Love Of Racer Badboy

Love Of Racer Badboy
Melihat Icha dan Erik


__ADS_3

Katia benar-benar kecewa dengan sikap dan perubahan Icha, kenapa bisa seseorang berpindah ke lain hati dengan cepat. ‘Apa selama ini, Icha hanya menganggap cintanya pada Boy itu hanya cinta monyet, sedangkan aku mencintai Lopi dengan sepenuh hati ini,’ gumam Katia dalamhati.


Dia masih mencintai laki-laki yang sudah beberapa bulan menghadap sang Ilahi itu, dia masih hidup dalam cintanya, tersenyum membayangkan jika berjalan berdua dengan Lopi.


“Kenapa, kok, begitu mudahnya kau melupakan Boy, aku kasihan melihat dia terpukul seperti itu, dia lebih terpukul daripada aku, Cha. Dia bukan hanya kehilangan sahabatnya dia juga kehilangan kekasihnya sekaligus. Apa kau tidak mengerti?" tanya Katia menatap Icha dengan derai air mata, dia bisa merasakan perasaan yang dialami oleh Boy.


“Aku tidak mau membahas ini, Kat. Maaf, jawab Icha pendek.


Akhirnya, Katia pun pergi dari rumah Icha karena tidak bisa membujuk gadis itu.


“Aku berharap kebahagiaan kalian berdua, seandainya kalian berpisah, aku berharap Boy akan mendapatkan wanita baik dan juga mencintai dirinya ....” lirih Katia.


Dia menatap rumah sahabatnya yang akan dia tinggalkan, lalu ke dia benar-benar pergi, setelah melihat rumah itu cukup lama dengan berdiri di badan mobilnya.


Di kediaman Erik. Pria itu sedang bercermin mematut dirinya di pantulan cermin, lalu dia melakukan panggilan video call kepada Icha.


“Hai, Cha, kamu lagi ngapain, kamu udah makan belum, aku dengar ada restoran baru, buka kepiting tiramisu, enak banget loh di sana, dagingnya segar, kita ke sana, yuk!” ajak Erik.

__ADS_1


“Baiklah, aku akan bersiap-siap,” jawab Icha diseberang teleponnya setelah Katia pergi dari rumahnya.


“Oke Princess, sebentar lagi aku OTW, ya,” ujar Erik,buat Icha terkekeh kecil dengan panggilan itu.


Erik masuk ke dalam kehidupan Icha saat hubungan Boy dan Icha renggang, dia bagaikan mendapatkan durian runtuh saat mengetahui hubungan dua sejoli itu dari orang suruhannya dan tentu saja hubungan itu didukung keras oleh orang tuanya dan orang tua Icha sehingga mereka semakin dekat.


Tak lama, Erik telah sampai di depan rumah Icha dengan pakaian rapi lalu dia dipersilahkan masuk oleh sang bibi.


“Silahkan duduk dulu Tuan Eri, Non Icha masih di kamarnya,” ujar Bibi memberitahu Erik.


“Iya, Bi,” jawab Erik.


“Sudah lama menunggunya?” tanya Icha.


“Belum, baru setengah jam,” jawab Erik terkekeh.


“Ah, maafkan aku, ya, maklum,” alasan Icha.

__ADS_1


“Iya, nggak apa-apa, Cha. Santai aja, apa kita bisa jalan sekarang?" tanya Icha.


“Yuk,” sahut Icha.


Mereka pun akhirnya pergi ke restoran, selesai makan di restoran, mereka berjalan-jalan berdua membeli beberapa belanjaan, ada juga boneka dan jepit rambut. Saat mereka berada di jalan trotoar, Erik mencoba memasangkan jepit rambut itu di rambut Icha.


Boy berencana pergi ke tmpat menelpon umum untuk menelepon Icha karena nomornya di blokir, dia sangat rindu suara Icha, jadi saat tersadar dari tidurnya karena mabuk semalam, dia segera bangkit menuju telepon umum, yang sulit ditemui sekarang karena orang-orang sudah punya telepon pribadi.


Saat di perjalanan ke sana, bukan, lebih tepatnya akan menelepon karena dia berdiri tepat di telepon umum, dia melihat Icha dan Erik. Erik yang terlihat mesra mengelus rambut Icha. Jika dari posisi Boy, terlihat seperti mereka berdua berciuman, tetapi aslinya hanya memasang jepit rambut.


Icha kaget saat kedua netranya bersirobok dengan dua bola mata boy yang menatapnya, reflek dia mendorong pelan tubuh Erik. Dengan canggung, Icha menarik tangan Erik dan berlalu pergi dari sana, melewati Boy.


Boy shock dengan penglihatanya barusan. Ia pun pergi pulang dan meluapkan kekesalannya, lagi-lagi dia membeli minuman. Dia juga merespon beberapa wanita nakal yang tertarik dengannya, yang berakhir doa bermain ranjang melepaskan emosi.


Katia terperangah saat mendapatkan laporan dari Heru, Boy melihat Icha berjalan dengan pria lain, mbuat pria itu frustasi dan tak terkendali.


“Heru, aku percayakan sahabat kekasih hatiku padamu, tolong jaga dia, pastikan dam cegah dia jangan sampai memakai narkoba untuk menenangkan otaknya, aku mohon!” pinta Katia.

__ADS_1


Jujur, Katia dulu juga suka minum, joget ke club, tapi dia tidak pernah memakai nakotika. Apalagi sejak kenal Lopi, dunia dia berubah menjadi lebih baik, bahkan setelah kepergian Lopi, dia masih hidup dengan cintanya, membayangkan ada Lopi.


__ADS_2