
Boy yang terkejut melihat wajah itu, mendapat serangan mendadak dari temannya yang berbalik dan memukul kepala Boy dari belakang dengan kayu. Pria yang dia pegang itu pun terlepas, Boy berbalik dan hendak menghajar pria yang memukul kepalanya. Sayangnya, dia juga berlari dan hanya berniat menyelamatkan temannya saja. Mereka berdua berlari terbirit-birit.
Boy yang merasakan kepala bagian belakangnya sakit, tak ingin mengejar. Boy memutuskan mengendarai sepeda motornya kembali, memutuskan untuk pulang.
Sesampainya di rumah, Boy di sambut mamanya dengan senyuman dan sapaan, “Malam Sayang, kamu baru pulang?”
Boy mengacuhkan sapaan itu, tidak menyahut sedikitpun.
Mama Boy melihat sudut bibir putranya berdarah, karena mendapatkan dua pukulan tadi, saat dikeroyok enam pria suruhan Rasyidin.
“Sayanh, kamu terluka, bibirmu berdarah, mama bantu obati ya, sini, lihat Mama!” Maria memegangi pipi Boy, hendak melihat dan ingin membersihkan luka robek di bibir itu.
“Ck!” Boy berdecih, dia menepis tangan Maria.
__ADS_1
“Nggak usah pedulikan aku. Urus aja urusan Mama!” sarkas Boy, lalu dia beranjak pergi dari sana, menaiki tangga menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar, dia segera membersihkan diri.
Selesai mandi, Boy memakai baju santai, berjalan menuju ruangan kerja almarhum ayahnya. Dia masih saja kepikiran dengan sosok pria bertopeng tadi, dia sangat penasaran, apakah benar pria itu adalah bawahan ayahnya dulu? Atau tidak?
Dia membuka kemari dan laci, menyusun dan membaca beberapa berkas dokumentasi. File tentang biodata para pekerja, mulai dari karyawan penting, pelayan, dan bodyguard.
Boy membuka data semua pria, salah satunya data bodyguard. Betapa terkejutnya Boy, bahwa dugaannya benar, tidak salah lagi. Pria yang dia buka topengnya tadi adalah salah satu bodyguard yang dipekerjakan oleh ayahnya.
Keesokan harinya.
Boy yang tidak bisa tidur nyenyak semalaman karena terus terpikirkan pria bertopeng itu, akhirnya memilih di pagi hari buta ke tempat para bodyguard berkumpul.
__ADS_1
“Pagi,” sapa Boy pada mereka yang masih santai, ada yang masih memakai handuk, ada yang sedang sarapan dan ada yang masih olahraga lari dengan treadmill.
“Pa-pagi Tuan Muda!” Mereka semua terkesiap.
“Santai saja Paman. Aku kemari hanya mencari seseorang. Hm, ada Paman Anto nggak?”
Mereka semua saling menoleh, sehingga salah satu diantara mereka menjawab, “Bodygourt Anto sedang pulang kampung, Tuan Muda. Saya rasa, dia pasti akan sangat sedih jika tahu Tuan Besar sudah tiada, karena dia bodyguard yang paling dekat dengan Tuan Besar.”
“Iya, Tuan Muda, dia paling dekat dengan Tuan Besar, obat saja dia yang membeli dan memberikan pada Tuan Besar, saking dekatnya. Akan tetapi, kami juga tidak tahu, kenapa dia pulang secara mendadak saat Tuan Besar sedang sakit kemrin. Mungkin saja ada keluarganya yang sakit parah juga, soalnya kami dengar, Ibunya juga sakit parah, sudah sangat tua,” jelas yang lainnya.
“Oh, begitu!” Boy mengangguk. Dia semakin curiga.
Dia semalam membaca biodata pria bertopeng itu. Dia bernama Anto. ‘Sial! Jika dia memberikan obat, apakah ada hubungannya dengan kematian Papaku?’ pikir Boy dalam hati.
__ADS_1
Boy masih tak percaya, jika ayahnya mati karena jantung koroner dan kangker otak, keluarga mereka tidak ada yang riwayat sakit jantung. Ayahnya pria yang rajin berolahraga, makan teratur dengan menu sehat.
“Oh, ya sudah, kalau begitu. Makasih ya, Paman-paman semua, saya permisi dulu!” pamit Boy karena tidak menemukan pria yang dia cari-cari.