
Boy masih gemetaran melihat tangannya sendiri, dia benar-benar tidak terkendali tadi. Melihat Icha yang berlari keluar rumah sakit. Boy pun mengejar Icha.
“Cha, tunggu!" teriak Boy mengejar Icha yang berlari.
Walau pun tadinya Icha sudah cukup dulu berlari, namun kenyataannya langkah kakinya yang pendek kalah dengan langkah kaki Boy yang lebih panjang dan cepat. Boy bisa menyusul Icha. Dia memegang tangan gadis yang tengah marah itu.
“Cha, maaf. Aku sungguh tidak sengaja, aku benar-benar khilaf, tadi aku kalut dan terbawa emosi, maafkan aku Cha,” ucap Boy memegang tangan Icha.
Icha menghempaskan tangan Boy dengan kasar. Sejujurnya, Icha tak ingin meninggalkan Katia sendirian sekarang, tetapi dia juga harus menenangkan hati dan pikirannya terlebih dahulu sebelum semakin berantakan.
“Cha, maafin aku,” ucap Boy kembali. Dia kembali memegang tangan Icha
Icha pun juga menepisnya kembali. “Lepas, tinggalkan aku sendiri! Aku butuh waktu!” cicit Icha.
__ADS_1
“Baiklah,” sahut Boy. Dia pun melepaskan tangan Icha dan meninggalkan Icha sendirian. Boy mengerti, mereka semua sekarang butuh waktu untuk menenangkan hati dan pikiran masing-masing.
Setelah cukup tenang, Icha kembali masuk ke dalam rumah sakit, menemui Katia. Dia tidak mungkin meninggalkan sahabat karibnya itu sendirian, membiarkan dia larut dalam keterpurukan kesedihan yang dalam. Icha menutup masalahnya dengan Boy tadi sejenak, demi menghibur Katia.
Ayah dan Ibu Lopi baru saja datang. Mereka berdua berlari-lari di lorong rumah sakit, sampai dia menemukan tubuh Lopi yang dingin. Ya, barusan dokter mengatakan Lopi telah meninggal dunia.
“Lopi! Jangan tinggalin Mama Nak ....” tangis sang Ibu histeris. Dia memeluk tubuh diam Lopi yang tak ada tanda kehidupan lagi.
Ayah Lopi mengusap air matanya yang tiada henti keluar, sambil menenangkan istrinya yang histeris. “Sayang, tenanglah,” bisiknya pada sang istri.
“Mama!" Suaminya menjadi panik.
Katia juga menangis, tetapi tidak separah Ibunya Lopi. Boy minta maaf kepada kedua orangtua Lopi dan Katia juga.
__ADS_1
“Boy, ini semua bukan salahmu, memang sudah takdirnya,” jawab Katia. “Aku tidak menyangka balapan terakhir yang dia ucapkan memang balapan terakhir untuk selamanya.” Katia menghapus air matanya.
Dia sangat menyayangkan kenapa Icha begitu memojok dan menyalahkan Boy, balapan ini bukan paksaan dari Boy, memang Lopi yang ingin ikut balapan, walaupun dibumbui dengan candaan dibilang cemen, tetapi itu bukan paksaan.
“Jangan menyalahkan dirimu, kamu tidak salah apa-apa, Nak!” Ayah Lopi menepuk pundak Boy. “Siapa yang tahu akan umur manusia, hanya Sang Pencipta lah yang memiliki rahasianya, kami ikhlas kok, walaupun sedih, kamu adalah sahabat terbaik Lopi, terimakasih sudah menjadi temannya selama ini, maafkan dia jika ada perkataan atau perbuatan yang pernah salah darinya,” ungkap ayah Lopi. Ibu Lopi masih terbaring lemas sesuai pingsan.
Akhir nya Lopi pun dimakamkan. Semua geng motor datang, Ibu dan ayah Katia juga, kelaurga Boy dan Icha juga datang ke acara pemakaman itu. Boy hanya melirik Icha sekilas. Lalu, di akhir acara pemakaman. Icha minta maaf kepada Katia soal kemaren.
“Iya, tidak apa-apa Cha, kamu juga oasti sedang kalut, aku mengerti,” balas Katia lesu.
Saat semua pergi, Boy mengikuti Icha dan menggenggam tangan gadis itu. “Cha,” panggil Boy.
Icha menghempaskan tangan itu. “Jangan pernah temui aku lagi, Boy!” seru Icha.
__ADS_1
“Apa!” sentak Boy.