagai ketua umum, Boy mengizinkan mereka untuk hadir juga, karena Hugo dan teman-temannya tetap di bawah kepemimpinannya sebagai ketua umum.
Seperti biasa, sikap kelompok Hugo memang mengesalkan, walaupun mereka datang tanpa Hugo, mereka tetap saja rese. Mereka tidak sopan, bahkan berani masuk ke tempat-tempat yang jelas-jelas di tutup oleh Icha, berani mengacak-acaknya, membuat Icha marah dan kesal.
__ADS_1
“Hei, tolong yang sopan ya, kita acara di halaman dan di lantai bawah. Mengapa kalian kelantai atas ini, bahkan kalian mengacak-acak kamar ini?” Icha geram dan menegur mereka tegas.
“Oh, jangan galak-galak dong, Cantik! Namanya juga party! Kita-kita mau cari kain aja kok, handuk, mau berenang di kolam itu! Iya 'kan, guys!” ucap salah satu diantara mereka membela diri dan beralasan menunjuk kolam dengan santai.
“Kalian 'kan bisa minta padaku! Jangan acak-acak dan masuk ke sembarang tempat!” Icha berdecih, dia dengan cepat menutup pintu kamar, segera mengambil beberapa helai handuk cadangan, di tempat lain.
“Nih, handuknya!” Icha memberikan sambil cemberut.
“Makasih, Cantik!” Mereka tersenyum miring, tatapan mereka terlihat resek.
Bukannya mandi, malah mereka benar-benar resek, mereka merusak dan mengacau di sekitar sana, tanaman monstera mamanya yang ada di sekitar kolam pun di rusak. Icha marah besar.
“Siaaalan kalian! Pergi kalian dari rumahku! Acara selesai!” Icha marah sekali dan mengusir mereka.
“Ada apa Sayang?” tanya Boy yang baru datang, dia pun terkejut melihat tempat itu berantakan.
“Kau juga, pergi dari rumahku! Kalian semua pergi!” teriak Icha histeris, dia juga mengusir Boy.
Akhirnya, party itu pun berakhir sia-sia. Semua makanan yang sudah dimasak, diberikan Katia kepada Lopi untuk dibagikan pada teman-temannya, dan juga pada para gadis untuk di makan di tempat lain. Sedangkan Katia, tinggal di rumah Icha untuk menenangkannya.
Beberapa jam kemudian. Icha menelfon Boy.
📱“Iya, Sayang. Ada apa?” tanya Boy, saat Icha menelfonnya. Dia berharap, Icha kembali good mood, dan menelfon dia karena rindu. Sayangnya, tidak!
📱“Ada hal penting yang ingin aku bicarakan, guci mahal kesayangan Mamaku hilang, bekas pecahannya pun tidak ada, apakah mungkin teman-teman mu ada yang pencuri?” tanya Icha.
📱“Hah, enggak mungkin mereka mencuri, selama ini tidak pernah mereka mencuri,” jawab Boy.
📱“Tapi--”
__ADS_1
📱“Baiklah, Cha. Aku akan menanyakan kepada teman-teman ku, jika ada diantara mereka yang mengambil. Aku pasti akan mengantarkannya ke rumahmu!” jawab Boy sedikit menaikkan intonasinya. Selama ini, Boy selalu percaya pada teman-temannya. Sedangkan Icha, mulai tidak suka dan mulai meyakini kata-kata Mamanya, bahwa anak jalanan itu, anak yang tidak terdidik, anak-anak nakal yang tidak sopan dan pencuri.
📱“Ok.”
Panggilan pun berakhir, Boy mengumpulkan semua teman-teman gangnya, termasuk bawahan Hugo yang ikut ke party di rumah Icha tadi.
Setelah mereka berkumpul, Boy pun mulai bertanya pada mereka dengan tegas.
“Katakan, adakah di antara kalian yang mengambil guci di rumah Icha? Dia kehilangan guci, ataukah kalian menyembunyikannya karena pecah? Katakanlah sejujurnya, karena guci itu benda kesayangan ibunya, mungkin jika yang lain dia tidak akan terlalu cemas, tetapi guci itu barang kesayangan mamanya. Tolong katakan padaku!” Boy menatap mereka semua.
Hening!
Cukup lama hening, hingga diantara mereka ada yang bersuara.
“Ketua, aku melihat Dodo membawa guci!”
Boy menatap Dodo tajam. “Benarkah itu, Do?”
Dodo tertunduk lemah, dan mengangguk pasrah. Boy tidak percaya, Dodo adalah teman yang baik selama ini, kenapa dia harus mencuri guci di rumah Icha.
Kenapa?
“Lalu, dimana guci itu sekarang?” tanya Boy.
“Mm, a-aku ... aku sudah menjualnya!”
“Apa? Kau menjualnya?” Bruk! Boy langsung meninju Dodo. “Sekarang tunjukkan padaku, kemana kau jual? Aku akan membelinya kembali dan memberikan pada Icha!” geram Boy.
Akhirnya, Boy mendapatkan kembali guci itu, dia dengan segera memberikannya kepada Icha. Gadis cantik itu menerimanya dengan cemberut tanpa terimakasih, dia bahkan langsung menutup pagar rumahnya.
__ADS_1
Boy hanya pasrah dan mengusap wajahnya, lalu berlalu pergi dari sana. “Sabar, mungkin dia lagi PMS!” gumam Boy.