
Icha memeluk pinggang Boy erat 20 per 2000 pelukan. Ya, laju motor Boy yang santai, tak se santai dekapan hangat nan sangat erat dari Icha.
Boy tersenyum, dia mengelus dan memegang tangan Icha yang melekat di perutnya dengan sebelah tangan. Sedangkan tangannya sebelah lagi fokus memegang stang motor.
“Kita mau kemana nih?” tanya Boy pada Icha.
“Terserah!” seru Icha setengah berteriak.
“Terserah? Ke empang mau? Heheh!” seloroh Boy terkekeh.
“Kalau empang nya indah, bersih dan gak bau, boleh-boleh aja!” balas Icha terkikik.
“Emangnya ada?” jawab Boy.
“Kali aja ada, kalau ada, ayo kita ke sana!” ucap Icha.
Boy hanya tersenyum kecil. “Ya, udah, berarti kita ke empang yang indah ya!”
“Kamu beneran mau ngajakin ke empang?” tanya Icha sewot.
“Lah, katanya mau ke empang!”
“Ya nggak ke sana juga sih!” protes Ivha cemberut.
“Katanya terserah?” Boy terkikik.
“Ih, nyebelin!” Icha mencubit pinggang Boy.
“Aww! Cha! Nanti kita bisa jatuh!” Boy terkejut, mendapat cubitan di pinggang.
“Biarin!”
“Ya udah, kita ke taman bunga Lawsen Flow, mau?”
“Ok!” jawab Icha antusias.
Satu jam perjalanan, mereka sampai disebuah taman pribadi milik Ken Adipati Surya, seorang pria tampan yang kaya raya, memiliki banyak bidang usaha dan perusahaan perhiasan. Sedangkan Lawsen Flow ini, taman bunga yang bisa dikunjungi oleh orang-orang pecinta bunga.
Taman yang luas, sekitar empat hektar, bermacam-macam bunga tersedia di sini, dengan perawatan ketat. Ken juga menjual bunga-bunga yang ada di taman. Jika ada yang berminat saat melihat taman, mereka bisa memesan melalui penjaga taman yang bertugas.
__ADS_1
Icha turun dari motor dan membuka helm. Dia melihat dan mengeja bacaan florist Lawsen Flow. “Bagaimana? Mau lihat taman ini?” tanya Boy.
“Iya, aku mau banget!” seru Icha antusias.
Lawsen Flow, taman yang sangat terkenal. Boy membeli tiket masuk. Mereka di berikan dua botol minuman gratis saat masuk, karena di dalam taman, tidak ada yang berjualan dan dikarang juga membawa cemilan, hanya boleh membawa minuman berbotol saja.
Boy menggenggam erat tangan Icha, sedangkan tangan mereka yang tidak saling berpegangan, masing-masing memegangi satu botol minuman.
Di gerbang pertama, mereka di suguhi taman anggrek warna warni yang tersusun rapi di dalam pot yang terbuat dari kulit kayu, disebelah kiri taman anggrek, ada taman lili yang dipagar dengan bambu, sedangkan sisi kanan di sambut dengan bunga kembang sepatu bermacam-macam warna.
Melewati taman itu dengan jalan yang cantik, batu-batu sungai yang berukuran kecil berwarna-warni, dengan di atasnya ada gerbang bunga gantung yang cantik. Bahkan di sela bunga gantung itu, juga ada bonsai yang berbuah berwarna orange.
Di sepanjang jalan, mereka disuguhi banyak bermacam-macam bunga, mulai dari melati, rose, mawar dan lainnya, benar-benar banyak yang tidak Icha ketahui jenis bunganya.
“Eh? Itu bunga raflesia 'kan?” tunjuk Icha pada tempat khusus, bunga bangkai itu dilindungi dan diberi pembatas kaca tinggi.
“Iya, di sebelah sana jenis pakis!”
Icha melihat arah telunjuk Boy, benar saja, banyak macam-macam tumbuhan hijau, jenis-jenis pakis yang tidak diketahui oleh Icha, bunga keladi bermacam bentuk, bintik dan rupanya.
“Tempat ini benar-benar sejuk dan nyegerin mata banget ya. Semua jenis bunga ada, ada bunga dari luar negeri juga, keren sih tempat ini!”
“Iya, mau!” jawab Icha mengangguk.
Boy menarik tangan Icha, melewati banyak kelompok-kelompok bunga, hingga sampai pada lapangan yang luas, dua macam warna bunga di sana terhampar. Satu ungu dan satu lagi kuning. Ya, bunga kenikir kuning dengan Lavender berwarna ungu.
Boy menarik tangan Icha ke sudut yang sepi, tidak banyak orang di sana.
“Bagaimana?” tanya Boy menatap lurus hamparan taman bunga berwarna ungu dan kuning itu.
“Aku suka banget, Boy!” Icha spontan berhamburan ke dalam pangkuan Boy. Mereka saling tatap dan....
“Ehem!” Icha berdehem setelah sadar, mereka sedikit canggung. Bunga yang wangi di tiup angin sepoi-sepoi, warnanya yang indah menyejukkan mata, tempat yang begitu romantis.
Entah siapa yang memulai duluan, tetapi bibir mereka tiba-tiba sudah saling beradu satu sama lain. Perasaan yang meletup-letup dan mendebarkan.
“Hm, kita foto yuk, untuk di simpan sebagai kenang-kenangan,” ucap Icha malu setelah mereka melepaskan ciuman.
“Ayo,” jawab Boy tersenyum.
__ADS_1
Mereka berdua pun akhirnya berfoto ria, mulai dari Icha sendiri, Boy sendiri dan mereka berdua menggunakan tongsis. Bukan hanya itu, Icha bahkan memainkan sosial medianya, terutama aplikasi hitam yang bernama toktoktok, pemandangan indah itu dengan musik hit yang populer masa kini.
Ya, Icha cukup aktiv di aplikasi itu, isinya hanya pemandangan indah dengan di iringi musik, tanpa memperlihatkan dirinya, follower dan yang berkomentar di akun Icha cukup banyak.
“Oh, ini akun kamu, ya?" Boy muncul di belakang Icha.
“Iya,” jawab Icha mengangguk.
“Aku follow ya, ini akun aku.”
“Oke, aku folback.”
Mereka di sana sampai siang, lalu mereka keluar dan makan di Rumah Makan Padang. Setelahnya, Boy dan Icha melanjutkan perjalanan ke arah pantai. Cuaca hari ini sangat mendukung, tidak hujan, cerah tetapi tidak terik, sehingga pas sekali untuk jalan-jalan.
Angin yang berhembus menerbangkan rambut Icha, sebelah tangannya merapikan rambut, sedangkan satunya lagi berada di perut Boy.
Boy meraih tangan itu dan mengecupnya bertubi-tubi sepanjang perjalanan ke arah pantai. Mereka berdua tengah di mabuk asmara.
Mereka pun telah sampai di pantai. Langit biru putih dengan hamparan laut biru yang lebih pekat, sunguh memanjakan mata. Ditambah pohon kelapa hijau dengan batang yang melayuk (meliuk) menambah keindahan mata. Boy pun melupakan kesedihannya. Ia terhibur.
Di pantai ini, tak jauh dari sini, ada villa Boy. Tepat nya villa pribadi dirinya.
“Mau mandi nggak?” tanya Boy menatap Icha.
“Mau, tapi--” Icha menggantung kalimatnya.
“Kenapa? Takut nggak ada baju ganti?” tanya Boy lagi. Icha mengangguk.
“Tenang, dekat sini banyak orang jual baju, kok. Yuk, beli baju ganti dulu,” ajak Boy.
Setelah mereka berdua membeli baju ganti, mereka pun mandi-mandi di pantai dengan ceria. Setelah penat bermain-main di pantai, Boy dan Icha pun mandi bersih dan mengganti baju.
“Mau mampir ke villa aku nggak?” tawar Boy.
“Villa?"
“Iya, dekat dari sini, kok,” jawab Boy.
Mereka pun akhirnya menuju villa Boy. Senja berwarna jingga, mereka berdua duduk di atas roof top villa, menikmati view langit senja dengan pantai sebagai pemandangan.
__ADS_1
Mereka berdua berbincang asik, mulai membahas kedekatan dan hubungan mereka berdua, di akhiri dengan ciuman bibir yang mesra di saksikan sunset.