
Semenjak menghabiskan hari-harinya bersama Boy, Zara menyimpan perasaan tersendiri pada pria itu, apalagi sejak Pak Sensor sering menjodohkan mereka, dengan sengaja memberikan mereka peluang bersama, tumbuhlah perasaan cinta dalam hatinya.
Dia merasa, Boy sangat berkarisma, coll dan tertutup, seperti lelaki setia yang tiada duanya. Sayangnya, Zara tidak tahu, dulunya Boy adalah pria badboy yang suka memainkan wanita, lalu kini memiliki luka yang dalam karena cinta pada seorang wanita. Kenangan cinta yang menyesakkan dada Boy.
“Hm, Pak, Boy sudah lama ya, kenal sama Bapak?” tanya Zara saat memberikan laporan yang diperintahkan Pak Sensor kepadanya.
“Sudah, kenapa?" Pak Sensor mengulum senyum. Dia mengerti jika Zara tertarik dengan Boy, sayangnya Boy hanya biasa saja.
“Boy anak tunggal, Papanya baru meninggal, dulu Papanya teman bisnis saya, bukan hanya teman bisnis biasa, kami juga teman dekat, Oma Boy membantu saya dulu saat saya bujang, dia memiliki seorang Ibu, tapi tidak terlalu dekat dengan Boy, dia memilih kemari untuk melupakan perasaan sedihnya, sahabat baiknya baru saja meninggal dunia, padahal Papanya baru meninggal dunia juga,” jelas Pak Sensor.
“Oh, begitu, pantas saja, dia sering melamun tiba-tiba. Sahabatnya meninggal kenapa, Pak?" tanya Zara.
“Kecelakaan saat lomba balapan,” balas Pak Sensor.
“Oh, kasihan sekali.” Zara terdiam beberapa saat.
“Boy suka jalan-jalan dengan motor, makanya dia beli motor besar, tetapi mungkin tak seceria waktu dulu, apalagi motor merah yang dia beli itu mirip dengan motor merah yang dimiliki temannya yang meninggal, biasanya motor kesukaan dia berwarna hijau.” Pak Sensor bercerita, Zara mendengarkan.
__ADS_1
“Kalau makanan, Boy suka apa, Pak? Aku ingin memasak untuknya,” ungkap Zara.
“Dia tidak pemilih, tetapi dia lebih lahap makan makanan pedas,” jawab Pak Sensor.
“Oh, kalau begitu, aku akan mencoba memasakkan dia makanan pedas,” balas Zara.
“Kalau cemilan dia suka wafer dark coklat melimpah dan kopi,” ujar Pak Sensor kembali.
“Oh, makasih Pak Infonya.” Zara tersenyum.
“Hei, Boy. Aku beli cemilan nih, yuk makan.” Zara memberikan cemilan itu pada Boy. “Aku beli kopi buat kamu," ujarnya, sedangkan dia meminum capuccino.
Boy melihat cemilan itu, lalu tersenyum. “Makasih,” ucapnya. Makanan itu adalah cemilan kesukaannya, dia tidak menyangka Zara bisa membeli makanan yang dia suka.
Jujur saja, sudah lama Boy tidak mencicipi cemilan ini, biasanya dia akan memakan itu di rumah, dia gengsi memakan wafer di depan teman-temannya, merasa lembek seperti cewek. Padahal itu tidak masalah, memakan wafer cowok ataupun cewek, itu tergantung selera masing-masing.
Zara memulai memakan cemilan, agar Boy tidak malu. “Ayo, makan dulu. Atau kamu tidak suka?" Zara memiringkan kepalanya, dalam hati berdebar sih.
__ADS_1
“Suka kok Zara,” jawab Boy. Dia segera mengambil cemilan itu dan memakannya dengan lahap. Sampai dia lupa dengan gengsinya.
Zara yang melihat itupun tersenyum senang. “Benar kata Pak Sensor, ini makanan kesukaan dia, tapi dia gengsi, dia akan memakan cemilan diam-diam." Zara bergumam dalam hati. Makanya, Zara memilih membagi cemilan pada Boy saat jam istirahat sudah habis, jadi mereka hanya berdua di ruangan ini, bisa makan cemilan sepuasnya.
Ya, Zara dan Boy sering berada di dalam kantor dari pada di luar karena untuk promosi mobil sudah ada SPG.
Setelah memghabiskan cemilan, Boy merasa neehutang budi dan tidak enak pada Zara, jadi dia ingin membalas juga. “Oh ya, weekend nanti kamu punya acara?” tanya Boy.
Deg! Zara berdebar. “Tidak. Kenapa?" tanya Zara.
“Sama. Hm, kamu mau enggak, jalan bareng sama aku weekend besok?" ajak Boy.
“Boleh. Aku mau,” jawab Zara cepat.
Alis Boy terangkat melihat respon Zara yang menjawab cepat, dia berpikir Zara akan menimbang ajakannya, rupanya gadis itu menjawab setuju dengan cepat.
“Baiklah, aku jemput kamu weekend nanti.”
__ADS_1