Love Of Racer Badboy

Love Of Racer Badboy
Curhat


__ADS_3

Erik melihat Icha tak berkedip, wajah yang sangat dia sukai, wajah Asia.


“Ayo, Nak Erik, silahkan masuk,” ajak Mama Icha, membuyarkan keterpanaan Erik.


“Ah, iya, Tante,” jawab Erik.


“Oh, ya, ini oleh-oleh untuk Jeng sekeluarga,” kata Ibu Eric.


“Ah, Jeng repot-repot sekali,” ujar Mama Icha berbasa-basi, tetapi tangannya meraih hadiah itu.


Mereka berbincang ringan, lalu langsung menuju ruang makan keluarga. “Mari, kita makan dulu, sambil berbincang-bincang,” ucap Mama Icha.


“Oh, mari!” sahut Ibu Erik.


Papa dan Mama Icha saling berbincang dengan ke-dua orangtua Erik, mereka tampak akrab dan sesekali terkekeh kecil.


“Ah, sampai lupa, kenalkan ini putri saya Icha,” ujar Mama Icha.


“Heheh, iya, sampai lupa. Erik kenalkan," kata Ibunya tersenyum.


“Salam kenal, Icha. Saya Erik.” Erik memperkenalkan dirinya pada Icha, karena dia sudah kenal dengan kedua orangtuanya Icha.

__ADS_1


“Icha,” jawabnya dengan wajah datar. Erik tersenyum, dia merasa tertarik dengan Ocha yang melihatnya biasa-biasa saja, padahal selama ini gadis-gadis tergila-gila padanya.


“Senang berkenalan denganmu Icha,” tutur Erik lagi.


“Ya, senang berkenalan denganmu juga," balas Icha.


Mereka berbincang-bincang sejenak, tapi lebih banyak kedua orang tua mereka saja, karena Erik dan Icha tak banyak bicara. Icha lebih banyak diam dan tak peduli, sehingga Erik hanya lebih sering bicara dengan Mama Icha.


Mereka makan dengan lahap, sambil bercerita banyak hal. Tak terasa, malam pun sudah menghampiri. Erik sekeluarga pun kembali ke apartemen yang dia beli saat melakukan bisnis selama ini di Indonesia.


***


Icha merasa sangat bete, dia menjadi mumet karena tidak ingin melkukan peejodohan ini, tetapi dia tidak kuasa dan tak berani melawan lebih kepada Mamanya. Ia pun memilih menongkrong dengan Katia dan membahas apa yang terjadi pada nya.


“Cih! Aku benar-benar kesal Kat! Aku benci!” jerit Icha tertahan, dia memainkan jepit rambutnya dengan kesal.


“Ok, gue paham, sekarang lu tenang, cerita sama gue. Ada apa?” Katia menepuk pelan paha Icha yang mulus.


“Gue bete banget, yuk, kita ke Taman Indah! Gue galau banget!” pintanya.


“Ok! Tapi kita harus ganti pakaian dulu, sekalian bisa olahraga sore!” Mereka berdua pun mengganti pakaian, dan memilih melajukan mobilnya ke taman.

__ADS_1


Di taman banyak jajanan kaki lima yang sangat enak. Icha memilih olahraga sebentar bersama Katia, maraton sore dan dance. Setelah latihan dance yang membakar lemak. Icha merasa kelaparan sekali. Rupanya hatinya yang galau, tidak bisa dibawa olahraga.


“Ayo, makan dulu, gue lapar!” ajak Icha.


Mereka pun memesan jajan dan minuman.


“Ah, seger!” gumam Icha tersenyum melepaskan dahaga.


“Mm, enak!” seru Katia yang langsung memakan bakso bakar kuah sate Padang.


Lupakan sementara diet-diet ala kedua gadis itu. Mereka membeli berbagai macam makanan, mau itu gorengan, berbagai kue-kue, dan minuman softdrink.


“Gue mau nikah sama Lopi secepatnya, gue udah di lamar sama dia. Tinggal nungguin lamaran secara resmi aja, terus nikah,” ujar Katia di sela-sela mereka makan.


“Nikah? Secepat itu? Lalu, gimana sama kuliah lo, Kat?” tanya Icha tak percaya.


“Nggak masalah 'kan kalo nikah? Masalah anak kita tunda dulu, gitu aja sih!” jawab Katia enteng. “Gue saranin lu, mending lu segera nikah sama Boy. 'Kan lu berdua saling cinta! Emang lu mau dipaksa menikah sama pria yang enggak lu suka?” Katia menatap Icha.


Icha menggeleng sambil berkata, “Tidak, aku enggak mau, Kat!”


“Nah, karena itu, lu harus segera meresmikan hubungan lo sama Boy!” seru Katia antusias.

__ADS_1


“Gue dilema banget, lu 'kan tau Mama gue! Dia masih kurang setuju gue sama Boy!" Icha menghela nafas lelah.


__ADS_2