
Aral melintang yang tak pernah diminta, begitupula dengan maut yang tak bisa di elakkan.
Di ruangan UGD, tepatnya di rumah sakit yang merawat Papa Boy. Pria yang banyak dipasang alat medis itu tidak tertolong lagi, dua jam yang ditunggu itu, bukanlah kabar yang baik, karena detak jantungnya semakin turun, selang lima belas menit dokter keluar dari ruangan ayahnya, mereka segera masuk kembali, karena mendapatkan panggilan dari suster yang berjaga di dalam sana, dekat Papa Boy.
Dokter segera sibuk di ruangan UGD, menekan alat jantung yang mirip seterika kain itu di dada Papa Boy, alias defibrilator.
Tak ada pergerakan dari Papa Boy, dia dinyatakan meninggal dunia setelah garis lurus patien monitor muncul. Boy menangis histeris setelah mendengar dokter mengatakan berita duka itu. Tubuhnya berguncang, bahunya bergetar hebat menahan tangis yang semakin jadi.
Mayat Papa Boy pun akhirnya di bawa pulang. Mayat itu dibujurkan di tengah rumah, di tutupi dengan kain panjang. Banyak pelayat yang datang. Oma Boy menangis sambil memeluk Boy, wanita tua yang sudah keriput itu tidak menyangka, jika putranya lebih dulu pergi dari pada dirinya menghadap Ilahi.
Teman-teman Boy datang juga melayat, mulai dari teman kampus hingga anggota gang motornya. Lopi bersama Katia dan juga ada Icha bersama sopirnya.
Lopi mengusap-usap punggung Boy, yang lain juga menepuk-nepuk bahu Boy untuk memberikan kekuatan. Wajah mereka sendu, ikut bersedih, berbeda dengan Mama Boy, dia tampak biasa saja, tak ada kesedihan dalam dirinya.
Tetangga, rekan bisnis, dan kolega, semuanya berkumpul, mereka kebanyakan memakai baju hitam. Setelah semuanya berkumpul dan semuanya disiapkan, papa Boy pun siap di makam kan.
Papa Boy pun dimakamkan.
Setelah dimakamkan, Boy masih bersedih dan berjongkok di makam itu, di temani oleh Oma dan Lopi di kiri dan kanan Boy. Katia dan Icha berdiri di samping Lopi. Sedangkan Mamanya hanya diam mematung saja, tanpa menghibur.
Di sebalik pohon, tampaklah seseorang dengan senyum jahat dan tertawa dalam hatinya melihat pemandangan itu.
__ADS_1
***
Beberapa hari berlalu...
Di kampus. Geng motor Boy pada berkumpul, mereka belasungkawa kepada Boy, ada sebagian yang tidak hadir di pemakaman karena sibuk dan sebagian keluar kota. Bahkan, Icha pun juga ikut menghampiri Boy bersama Katia ke kampus Boy, mereka bolos dari kampus.
Kini, mereka semua sedang berkumpul di kedai Kak Delvia. Icha memesan bakso dan Katia memesan soto, yang lain juga banyak yang memesan soto, karena soto Kak Delvia sangatlah enak.
Khusus untuk Boy, Icha memesankan bakso beranak yang sangat pedas.
Boy sudah agak membaik, walaupun jika sendirian, dia akan bersedih, setidaknya jika berkumpul begini, dia tidak sedih lagi.
“Gimana? Enak nggak rasanya? Kamu suka 'kan?” tanya Icha tersenyum manis. Boy mengangguk sambil mengunyah bakso dan satu biji cabe rawit merah.
Mereka semua pun makan bakso dan soto bersama.
Sepulang kuliah, Icha mengajak Boy jalan-jalan, agar segera lepas dari rasa bersedihnya, karna besok adalah hari minggu weekend.
“Boy, kita jalan ya, minggu besok?”
“Baiklah,” jawab Boy, meng-iyakan ajakan Icha.
__ADS_1
Akan tetapi, saat Icha meminta izin keluar pada hari itu pada Mamanya, dia tidak mendapatkan izin sama sekali. Icha yang terlanjur berjanji dan tak ingin membuat Boy sedih karena dia baru saja kehilangan ayahnya, memutuskan untuk pergi tanpa izin ibunya.
Icha diam-diam pergi, keluar dari kamar menurun dengan tirai jendela, memanjat pagar samping rumah, agar tidak ketahuan, lalu mengirim pesan pada Boy, kalau dia menunggu di minimarket yang cukup jauh dari rumahnya.
“Kok nunggu di sini? Kenapa nggak jemput di rumah aja?” tanya Boy saat sudah sampai di hadapan Icha.
“Iya, tadi kebetulan ada perlu beli sesuatu di sini, jadi sekalian aja, dari pada bolak balik,” jawab Icha memberikan alasan.
“Oh, padahal, aku nggak merasa repot kok, jika bolak balik demi kamu!” Boy tersenyum, membuat Icha memukul bahunya.
“Dasar gombal!” ucap Icha manja.
“Ya udah, yuk berangkat!” ajak Boy, memberikan helm pada Icha.
“Yuk!” Icha memasang helm yang diberikan Boy padanya.
Mereka pun segera berlalu dari sana dengan motor besar berwarna hijau milik Boy.
Sedangkan di rumah Icha. “Cha! Buka pintunya, Mama mau ngomong!” seru Mama Icha menggedor-gedor pintu kamar putrinya.
Semenjak minta izin, Icha mengurung diri di dalam kamarnya. “Kalau kamu nggak buka pintu, Mama minta Pak Umar dobrak pintu, nih! Buka Cha!” teriak nya lagi.
__ADS_1
Hening, tak ada jawaban. Akhirnya, Mama Icha memanggil satpam rumah mereka, dan meminta pria itu mendobrak pintu. Mama ica naik pitam, saat melihat jendela kamar putrinya terbuka dengan kain tirai yang terikat ke arah bawah.
“Ichaaaaaaa!” teriak Mama Icha marah. Dia tidak menyangka putrinya akan berprilaku seperti ini, semenjak kenal dengan Boy, putrinya benar-benar berubah menjadi lebih buruk.