
Gedung-gedung tinggi mencakar langit, kendaraan sibuk berlalu lalang, beberapa orang juga dan ada yang mengayuh sepeda.
Drap! Drap! Seorang gadis tampak tergesa-gesa, mencari sesuatu di dalam tasnya. “Aduuh, dimana sih!" kesalnya. Akhirnya, dia menemukan cermin, bedak, dan lipstik.
Dia berbedak dan memakai lipstik dengan cepat sambil berjalan, lalu bercermin sekilas. “Ya ampun, aku telat!" desisnya. Melihat jam dan buru-buru.
Dia seorang sekretaris, lulusan universitas ternama, dia kandidat terbaik, dan kini di promokan pindah ke kantor cabang, untuk membantu menghandle sebuah sorum, dan sorum itu tempat Boy bekerja. Atasan gadis ini adalah Pak Sensor.
Pak Sensor pagi itu berada di sorum yang di kelola oleh Boy.
“Bagimana pekerjaanmu Boy?" tanya Pak Sensor.
“Semuanua berjalan lancar Pak," jawab Boy.
“Oh, ya. Hari ini, aku akan memperkenalkan kamu dengan seseorang, dia salah satu orang pilihan yang aku percaya, agar bisa membantumu mengelola sorum ini," ujar Pak Sensor.
__ADS_1
Boy menatap Pak Sensor. “Syukurlah jika sudah menemukan seseorang yamg bisa membantu Pak. Aku senang mendengarnya," balas Boy.
“Ya, sorum ini berkembang pesat, apalagi saat kamu meminta bantuan mencari teman untuk mengelola sorum ini, Aku segera mencarinya." Pak Sensor tersenyum.
Tak lama, gadis cantik itu pun datang.
“Zara, kenalkan, ini Boy. Boy, kenalkan, ini gadis yang saya jatakan tadi, Zara," ujar Pak Sensor memperkenalkan mereka berdua.
Boy dan Zara saling berjabat tangan.
“Zara.”
Boy melihat penampilan Zara seksama, cantik, anggun, manis, rambut sebahu. Setelah berkenalan, mereka berdua pun mengurus pekerjaan bersama, yang mana tugas dari Zara membantu Boy saja, sangat berbeda dengan tugasnya di kantor sebelumnya.
Teryata usut punya usut, Pak Sensor ini tahu permasalahan Boy yang galau berat. Jadi, dia pun punya ide agar Boy mendapatkan kawan wanita yang baik seperti Zara, supaya dia cepat move on.
__ADS_1
Boy dan Zara sangat nyambung dalam membahas hal-hal pekerjaaan dan selalu diselesaikan dengan problem solving yang baik.
Beberapa waktu terus berlalu. Hubungan kerja Boy dam Zara berlangsung baik, tak ada kemajuan apa-apa dalam hubungan itu, seperti apa yang diharapkan oleh Pak Sensor. Akan tetapi, usaha sorum yang mereka kerjakan bersama mendapatkan banyak kemauan pesat, kehebatan Boy dan Zara membuat omset penjualan di sorum ini meningkat drastis.
Pak Sensor tentu saja sangat senang dengan usaha yang ia modalkan berkembang seperti itu.
“Pak, saya mohon, terimalah!" ujar Boy memberikan amplop karena Pak Sensor tidak ingin memberitahukan Boy nomor rekeningnya.
“Aku sudah bilang 'kan, modal yang aku keluarkan kemarin sudah aku terima, jadi selebihnya milikmu. Aku dan istriku sudah menyepakati ini. Kami hanya ingin membantumu, tidak ingin berbisnis denganmu. Tolong, anggap ini pembayaran hutang budi kami kepada Papamu, Boy!" tolak Pak Sensor memberi alasan pada Boy.
Dia tidak ingin menerima uang dari Boy.
Boy mendesah. “Baiklah, kalau begitu, terimakasih banyak Pak," ucap Boy.
“Sama-sama. Bagaimana kamu dan Zara liburan saja dalam seminggu ini? Aku tidak jadi memakai tiket liburan karena istriku demam. Bagaimana?” Pak Sensor memberi alasan kembali, padahal tiket itu sengaja dia persiapkan untuk Boy dan Zara, agar hubungan mereka lebih dekat.
__ADS_1
“Bagaimana menurut kamu, Zara?" tanya Pak Sensor menatap Zara yang diam di samping mereka berdua.
“Saya, terserah saja Pak," sahut Zara.