
Mama Icha kembali mengundang keluarga Erik untuk makan malam, mereka pun makan malam bersama.
“Mama nggak mau tahu Cha! Malam ini kamu harus dandan yang rapi dan cantik! Mama nggak terima alasan lagi, malam kemarin saat menyambut kedatangan mereka, kamu beralasan sakit, Mama bisa terima karena kamu capek pulang kuliah. Akan tetapi, tidak dengan sekarang!” bentak Mama Icha pada Icha.
“Tapi, Ma–”
“Tidak ada, tapi-tapian! Mama nggak mau dengar! Cepat!” perintah nya lagi.
Akhirnya, Icha dengan terpaksa mengikuti apa yang dikatakan Mamanya dengan patuh. Mereka makan malam bersama di sebuah restoran mewah bintang lima yang sudah di reservasi terlebih dahulu oleh Mama Icha.
Mereka saling bersalaman, bertutur sapa dengan senyuman ramah saat pertama kali bertemu. Terutama Erik, dia tak lepas- lepas memandangi wajah Icha lekat.
“Nak Icha, cantik sekali malam ini,” puji Mama Erik.
“Makasih, Tante. Tante juga sangat cantik,” balas Icha memuji kembali.
“Ah, kamu manis sekali.” Mama Erik mengelus punggung tangan Icha.
__ADS_1
“Ayo, ayo, kita makan dulu,” ajak Mama Icha.
Mereka pun makan bersama, mengobrol banyak hal, Erik sangat terpesona dengan Icha, sampai-sampai Mamanya berdehem dan mencubit pinggangnya untuk menggoda.
“Hm, nanti wajahnya Icha bisa bolong loh, kalau dipandangi begitu terus,” bisik Mamanya menggoda.
“Ah, Mom!” Erik merona merah karena ketahuan oleh Ibunya.
“Hehehe. Tidak apa-apa Jeng, aku malah senang, jika Nak Erik menyukai putri saya, bukan begitu Pa?” Mama Icha menoleh pada suaminya. Sang suami hanya mengangguk menjawab sambil tersenyum.
Usai makan malam, Erik masih saja terbayang-bayang wajah Icha. Kali ini, ia merasakan jatuh cinta pada wanita. Icha benar-benar berhasil.mencuro hati pria dingin itu. Erik pun bertekad akan mengejar Icha yang selalu terlihat cuek.
“Aku harus mendapatkan dia. Apapun rintangannya, akan aku hadapi. Kau pasti akan menjadi milikku, Icha ....” Erik tersenyum dalam tekat yang keras.
***
Geng motor berkumpul ria semuanya. Akan ada turnamen balap besar yang sangat bergengsi.
__ADS_1
Aldo, salah satu antek-antek Hugo, juga ikut dalam turnamen ini. Dia sangat membenci Boy, geng kecil mereka terpaksa patuh pada perintah Boy karena Boy adalah ketua umum pilihan. Dia sangat iri pada Boy karena Boy menang dalam segala hal.
“Bos, kita ikut 'kan?” tanya Aldo pada Hugo.
“Tentu saja, kita harus ikut dan menangkan turnamen ini! Dengan mengikuti acar bergengsi ini, nama kita akan semakin populer. Mau itu di media atau dimana pun.” Senyuman licik tercetak jelas di wajah Hugo.
“Ahahaha! Oke Bos, kami semua mengerti,” tanggap Aldo cepat.
Dalam acara balapan turnamen bergengsi ini, Boy, Lopi, Hugo, dan Aldo, serta lainnya, mendaftarkan diri. Balapan ini akan diadakan tiga hari lagi.
“Bro, gimana? Lu udah siap-siap?” tanya Boy pada Lopi.
“Tentu saja Bro, gue selalu siap sedia!” jawab Lopi mantap.
“Keren!” puji Boy memberikan jempolnya pada Lopi.
“Kalian juga sudah siap-siap 'kan?” tanya Boy pada anggotanya yang lain.
__ADS_1
“Siap ketua! Kita semua akan mengikuti langkah ketua, membawa beberapa piala, dan tentunya kami berharap ketua yang jadi peringkat tertinggi!” seru salah satu anggota Boy dengan antusias.
Boy dan Lopi hanya mengangguki dengan senyuman.