
“Kita berhenti di kedai bakso, ya, Cha,” ajak Boy membujuk Icha. “Hujan-hujan gini, enak loh makan bakso,” lanjutnya lagi setengah berteriak karena laju motornya cukup kencang, agar tidak kebasahan hujan lebat.
“Terserah,” jawab Icha masih saja jutek.
Boy menghentikan motornya di kedai bakso. Dia dan Icha buru-buru menepi dan berteduh. “Yuk!" Boy menarik tangan Icha untuk masuk ke kedai bakso.
“Mau pesan apa, Cha?" tanya Boy menunjukan menu bakso yang terpampang di dinding kedai.
Icha diam memperhatikan, seperkian detik barulah dia menjawab, “Aku mie ayam bakso urat.”
“Minumannya?”
“Teh hangat aja,” jawab Icha.
Boy memesan mie ayam bakso urat dan bakso kosong, serta dua gelas teh hangat untuk mereka berdua.
Katia yang juga sedang di atas motor bersama Lopi berseru, “Ayaaaang, kita berhenti di kedai bakso dekat sana ya! Hujan-hujan gini enak makan bakso!”
Lopi tidak menjawab karena ia fokus membawa motor di tengah rintik hujan yang mulai deras. Dengan laju kencang, mereka berdua juga sampai di kedai bakso yang disinggahi oleh Boy dan Icha.
“Eh, ini motor Boy?” gumam Lopi saat mereka sudah berhenti dan segera berteduh.
“Basah banget ya, Sayang, rambutnya?" Lopi membantu memegangi ujung rambut Katia, berusaha mengeringkannya dengan mengibas-ngibas.
“Bajunya basah juga nggak? Dingin?" tanya Lopi lagi memperhatikan Katia. Lopi membuka jacketnya meremas jacket itu. “Ini juga basah, dingin banget?” Lopi menggenggam tangan Katia.
__ADS_1
“Enggak kok, ayo kita masuk, pesan bakso, sama teh hangat, biar nggak dingin lagi,” ujar Katia.
“Yuk.”
Mereka pun masuk dan melihat Icha dan Boy tengah menyantap bakso. “Ke sana yuk Yang, Icha tuh ama Boy!” tunjuk Katia.
“Hei,” sapa Katia yang sudah sampai di meja Boy dan Icha.
“Sayang mau pesan apa? Biar aku pesan!” kata Lopi.
“Bakso telor, Ayang,” jawab Katia tersenyum.
“Oke!” Lopi memberikan jempol dan langsung beranjak dari sana.
Lopi memesan Bakso telor dengan bakso kosong tambah ceker untuknya serta teh hangat.
“Kamu nggak balas?” respon Icha.
“Balas lah! Aku cakar balik, aku jambak rambutnya!” terang Katia.
Lopi yang baru datang dari memesan bakso langsung melihat lengan Katia. “Kurang ajar, nggak nyangka gue si Lola se-agresif ini nyakar cewek gue!” gumam Lopi kesal.
“Emangnya tadi kenapa, Sayang? Kok bisa berantem sampai cakar-cakaran?” tanya Lopi.
“Dia nyindir kita, lebih tepatnya sih Icha, dia pamer katanya dia wanita spesial Boy, terus bilang kami keganjenan, anak sekolahan yang keluyuran demi ngejar kalian,” ungkap Katia.
__ADS_1
Lopi dan Boy menggelengkan kepala dengan tingkah laku para gadis-gadis, apalagi Lola.
Icha yang mendengar nama Lola sejak tadi dibahas, menjadi semakin kesal dan uring-uringan kembali, padahal tadi dia sempat melupakannya sejenak.
Cukup lama mereka berbincang, pesanan mereka sudah habis, perut pun sudah kenyang. Hujan pun akhirnya mulai mereda. Setelah hujan reda, mereka semua pun pulang.
Lopi mengantar Katia dengan senang hati, mereka bermesraan dan berciuman hangat setelah sampai di depan rumah Katia. Berbeda dengan Boy dan Icha, gadis cantik berkulit putih itu tidak seperti biasanya, dia hanya diam saja di atas motor, dan Boy pun tahu itu karena dirinya, karena masalah dengan Lola tadi.
Setelah sampai di rumah Icha, Boy pun mematikan motornya dan berhenti sebentar. Untuk menenangkan amarah Icha, mereka berdua pun duduk di teras rumah Icha.
“Cha, maafin aku ya, aku janji, tidak akan mengizinkan Lola mendekati aku lagi. Aku akan mengusir dia, jika dia mendekatiku.” Boy berjanji, tetapi Icha masih saja cemberut.
Bagi Boy, Icha yang cemberut sangatlah imut. Bibir Icha mengerucut lucu ke depan. Boy ingin sekali menciumnya. Rupanya, apa yang ada dalam pikirannya, benar-benar dia lakukan pada Icha.
Dia mencium bibir Icha. Boy yang selama ini sering bermain liar, tidak bisa mengontrol diri, tangannya langsung nakal meraba tubuh Icha, berawal dari tengkuk, turun ke punggung, lalu ke dada Icha. Dia meremasnya pelan beraturan.
Entah kenapa, Icha malah tidak melakukan penolakan, sehingga tangan nakal Boy turun merasakan kulit lembut yang tertutup kain diantara kedua paha Icha. Gadis itu menikmatinya sambil menutup mata. Boy melakukan itu hanya sekitar dua menit, sangat sebentar, dia dengan cepat menghentikan tindakannya. Dia tahu, Icha belum pernah berpacaran, masih polos, sehingga tidak bisa mengontrol diri pada sentuhan pertama seperti ini darinya yang lihai.
Boy segera berdiri sambil menggigit bibir bawah, dia susah payah mengontrol kelelakiannya. Icha yang baru tersadar dengan kejadian dua menit barusan, sangat malu sekali, dia bahkan melupakan amarahnya, karena sentuhan dan ciuman Boy.
“Mmm, aku balik dulu ya, Cha. Maaf karena nggak minta izin dulu cium kamu, makasih, bibirmu sangat manis.” Boy pun pamit undur diri.
Icha hanya terdiam melihat kepergian Boy, hatinya berdebar-debar tak karuan.
“Apa itu tadi? Beginikah rasanya di cium? Beginikah rasanya di belai? Aku benar-benar melayang dan lupa diri barusan, aaaahhh!” Icha langsung berlari ke kamarnya mengingat ciuman pertamanya yang cukup hot. Bukan ciuman biasa, tetapi Boy menyentuh dua milik pribadinya.
__ADS_1
“Aaaaaaaa....”