
“Kenapa terkejut begitu? Memangnya kalian tidak berniat menikah?” tanya Oma.
“Maaf Oma, bukan tidak berniat, tapi ini terlalu cepat, nanti saja, jika Icha sudah lulus kuliah,” jawab Boy.
“Oh begitu. Baguslah. Oma tidak sabar ingin melihat cicit Oma. Hehehehe.” Oma terkekeh kecil. “Oh ya, kemarin Oma ngobrol sama keluarga teman kamu Lopi, dia mau melamar pacarnya, jadinya Oma juga penasaran sama kamu.”
Setelah selesai makan dan berbincang-bincang, malam pun tak terasa telah datang menyapa mereka.
“Sudah malam Oma. Icha permisi balik pulang dulu, ya!” sentaknya terkejut karena sudah menunjukkan pukul 9.30 malam.
“Iya Cu, biarkan Boy yang mengantar, dan kamu hati-hati mengantar cucu menantu Oma, oke!” Oma menatap Boy dan Icha bergantian.
“Oke, Oma!” Boy dan Icha pun saling bersalaman dan mencium punggung tangan Oma saat beranjak pergi.
“Oma, aku langsung pulang ke rumahku, ya!” sorak Boy saat hendak melajukan mobilnya.
“Iya, ” balas Oma.
Kali ini, Boy tidak memakai motor hijau besarnya untuk mengantar Icha pulang ke rumah. Dia menggunakan mobil keren pemberian sang Oma.
__ADS_1
“Mobil Oma keren, ya,” puji Icha.
“Ini mobilku,” jawab Boy.
“Masa sih?” Icha tak percaya.
“Kenapa tidak percaya?” Boy menoleh pada Icha sekilas sambil menyetir mobil.
“Motormu saja rubah ini itu, tentu saja mobil.bakalan di modifikasi dan dikasih ini itu. Sedangkan mobil ini polos!” kata Icha.
“Karena sangat jarang dipakai, aku lebih suka motor,” sahut Boy. Setelah berbincang sedikit, Icha dan Boy pun sama-sama diak cukup lama.
“Ah, itu- aku teringat pertanyaan Oma tadi. Apakah mungkin kita bisa menikah?” tanya Icha.
“Tergantung niat, Sayang! Kalau berniat pasti kita bisa menikah,” jawab Boy.
“Gitu ya, aku masih lama kuliah, butuh waktu beberapa tahun lagi, dan Mama pasti ingin aku bekerja dan sukses dulu,” gumam Boy.
“Ya, itu bagus. Tidak apa-apa. Tidak usah terlalu dipikirkan keinginan Oma. Kamu fokus kuliah aja dulu, mempertahankan nilai bagus, agar Mama kamu tidak marah dan kecewa,” ungkap Boy tersenyum. “Aku juga ingin sukses dulu, tidak tergesa-gesa kok. Aku akan bekerja keras, agar kehidupan kita nanti mapan!” Boy tersenyum pada Icha.
__ADS_1
“Mm ... anu--”
“Apa?” Boy tampak penasaran.
“A-ku dijodohkan oleh mamaku,” ucap Icha terbata.
“Dijodohkan?" Alis Boy berkerut, dia tidak percaya dengan apa yang di dengar barusan.
Suasana kembali hening mencekam, mereka berdua larut dalam pikiran masing-masing. “Cha, aku benar-benar menyayangi. Aku berharap, kau bisa menungguku? Aku akan sekuat tenaga berjuang, aku akan mencari cara agar Mamamu merestuinya hubungan kita, aku tak akan bisa jika kau bersama yang lain, Cha.” Boy meyakinkan Icha dalam permohonan nya.
Boy menepikan mobil, menggenggam tangan Icha dan mengecup kedua tangan Icha. “Sayang kamu yakin padaku 'kan?”
Icha mengangguk lemah. “Aku sayang banget sama kamu,” kata Icha.
“Aku juga, aku sayang banget sama kamu, Cha,” balas Boy.
Wajah mereka berdua pun saling mendekat, entah siapa yang memulai terlebih dahulu. Yang pasti, bibir mereka berdua kini sudah bertemu, mereka saling berciuman bibir dengan mesra di dalam mobil. Ciuman yang lembut dan hangat, tetapi memabukkan.
Mereka berdua menghabiskan waktu berciuman hampir tiga puluh menit di dalam mobil, hingga Icha dan Boy sampai di rumah hampir jam 12 malam.
__ADS_1
Saat mobil Boy sampai di depan gerbang rumah Icha, mereka berdua sudah di sambut Mama Icha dengan berkacak pinggang.